Mendag Lutfi: Indonesia Ingin Perdagangan Komoditas Dunia Ditata Ulang
Rabu, 25 Mei 2022 - 10:07 WIB
loading...
Mendag Muhammad Lutfi menyampaikan pandangannya soal perdagangan komoditas di ajang WEF 2022. Foto/Kemendag
A
A
A
JAKARTA - Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan, kejadian dunia yang sifatnya negatif dan insidentil, seperti perang di Ukraina, bukan menjadi penyebab terganggunya arus perdagangan komoditas yang membuat inflasi tinggi. Kejadian dunia itu hanya sebagai peringatan.
Baca juga: Mendag Paparkan Aturan Ekspor CPO Terkini dan Turunannya
Mendag Lutfi menegaskan kembali bahwa Indonesia, sejak beberapa tahun lalu, telah menyatakan bahwa perdagangan komoditas dunia harus ditata ulang. Pasalnya, struktur dan sistem pasar saat ini dinilai lebih berdampak buruknya dibanding manfaat.
"Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo sudah sejak lima tahun lalu menyatakan bahwa perdagangan komoditas dunia perlu ditata ulang. Struktur dan sistem yang dominan saat ini lebih banyak dampak buruknya dibandingkan manfaat. Khususnya bagi masyarakat di negara berkembang besar seperti Indonesia, Brazil, India dan China," kata Mendag Lutfi, saat menjadi pembicara di panel diskusi bertema "Absorbing Commodity Shocks" World Economic Forum (WEF) 2022 di Davos, Swiss, Rabu (25/5/2022).
Menurut Mendag Lutfi, yang dibutuhkan adalah perubahan mentalitas dalam memandang perdagangan bebas dunia sebagai lokomotif yang tidak bisa dilepaskan dari faktor-faktor non-ekonomi.
Konsep yang dikenal dengan ESG (environment, sustainability and governance) saat ini menjadi ukuran pertama dan utama bagi investor dalam menanamkan modalnya. Konsep ESG adalah pembangunan ekonomi berbasis pemeliharaan lingkungan, pembangunan yang berkesinambungan dan tata kelola.
Baca juga: Mendag Paparkan Aturan Ekspor CPO Terkini dan Turunannya
Mendag Lutfi menegaskan kembali bahwa Indonesia, sejak beberapa tahun lalu, telah menyatakan bahwa perdagangan komoditas dunia harus ditata ulang. Pasalnya, struktur dan sistem pasar saat ini dinilai lebih berdampak buruknya dibanding manfaat.
"Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo sudah sejak lima tahun lalu menyatakan bahwa perdagangan komoditas dunia perlu ditata ulang. Struktur dan sistem yang dominan saat ini lebih banyak dampak buruknya dibandingkan manfaat. Khususnya bagi masyarakat di negara berkembang besar seperti Indonesia, Brazil, India dan China," kata Mendag Lutfi, saat menjadi pembicara di panel diskusi bertema "Absorbing Commodity Shocks" World Economic Forum (WEF) 2022 di Davos, Swiss, Rabu (25/5/2022).
Menurut Mendag Lutfi, yang dibutuhkan adalah perubahan mentalitas dalam memandang perdagangan bebas dunia sebagai lokomotif yang tidak bisa dilepaskan dari faktor-faktor non-ekonomi.
Konsep yang dikenal dengan ESG (environment, sustainability and governance) saat ini menjadi ukuran pertama dan utama bagi investor dalam menanamkan modalnya. Konsep ESG adalah pembangunan ekonomi berbasis pemeliharaan lingkungan, pembangunan yang berkesinambungan dan tata kelola.
Lihat Juga :