Daftar Produk Rusia yang Diboikot Usai Invasi ke Ukraina
Jum'at, 01 April 2022 - 22:20 WIB
loading...
A
A
A
Menyusul sanksi lanjutan untuk Rusia atas invasinya ke Ukraina, beberapa negara di dunia yang tergabung dalam G7 melancarkan boikot dan larangan impor terhadap beberapa produk dari Rusia.
Dilansir situs Fortune, Presiden AS, Joe Biden melarang impor beberapa produk Rusia seperti vodka, berlian, hingga Kaviar. Hal tersebut dilakukannya sebagai bentuk hukuman bagi Vladimir Putin yang masih enggan untuk mengakhiri invasinya dari Ukraina
4. Sumber Daya Alam
Setelah menerapkan sanksi ekonomi bersama dengan sekutunya, Amerika bergerak cepat langsung melarang impor sumber daya alam Rusia seperti, minyak, gas hingga batu bara. Kebijakan itu terpantau telah memotong sekitar 60% impor AS dari negara yang dipimpin Vladimir Putin.
Pada tahun 2021, AS tercatat mengimpor sekitar 245 juta barel minyak mentah dan produk minyak bumi dari Rusia, dimana dalam satu tahun itu terjadi peningkatan sebesar 24%, menurut Administrasi Informasi Energi AS.
"Ini adalah langkah penting untuk menunjukkan kepada Rusia bahwa energi ada di atas meja," kata Max Bergmann, mantan pejabat Departemen Luar Negeri.
Dilansir situs Fortune, Presiden AS, Joe Biden melarang impor beberapa produk Rusia seperti vodka, berlian, hingga Kaviar. Hal tersebut dilakukannya sebagai bentuk hukuman bagi Vladimir Putin yang masih enggan untuk mengakhiri invasinya dari Ukraina
4. Sumber Daya Alam
Setelah menerapkan sanksi ekonomi bersama dengan sekutunya, Amerika bergerak cepat langsung melarang impor sumber daya alam Rusia seperti, minyak, gas hingga batu bara. Kebijakan itu terpantau telah memotong sekitar 60% impor AS dari negara yang dipimpin Vladimir Putin.
Pada tahun 2021, AS tercatat mengimpor sekitar 245 juta barel minyak mentah dan produk minyak bumi dari Rusia, dimana dalam satu tahun itu terjadi peningkatan sebesar 24%, menurut Administrasi Informasi Energi AS.
"Ini adalah langkah penting untuk menunjukkan kepada Rusia bahwa energi ada di atas meja," kata Max Bergmann, mantan pejabat Departemen Luar Negeri.
(akr)
Lihat Juga :