CEO Deutsche Bank: Inflasi Adalah Racun Terbesar Bagi Ekonomi Global

Rabu, 22 Juni 2022 - 13:29 WIB
loading...
CEO Deutsche Bank: Inflasi...
CEO Deutsche Bank Christian Sewing mengatakan, kita perlu melawan inflasi karena pada akhirnya, inflasi adalah racun terbesar bagi perekonomian. Foto/Dok
A A A
FRANKFURT - Eropa dan Amerika Serikat (AS) menghadapi kemungkinan resesi ekonomi yang tinggi karena bank sentral dipaksa untuk secara agresif memperketat kebijakan moneter untuk memerangi inflasi . Pernyataan ini disampaikan oleh CEO Deutsche Bank Christian Sewing.

Federal Reserve AS, Bank Sentral Eropa, Bank Nasional Swiss, dan Bank of England semuanya bergerak untuk mengendalikan inflasi minggu lalu, meskipun dalam berbagai tingkatan.

Baca Juga: Utang Indonesia Tembus Rp7.000 Triliun, Sri Mulyani: Negara Lain Lebih Dramatis

Inflasi harga konsumen di zona euro mencapai rekor tertinggi pada level 8,1% di bulan Mei dan Bank Sentral Eropa telah mengkonfirmasi niatnya untuk mulai menaikkan suku bunga pada pertemuan Juli, mendatang.

Para pemimpin bank sentral dan ekonom di seluruh dunia telah mengakui bahwa pengetatan agresif yang mungkin diperlukan untuk mengendalikan inflasi dapat berisiko membuat ekonomi terjebak dalam resesi, saat pertumbuhan sudah melambat karena beragam faktor-faktor global lainnya.

Kedekatan Eropa dengan perang di Ukraina dan ketergantungannya pada impor energi Rusia membuat benua itu secara unik rentan terhadap konflik dan potensi penghentian aliran gas Rusia.

"Satu hal yang jelas: jika ada penghentian tiba-tiba gas Rusia, kemungkinan resesi datang lebih cepat, jelas jauh lebih besar. Tidak ada keraguan," kata Sewing kepada Annette Weisbach dari CNBC dalam sebuah wawancara eksklusif.

"Tetapi saya akan mengatakan bahwa secara keseluruhan, kita memiliki situasi yang menantang sehingga kemungkinan resesi juga terjadi di Jerman, atau di Eropa pada tahun 2023 atau tahun berikutnya. Lebih tinggi daripada yang telah kita lihat di tahun-tahun sebelumnya, dan itu bukan hanya dampak dari perang yang mengerikan ini, tetapi lihatlah inflasinya, lihat apa artinya itu bagi kebijakan moneter," paparnya.

Baca Juga: Ngerinya Dampak Inflasi AS: Bisa Munculkan Resesi Ekonomi

Seiring dengan inflasi yang disebabkan perang di Ukraina dan sanksi terhadap Rusia, rantai pasokan juga telah dihambat oleh kebangkitan kembali permintaan pasca-pandemi dan kembalinya langkah-langkah pengendalian Covid-19, terutama di China.

"Ini menjadi situasi yang sangat menantang sehingga kita memiliki tiga, empat pendorong yang dapat sangat berdampak pada ekonomi. Dimana semua itu bersatu dalam satu dan waktu yang sama, berarti bahwa ada cukup tekanan dan banyak tekanan pada ekonomi, dan karenanya kemungkinan resesi tidak hanya datang ke Eropa, tetapi juga di AS cukup tinggi," kata Sewing.

Inflasi Sangat Mencemaskan

Mengingat banyaknya tantangan yang ada, Sewing mengatakan dia semakin enggan untuk mengandalkan model tradisional karena ekonomi menghadapi "badai sempurna" dari "tiga atau empat tuas nyata yang dapat menyebabkan, yang pada akhirnya resesi."

Namun, Sewing mengatakan inflasi adalah kekhawatiran terbesar. "Saya akan mengatakan bahwa inflasi adalah sesuatu yang paling mengkhawatirkan bagi saya dan oleh karena itu saya berpikir bahwa sinyal yang kami dapatkan dari bank sentral, baik itu Fed tetapi sekarang juga ECB, adalah sinyal yang tepat," katanya.

"Kita perlu melawan inflasi karena pada akhirnya, inflasi adalah racun terbesar bagi perekonomian."

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Risiko Geopolitik dan...
Risiko Geopolitik dan Dampaknya terhadap Pasar Mata Uang
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Menakar Efek Domino...
Menakar Efek Domino Pertamax Rp16.250: Waspada Ancaman Inflasi
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
Mengenal Lipstick Effect,...
Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Sinergi Pemprov DKI...
Sinergi Pemprov DKI dan BI, Inflasi Jakarta Melandai pada Mei
Rekomendasi
Anang Hermansyah Kompak...
Anang Hermansyah Kompak Wisuda Bareng Ashanty dan Azriel di UNAIR, Raih Gelar S2 dan S3
Kelab Pantai Favorit...
Kelab Pantai Favorit di Bali, Klive Beach Club Menjadi Ikon Baru Uluwatu
Israel Bunuh Jurnalis...
Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera dalam Serangan Udara di Gaza, Menuduhnya Milisi Hamas
Berita Terkini
Industri Herbal Andalkan...
Industri Herbal Andalkan Figur Publik Perkuat Kepercayaan Konsumen
Tamaris Hidro Bidik...
Tamaris Hidro Bidik Dana Rp1 Triliun lewat Sukuk Ijarah
Dukung Pendanaan UMKM,...
Dukung Pendanaan UMKM, Easycash Perkuat Tata Kelola dan Manajemen Risiko
Harga Emas Antam Stagnan...
Harga Emas Antam Stagnan Hari Ini, Buyback Jadi Rp2,4 Juta per Gram
Transformasi Ekonomi...
Transformasi Ekonomi Progresif, Kepala BPS Canangkan Sensus Ekonomi di Maluku Utara
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung Literasi Pasar Modal melalui Seminar Nasional 'Lo Kheng Hong Investment Philosophy'
Infografis
3 Ancaman Terbesar Militer...
3 Ancaman Terbesar Militer AS, Paling Utama Adalah China
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved