Perang! Ukraina Jadi Abu, Rusia Jadi Arang: Kedodoran Bayar Utang

Kamis, 10 Maret 2022 - 20:16 WIB
loading...
Perang! Ukraina Jadi...
Perang membuat kemampuan Rusia membayar utang menjadi berkurang. Foto/Reuters
A A A
JAKARTA - Perang: Menang jadi arang kalah jadi abu. Itulah pemeo yang menggambarkan perang Rusia-Ukraina saat ini. Ketika Ukraina hancur lebur dibombardir Rusia, Negeri Beruang Merah itu juga kedodoran ekonominya.

Baca juga: Rusia, Raksasa Militer Dunia Tanpa Kapal Induk

Sanksi ekonomi yang datang bertubi-tubi dari Amerika Serikat dan para sekondannya di Benua Biru, membuat Rusia terancam gagal membayar utang-utangnya. Pandangan itu diungkap lembaga pemeringkat utang dunia, Fitch Ratings.

Dikutip dari BBC, Kamis (10/3/2022), Fitch Ratings menurunkan penilaiannya terhadap utang Rusia, sembari menyeru gagal bayar (default) "sudah dekat". Penurunan peringkat oleh Fitch dilakukan di tengah meningkatnya sanksi internasional terhadap Rusia.

Apalagi Moskow sendiri tampaknya sudah "angkat bendera putih" dengan mengatakan pembayaran obligasinya mungkin terpengaruh oleh sanksi. Pemotongan peringkat--dari B menjadi C--telah dilakukan Fitch dua kali di bulan ini sehingga sangat berpengaruh pada kemampuan Rusia melunasi utang.

"Tindakan pemeringkatan ini mengikuti penurunan peringkat kami. Pada 2 Maret, dan perkembangan sejak itu, dalam pandangan kami semakin melemahkan kemampuan Rusia untuk membayar utangnya," kata badan tersebut.

Pengumuman Fitch datang setelah AS dan Inggris mengatakan mereka akan melarang minyak Rusia, sebagai pengebirian ekonomi atas invasi Rusia ke Ukraina. Presiden AS Joe Biden mengatakan langkah itu menargetkan "arteri utama ekonomi Rusia". Uni Eropa sendiri sudah "mendeklarasikan" akan mengakhiri ketergantungannya pada gas Rusia.

Sebagai pengekspor utama energi, langkah-langkah tersebut bertujuan untuk memukul keuangan Moskow, meskipun para ahli memperingatkan aksi itu kemungkinan juga akan membakar harga minyak dan gas alam di pasar global.



Moskow mengatakan kepada investor bahwa mereka akan terus membayar utangnya. Namun, Moskow juga mewanti-wanti bahwa sanksi internasional yang dikenakan pada industri energinya dapat membatasi kemampuan dan kemauannya untuk memenuhi kewajiban.

"Kemungkinan untuk melakukan pembayaran akan tergantung pada tindakan pembatasan yang dilakukan oleh negara-negara asing," kata Kementerian Keuangan Rusia dalam sebuah pernyataan.

Dalam beberapa hari terakhir, lembaga pemeringkat lainnya, seperti Moody's Investors Service dan S&P Global Ratings juga telah memangkas penilaian mereka terhadap utang Rusia. Artinya, (surat) utang Rusia sekarang dianggap di bawah peringkat investasi, atau di wilayah "sampah".

S&P mengatakan tindakannya mengikuti langkah-langkah yang diyakini akan secara substansial meningkatkan risiko gagal bayar. Shane Oliver, dari perusahaan manajemen investasi AMP Capital, percaya bahwa default pada utang Rusia sudah terjadi secara efektif.

"Lagi pula, Rusia hanya akan membayar dalam rubel yang sangat terdepresiasi dan investor asing menjualnya dengan harga jual api (jauh di bawah harga pasar). Untungnya eksposur global terhadap rubel relatif rendah," katanya kepada BBC.

Baca juga: PNS Bisa Dapat Uang Pensiun Rp1 Miliar, Ini Skemanya!

Rubel Rusia juga mencapai rekor terendah karena negara-negara di seluruh dunia memberlakukan sanksi yang semakin keras. Bulan lalu, bank sentral Rusia menaikkan lebih dari dua kali lipat suku bunganya menjadi 20% dalam upaya untuk menghentikan kehancuran nilai mata uangnya.
(uka)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
UE Putar Haluan Kembali...
UE Putar Haluan Kembali ke Pelukan Rusia, Rogoh Dana Raksasa Rp123 Triliun demi LNG
Rusia Larang Ekspor...
Rusia Larang Ekspor Solar, Picu Kekhawatiran Baru di Pasar Energi Dunia
Serangan Drone Ukraina...
Serangan Drone Ukraina Lumpuhkan Jantung Kilang Minyak Rusia, Kelangkaan BBM Memburuk
Kemenkeu Bidik Raup...
Kemenkeu Bidik Raup Rp32 Triliun lewat Lelang Surat Utang Negara
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
BPDP Dukung Penguatan...
BPDP Dukung Penguatan Kemitraan Sawit Indonesia dengan Rusia
Pesawat Kiamat Rusia...
Pesawat Kiamat Rusia Mendarat di Teheran saat Iran-AS Perang, Apa Misinya?
Gagalkan Rencana Intelijen...
Gagalkan Rencana Intelijen Ukraina, Rusia Tangkap Dalang Serangan Drone Berbasis AI
Rekomendasi
Partai Perindo Tuntaskan...
Partai Perindo Tuntaskan SK Definitif 15 DPD Sulut, Mantapkan Persiapan Verifikasi Parpol
Gus Yahya Siap Mencalonkan...
Gus Yahya Siap Mencalonkan Kembali Jadi Ketum PBNU di Muktamar NU ke-35
AS Lancarkan Lebih Banyak...
AS Lancarkan Lebih Banyak Serangan ke Iran, Trump Kembali Blokade Selat Hormuz
Berita Terkini
Mengintegrasikan AI...
Mengintegrasikan AI Demi Mewujudkan Ekosistem Investasi Mass Market
UE Putar Haluan Kembali...
UE Putar Haluan Kembali ke Pelukan Rusia, Rogoh Dana Raksasa Rp123 Triliun demi LNG
Harga MinyaKita Tembus...
Harga MinyaKita Tembus Rp16.000 per Liter di Atas HET, Apa Sebabnya?
Kimia Farma Siapkan...
Kimia Farma Siapkan Rantai Layanan Hulu-Hilir Percepat Penanggulangan TB
Esgin dan Agraus Resources...
Esgin dan Agraus Resources Sinergi Garap Potensi Investasi Hijau dan Ekonomi Karbon
Kasus Hukum Febrie Momentum...
Kasus Hukum Febrie Momentum Audit Menyeluruh Tata Kelola Sawit Sitaan Negara
Infografis
3 Alasan Greenland Jadi...
3 Alasan Greenland Jadi Kunci AS untuk Perang Nuklir Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved