Uang Kripto Senilai Rp5,68 Triliun Raib Dicuri Hacker Korea Utara

Sabtu, 15 Januari 2022 - 14:30 WIB
loading...
Uang Kripto Senilai...
Hacker Korea Utara dalam sebuah laporan disebutkan telah mencuri aset digital senilai hampir USD400 Juta atau setara Rp5,68 Triliun (Kurs Rp14.213 per USD). Foto/Ilustrasi
A A A
NEW YORK - Hacker Korea Utara (Korut) dalam sebuah laporan disebutkan telah mencuri aset digital senilai hampir USD400 Juta atau setara Rp5,68 Triliun (Kurs Rp14.213 per USD), setidaknya dalam tujuh serangan siber terhadap platform cryptocurrency tahun 2021 lalu. Laporan ini disampaikan oleh perusahaan analisis Blockchain Chainalysis, dimana Ia juga menyebutkan pencurian uang kripto itu merupakanterbesar yang pernah dilakukan oleh penjahat siber dari Asia Timur.

Baca Juga: Hacker Korut Obrak-abrik Keamanan Siber Perusahaan Vaksin AstraZeneca

Seperti dikutip dari BBC, serangan siber itu menargetkan perusahaan investasi dan platform pertukaran. Korea Utara membantah terlibat dalam serangan siber, dan menolak dikait-kaitkan dengannya.

"Dari 2020 hingga 2021, jumlah serangan siber terkait Korea Utara melonjak dari empat menjadi tujuh, dan nilai yang diekstraksi dari peretasan ini tumbuh sebesar 40%," kata Chainalysis dalam sebuah laporan.

Para hacker menggunakan sejumlah teknik, termasuk umpan phishing, eksploitasi kode dan malware untuk menyedot dana dari dompet "panas" organisasi dan kemudian memindahkannya ke alamat yang dikendalikan Korea Utara, kata perusahaan itu.

Dompet Cryptocurrency yang terhubung ke internet dan jaringan cryptocurrency disebut rentan terhadap aksi serangan siber. Mereka digunakan untuk mengirim dan menerima cryptocurrency, dan memungkinkan pengguna untuk melihat berapa banyak token yang mereka miliki.

Uang Kripto Senilai Rp5,68 Triliun Raib Dicuri Hacker Korea Utara


Banyak ahli merekomendasikan memindahkan sejumlah besar cryptocurrency yang tidak diperlukan sehari-hari ke dompet pasif yang terputus dari jaringan internet yang lebih luas. Chainalysis mengatakan, kemungkinan bahwa banyak serangan siber tahun lalu dilakukan oleh apa yang disebut Lazarus Group, sebuah kelompok hacker yang telah dipantau oleh Amerika Serikat (AS)

Kelompok hacker ini diyakini dikendalikan oleh biro intelijen utama Korea Utara, the Reconnaissance General Bureau. Lazarus Group sebelumnya telah dituduh terlibat dalam serangan ransomware "WannaCry", peretasan bank internasional dan akun pelanggan serta serangan siber terhadap Sony Pictures pada tahun 2014, silam.

"Begitu Korea Utara mendapatkan hak pengelolaan dana, mereka memulai proses pencucian dengan hati-hati untuk menutupi dan menguangkannya," tambah laporan tentang serangan siber tahun lalu itu.

Baca Juga: Kim Kardashian dan Floyd Mayweather Digugat Investor Atas Dugaan Penipuan Kripto

Sebuah panel PBB yang memantau sanksi terhadap Korea Utara menuduh Pyongyang menggunakan dana curian untuk mendukung program nuklir dan rudal balistiknya sebagai cara untuk menghindari sanksi internasional.

Secara terpisah, pada bulan Februari tahun lalu, AS mendakwa tiga pemrogram komputer Korea Utara karena melakukan serangan siber skala besar yang bertujuan mencuri lebih dari USD1,3 miliar dan cryptocurrency. Serangan siber telah mengancam hampir seluruh perusahaan dari bank hinggga ke studio film Hollywood, kata Departemen Kehakiman.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perluas Akses Investasi...
Perluas Akses Investasi Crypto di Indonesia, TRIV Group Gandeng Indomaret
Perketat Manajemen Risiko...
Perketat Manajemen Risiko Trading Derivatif Crypto lewat Lima Fitur Unggulan
Meningkatkan Keamanan...
Meningkatkan Keamanan dan Kepercayaan Industri Kripto Bersama Aparat Penegak Hukum
Bantu Pahami Karakteristik...
Bantu Pahami Karakteristik Aset, Auto DCA Explore Plans Bikin Investasi Rutin Terarah
Pengguna Baru Pintu...
Pengguna Baru Pintu Futures Naik 37% di Tengah Volatilitas Pasar Crypto
Harga Bitcoin Ambles...
Harga Bitcoin Ambles di Bawah USD90.000 saat Investor Harap-harap Cemas
Serangan kian Masif,...
Serangan kian Masif, Pembentukan UU Keamanan Siber Tak Bisa Lagi Ditunda
Perkuat Keamanan Siber...
Perkuat Keamanan Siber Nasional, Teknologi dari Korsel Dihadirkan
18 Juta Serangan Siber...
18 Juta Serangan Siber Mengguncang Asia Tenggara, Indonesia Diserang 3 Juta Kali
Rekomendasi
Lewis Hamilton Ubah...
Lewis Hamilton Ubah Segalanya F1 dengan Budaya Lowrider
Cover Musik Jadi Cara...
Cover Musik Jadi Cara Generasi Digital Menunjukkan Kreativitas
9 Negara yang Memiliki...
9 Negara yang Memiliki Anggaran Terbesar Mengembangkan Bom Nuklir
Berita Terkini
Pertamax Naik Rp3.950...
Pertamax Naik Rp3.950 Jadi Rp16.250/Liter, Ini Daftar Lengkap Harga BBM di SPBU Pertamina
Harga BBM Pertamax Cs...
Harga BBM Pertamax Cs Resmi Naik per Rabu 10 Juni 2026, Pertalite dan Solar Subsidi Tetap
BI Rate Naik Demi Menahan...
BI Rate Naik Demi Menahan Tekanan Rupiah dan Capital Outflow
Dirut Perkebunan Nusantara...
Dirut Perkebunan Nusantara III Dorong Pemuda Jadi Motor Transformasi Perkebunan
Ekonom: Kebijakan BI...
Ekonom: Kebijakan BI dan Pemerintah Memperkuat Rupiah Sudah Tepat
10 Presiden Terkaya...
10 Presiden Terkaya Sepanjang Sejarah AS, Trump Jauh Lebih Unggul dari Pendahulunya
Infografis
Megawati Hangestri Gabung...
Megawati Hangestri Gabung Hyundai Hillstate di Liga Voli Korea Selatan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved