Bikin Ghozali Jadi Miliarder Cuman Jualan Foto Selfie, Apa Sih NFT?

Minggu, 16 Januari 2022 - 11:38 WIB
loading...
Bikin Ghozali Jadi Miliarder...
Penasaran dengan Ghozali Ghozalu yang sukses meraup keuntungan hingga Rp1,5 miliar dari penjualan foto selfie NFT dirinya. Ingin tahu apa itu NFT yang membuat Ghozali jadi miliarder, begini penjelasannya. Foto/Dok
A A A
LONDON - Penasaran dengan seorang pemuda bernama Sultan Gustaf Al Ghozali atau dikenal Ghozali Ghozalu yang sukses meraup keuntungan hingga Rp1,5 miliar dari penjualan foto selfie NFT dirinya. Setidaknya hingga saat ini sudah ada 230 NFT miliknya yang terjual. Penasaran apa itu NFT yang membuat Ghozali jadi miliarder , begini penjelasannya.

Token non-fungible (NFTs) merupakan sejenis aset digital, yang kepopulerannya terus meledak pada tahun ini ketika karya seni NFT dijual seharga jutaan dolar. Tren ini membingungkan dan banyak dari kita mungkin bertanya-tanya mengapa uang dengan jumlah besar dihabiskan untuk barang-barang yang hanya ada dalam bentuk digital dan dapat dilihat oleh siapa saja secara gratis.

Baca Juga: Jawaban Ghozali Usai Disenggol Ditjen Pajak Gegara Raup Miliaran dari NFT

Tapi bagi mereka yang mendukung pengembangan digital melihat NFTs sebagai fase berikutnya dalam koleksi seni. NFT adalah aset digital yang ada di blockchain, dimana catatan transaksi tersimpan dalam jaringan komputer. Blockchain berfungsi sebagai buku besar, yang memungkinkan siapa pun untuk memverifikasi keaslian NFT dan siapa yang memilikinya.

Jadi tidak seperti kebanyakan item digital yang dapat direproduksi tanpa henti, setiap NFT memiliki tanda tangan digital unik, yang berarti itu hanya ada satu dari jenisnya. NFT biasanya dibeli dengan cryptocurrency atau mata uang kripto dan bisa juga dalam bentuk dolar serta blockchain menyimpan catatan transaksi.

Sementara siapa pun dapat melihat NFT, tapi hanya pembeli yang memiliki status sebagai pemilik resmi atau semacam hak untuk membuat dan memakainya secara digital. Namun membeli gambar NFT atau video biasanya tidak berarti pembeli mendapatkan hak cipta dari item tersebut.

Apa Saja Bentuk NFT?

Semua jenis objek digital, mulai dari gambar, video, musik, teks dan bahkan tweet dapat dibeli dan dijual sebagai NFTs. Seni digital telah mencetak penjualan terbesar, sedangkan dalam bidang olahraga memungkinkan para fans dapat mengumpulkan dan memperdagangkan NFT yang berkaitan dengan pemain atau tim tertentu.

Misalnya, pada platform National Basketball Association Top Shot, penggemar dapat membeli NFTs koleksi dalam bentuk video momen dari pertandingan. Sementara cuplikan pertandingan dapat dilihat secara gratis di platform lain seperti YouTube, orang membeli status sebagai pemilik NFT tertentu, dengan keunikannya karena tanda tangan digital.

Baca Juga: Simak! 5 Fakta NFT yang Bikin Ghozali Jadi Miliarder Dadakan

NFTs juga bisa berupa anah di lingkungan dunia maya, pakaian digital, atau penggunaan eksklusif untuk dompet cryptocurrency atau mata uang kripto.

Tweet pertama dari bos Twitter Jack Dorsey – "just setting up my twttr"" – dijual seharga USD2,9 juta yang jika dirupiahkan berarti senilai Rp41,21 miliar (Kurs Rp14.211 per USD) sebagai NFT pada bulan Maret.

Berapa Besar Pertumbuhannya?

Diperdagangkan sejak sekitar 2017, NFTs melonjak popularitasnya pada awal 2021, kemudian mengalami lompatan eksplosif sekitar Agustus 2021. Volume penjualan melonjak menjadi USD10,7 miliar atau setara dengan Rp152,06 triliun pada kuartal ketiga 2021, menurut data dari DappRadar. Angka tersebut naik lebih dari delapan kali lipat dari kuartal sebelumnya.

Di pasar NFT terbesar yakni OpenSea, tercatat penjualnya tembus USD2,6 miliar senilai Rp36,9 triliun pada Oktober 2021, atau meningkat besar dari USD4,8 juta pada Oktober 2020.

Saat kebijakan lockdown memaksa orang untuk menghabiskan lebih banyak waktu di rumah bersama dengan internet. NFTs dipandang sebagai cara untuk memiliki harta di lingkungan online dan virtual, yang dapat menunjukkan status sosial dan selera pribadi –bagi sebagian orang, membeli produk digital setara sepasang sepatu kets mahal.

Bagi yang lain, iming-iming keuntungan berlipat membuatnya rela membeli dengan harga mahal. Beberapa pembeli "membalik" NFTs, dengan menjualnya dalam beberapa hari atau hanya hitungan berjam untuk mendapatkan keuntungan.

Kenaikan harga baru-baru ini dalam cryptocurrency atau mata uang kripto seperti bitcoin, yang melonjak sekitar 300% pada tahun 2020, juga telah menciptakan kelompok investor kaya baru dari kripto, yang menghabiskan cryptocurrency mereka di NFTs.

Mengapa NFTs Digemari?

Para penggunanya melihat NFTs sebagai masa depan kepemilikan. Semua jenis produk properti – dari tiket pertunjukan hingga rumah – pada akhirnya akan memiliki status kepemilikan mereka dengan cara tokenised yang mereka percaya.

Bagi seniman, NFTs dapat memecahkan masalah bagaimana mereka dapat memonetisasi karya seni digital. Mereka dapat menerima lebih banyak pendapatan dari NFTs, karena mereka bisa mendapatkan royalti setiap kali NFT berpindah tangan setelah penjualan awal. NFTs juga dapat mengubah industri musik, olahraga, dan game, kata para pendukung NFTs.

Apa Risikonya

Seperti mata uang kripto, NFTs sebagian besar tidak ada aturan. Siapa pun dapat membuat dan menjual NFT dan tidak ada jaminan nilainya. Kerugian dapat menumpuk jika hype mereda. Di pasar di mana banyak peserta menggunakan nama samaran, penipuan juga menjadi risiko.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Elon Musk Jadi Kuadriliuner...
Elon Musk Jadi Kuadriliuner Pertama di Dunia, Seberapa Banyak Uangnya?
Implementasi PP TUNAS...
Implementasi PP TUNAS Harus Bisa Jaga Daya Saing Generasi Muda di Ekonomi Digital
Gaya Hidup Miliarder,...
Gaya Hidup Miliarder, Begini Cara Keluarga Trump Membelanjakan Hartanya
Bukan Sekadar Digitalisasi,...
Bukan Sekadar Digitalisasi, Kini Operasional Bisnis Harus Otonom
Jembatan Brand dan Konsumen...
Jembatan Brand dan Konsumen di Era Digital, Belicept Hadir sebagai Official Collaboration Store
Peluang Investasi Startup...
Peluang Investasi Startup di Era Tech Winter
Denny JA Soroti Kerusuhan...
Denny JA Soroti Kerusuhan Agustus 2025 dalam Perspektif Kelas Rentan Digital
Menkomdigi Ajak Generasi...
Menkomdigi Ajak Generasi Muda Jadi Duta Internet Sehat dan Lawan Kejahatan Digital
Elon Musk Triliuner...
Elon Musk Triliuner Pertama di Dunia, Kekayaannya Rp19.706,5 Triliun Setara 73 Kali Anggaran MBG
Rekomendasi
Bareskrim: Alamat Server...
Bareskrim: Alamat Server Judi Online Hayam Wuruk di Brasil, China, hingga Vietnam
Benarkah Fruktosa dalam...
Benarkah Fruktosa dalam Buah Bisa Memicu Asam Urat? Ini Penjelasan Guru Besar IPB
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
Berita Terkini
BSSN, ABI dan PINTU...
BSSN, ABI dan PINTU Perkuat Sinergi Jamin Keamanan Transaksi Digital
IHSG Ambruk 4,55% dalam...
IHSG Ambruk 4,55% dalam Sepekan, Ini Saham-saham yang Cuan dan Boncos
Investor Saham Meningkat,...
Investor Saham Meningkat, Stockbit Andalkan Keamanan Berlapis
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp5.000, Buyback Melesat Rp38.000 per Gram
Cegah Kebocoran Devisa...
Cegah Kebocoran Devisa Hasil Ekspor, DSI Fokus Dongkrak Penerimaan Negara
Salah Pilih Rekening...
Salah Pilih Rekening Tujuan? Cara Batalkan Pencairan Pinjaman Kredivo
Infografis
Zion Suzuki, Tembok...
Zion Suzuki, Tembok Samurai Biru yang Bikin Belanda Frustrasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved