Luhut Sebut Omicron Bukan Satu-satunya Sumber Ketidakpastian di 2022
Senin, 20 Desember 2021 - 19:26 WIB
loading...
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Kemunculan Covid-19 varian Omicron memicu ketidakpastian dan berpotensi mengganggu pemulihan ekonomi pada 2022 jika penanganannya tidak optimal. Namun, Omicron bukan satu-satunya penyebab ketidakpastian pada tahun mendatang.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan, pemulihan ekonomi dan transformasi Indonesia harus dilakukan secara berdampingan demi terwujudnya pemulihan ekonomi yang inklusif pada tahun 2022.
“Virus varian Omicron tidak akan menjadi satu-satunya sumber ketidakpastian pada 2022,” kata Luhut dalam keterangan resmi yang diterima MNC Portal Indonesia (MPI), Senin (20/12/2021).
Baca juga: Rumah Sakit AS Kewalahan, Tak Bisa Tampung Lonjakan Pasien Omicron
Luhut menyampaikan, dengan meningkatnya inflasi global termasuk di Amerika Serikat (AS), The Fed dan bank sentral lainnya mulai mengurangi stimulus. Hal ini akan mengakibatkan likuiditas yang tersedia lebih rendah untuk emerging markets seperti Indonesia.
Kemudian masalah ekonomi domestik China seperti gagal bayar properti juga berpotensi berdampak pada Indonesia karena China merupakan tujuan ekspor utama Indonesia.
Baca juga: Uang Rp4,46 Triliun Menghilang, Perusahaan Properti China Kena Tipu
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan, pemulihan ekonomi dan transformasi Indonesia harus dilakukan secara berdampingan demi terwujudnya pemulihan ekonomi yang inklusif pada tahun 2022.
“Virus varian Omicron tidak akan menjadi satu-satunya sumber ketidakpastian pada 2022,” kata Luhut dalam keterangan resmi yang diterima MNC Portal Indonesia (MPI), Senin (20/12/2021).
Baca juga: Rumah Sakit AS Kewalahan, Tak Bisa Tampung Lonjakan Pasien Omicron
Luhut menyampaikan, dengan meningkatnya inflasi global termasuk di Amerika Serikat (AS), The Fed dan bank sentral lainnya mulai mengurangi stimulus. Hal ini akan mengakibatkan likuiditas yang tersedia lebih rendah untuk emerging markets seperti Indonesia.
Kemudian masalah ekonomi domestik China seperti gagal bayar properti juga berpotensi berdampak pada Indonesia karena China merupakan tujuan ekspor utama Indonesia.
Baca juga: Uang Rp4,46 Triliun Menghilang, Perusahaan Properti China Kena Tipu
Lihat Juga :