Beban Menyusut, Kerugian Garuda Indonesia Berkurang 41,54 Persen
Senin, 01 Agustus 2022 - 07:54 WIB
loading...
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan anak usaha mencatatkan rugi sebesar USD224,66 juta di kuartal I/2022. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan anak usaha mencatatkan rugi sebesar USD224,66 juta di kuartal I/2022. Nilai tersebut setara Rp3,22 triliun (kurs Jisdor BI akhir tanggal pelaporan 31 Maret 2022).
Baca Juga: Perusahaan Katering Garuda Indonesia PHK 152 Karyawan, Ini Alasannya
Realisasi rugi maskapai penerbangan nasional itu lebih rendah 41,54% dibandingkan kuartal pertama tahun lalu senilai USD384,34 juta atau Rp5,51 triliun. Capaian ini dipicu adanya penyusutan sejumlah beban seiring penurunan pendapatan GIAA selama tiga bulan pertama tahun ini.
Pendapatan usaha perseroan tercatat sebesar USD350,15 juta atau Rp5,02 triliun, atau menyusut 0,82% dibandingkan periode tiga bulan awal tahun 2021 sebanyak USD353,07 juta. Demikian berdasarkan laporan keuangan GIAA di keterbukaan informasi, Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Senin (1/8/2022).
Kontribusi terbesar pemasukan GIAA berasal dari segmen penerbangan berjadwal yang mencapai USD270,57 juta, disusul penerbangan tidak berjadwal dan lainnya masing-masing sebesar USD24,07 juta, dan USD55,50 juta.
Baca Juga: Perusahaan Katering Garuda Indonesia PHK 152 Karyawan, Ini Alasannya
Realisasi rugi maskapai penerbangan nasional itu lebih rendah 41,54% dibandingkan kuartal pertama tahun lalu senilai USD384,34 juta atau Rp5,51 triliun. Capaian ini dipicu adanya penyusutan sejumlah beban seiring penurunan pendapatan GIAA selama tiga bulan pertama tahun ini.
Pendapatan usaha perseroan tercatat sebesar USD350,15 juta atau Rp5,02 triliun, atau menyusut 0,82% dibandingkan periode tiga bulan awal tahun 2021 sebanyak USD353,07 juta. Demikian berdasarkan laporan keuangan GIAA di keterbukaan informasi, Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Senin (1/8/2022).
Kontribusi terbesar pemasukan GIAA berasal dari segmen penerbangan berjadwal yang mencapai USD270,57 juta, disusul penerbangan tidak berjadwal dan lainnya masing-masing sebesar USD24,07 juta, dan USD55,50 juta.
Lihat Juga :