Ancaman Perang Dingin AS-China Lebih Besar Ketimbang Virus
Senin, 22 Juni 2020 - 09:55 WIB
loading...
A
A
A
"Berbeda dari Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet, Perang Dingin baru antara AS dan China memiliki persaingan penuh dan decoupling yang cepat. Hubungan AS-China tidak lagi sama dengan beberapa tahun yang lalu, bahkan tidak sama dengan beberapa bulan yang lalu," ungkap Shi Yinhong
Konflik Meluas
Amerika bukan satu-satunya negara yang terlibat konflik dengan China. Minggu ini, ketegangan mencuat di perbatasan India-China, dengan sedikitnya 20 tentara India tewas dalam aksi kekerasan terburuk yang dialami kedua pihak dalam hampir 50 tahun.
Sementara itu, China telah secara aktif mendanai proyek-proyek ekonomi di Pakistan, Myanmar, Sri Lanka dan Nepal - tetangga terdekat India - yang telah menimbulkan kekhawatiran di Delhi bahwa Beijing berusaha untuk memotong pengaruhnya di kawasan itu.
Sachs mengakui, kebangkitan China menjadi perhatian bagi negara-negara tetangganya di Asia. "Apakah saya percaya bahwa China bisa berbuat lebih banyak untuk meringankan ketakutan yang sangat nyata? Ya," ungkapnya.
"Pilihan besar ada di tangan China. Jika China kooperatif, jika terlibat dalam diplomasi, kerja sama regional dan multilateralisme, dengan kata lain - kekuatan lunak - karena itu adalah negara yang sangat kuat .... maka saya berpikir bahwa Asia memiliki masa depan yang cerah," terang Sachs.
Konflik Meluas
Amerika bukan satu-satunya negara yang terlibat konflik dengan China. Minggu ini, ketegangan mencuat di perbatasan India-China, dengan sedikitnya 20 tentara India tewas dalam aksi kekerasan terburuk yang dialami kedua pihak dalam hampir 50 tahun.
Sementara itu, China telah secara aktif mendanai proyek-proyek ekonomi di Pakistan, Myanmar, Sri Lanka dan Nepal - tetangga terdekat India - yang telah menimbulkan kekhawatiran di Delhi bahwa Beijing berusaha untuk memotong pengaruhnya di kawasan itu.
Sachs mengakui, kebangkitan China menjadi perhatian bagi negara-negara tetangganya di Asia. "Apakah saya percaya bahwa China bisa berbuat lebih banyak untuk meringankan ketakutan yang sangat nyata? Ya," ungkapnya.
"Pilihan besar ada di tangan China. Jika China kooperatif, jika terlibat dalam diplomasi, kerja sama regional dan multilateralisme, dengan kata lain - kekuatan lunak - karena itu adalah negara yang sangat kuat .... maka saya berpikir bahwa Asia memiliki masa depan yang cerah," terang Sachs.
(akr)
Lihat Juga :