alexametrics

Perusahaan Produk Kecantikan Mulai Usung Konsep Bisnis Berkelanjutan

loading...
Perusahaan Produk Kecantikan Mulai Usung Konsep Bisnis Berkelanjutan
Foto/Istimewa
A+ A-
JAKARTA - Membangun ekosistem bisnis yang mengusung konsep keberlanjutan harus dilakukan perusahaan kecantikan secara konsisten. Hal ini direalisasikan melalui berbagai upaya dalam jangka menengah dan panjang.

Chairman dan CEO L’Oreal Jean-Paul Agon menuturkan, tantangan-tantangan yang dihadapi oleh bumi saat ini belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini menjadi teramat penting untuk mempercepat upaya pelestarian tempat tinggal yang aman bagi kemanusiaan.

Agon menambahkan, berbagai langkah diterapkan dalam kegiatan operasional bisnis sebagai kontribusi kepada masyarakat luas. Pihaknya memahami bahwa tantangan-tantangan besar lainnya akan datang. “Kami akan terus setia pada ambisi kami, beroperasi dalam batasan-batasan planet,” ujar Agon dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (26/6/2020). (Baca: ASEAN dan China Berseteru, Dua Kapal Induk AS Unjuk Kekuatan)



Sementara itu, Presiden Direktur L’Oreal Indonesia Umesh Phadke mengungkapkan, pihaknya telah mendefinisikan kembali operasional. Pihaknya menyadari bahwa pembangunan berkelanjutan merupakan pendorong inovasi.

“Apabila kami menempatkan sains dalam setiap strategi dan proses pengambilan keputusan, kami akan memiliki kapasitas untuk berkembang dan menyelesaikan banyak permasalahan yang mendesak,” kata Umesh.

Umesh melanjutkan, Sharing Beauty With All yang merupakan komitmen ambisius dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan telah mentransformasi bagaimana L’Oreal Indonesia menjalankan bisnis. "Kami akan terus berupaya mendorong hasil yang lebih baik melalui komitmen yang lebih kuat dalam L’Oreal For The Future," tegasnya.

Adapun menurut Communications, Public Affairs, and Sustainability Director L'Oreal Indonesia Melanie Masriel, implementasi "Sharing Beauty with All di Indonesia" lebih pada pembenahan secara internal, terutama untuk meminimalisasi emisi karbon dan water waste. (Baca: Kemenhub Bantah Sedang Siapan Regulasi Pajak Sepeda)

"Tujuh tahun sudah kami menjalani program ambisius ini dan semua pihak telah sangat fokus. Selesai tahun ini, kami tak ingin berhenti. Tak boleh ada waktu yang dibuang sia-sia," ujar Melanie.

Senada dengan pernyataan Agon, menurut Melanie, perusahaan ini mempercepat transformasi menuju model bisnis yang menghormati batasan-batasan planet dan memperkuat komitmen pembangunan berkelanjutan dan inklusinya. Buktinya, perusahaan ini telah mencanangkan tiga periode transformasi bisnis. “Pertama pada tahun 2025, di mana seluruh lokasi operasi L’Oreal akan mencapai karbon netral melalui peningkatan energi efisiensi dan menggunakan 100% energi terbarukan,” ujar Melanie.

Kedua, menurut Melanie, pada tahun 2030, 100% plastik yang digunakan pada kemasan produk L’Oreal merupakan hasil dari daur ulang atau berasal dari bahan berbasis bio (alam). Ketiga, pada tahun 2030 juga, L’Oreal akan mengurangi seluruh emisi gas rumah kaca sebanyak 50% per produk.

Selanjutnya perusahaan kosmetik ini berkontribusi untuk menyelesaikan tantangan-tantangan dunia dengan mendukung kebutuhan sosial dan lingkungan yang mendesak. Hal ini melalui perencanaan yang belum dilakukan sebelumnya yang diluncurkan pada bulan Mei 2020.

L’Oreal mengalokasikan dana 100 juta euro untuk menangani berbagai tantangan lingkungan. Sekitar 50 juta euro akan digunakan untuk memfasilitasi proyek restorasi ekosistem alami laut dan hutan melalui pendanaan L’Oreal Fund for Nature Regeneration. Operasionalnya akan dilakukan Mirova, rekanan dari Natixis Investment Managers, didedikasi untuk investasi berdampak baik. (Lihat videonya: Bantu Perekonomian Warga, Karang Taruna Gunung Kidul Dirikan Pasar Sedekah)

Sekitar 50 juta euro lainnya akan diarahkan untuk membiayai proyek-proyek terkait ekonomi sirkular. Kemudian, untuk membantu perempuan rentan, L’Oreal juga memberi dana bantuan sebesar 50 juta euro.

“Dana ini akan digunakan untuk mendukung organisasi dan badan amal lokal dalam usaha memerangi kemiskinan, membantu perempuan untuk mencapai integrasi sosial dan profesional, memberi pendampingan darurat untuk pengungsi dan perempuan difabel, mencegah kekerasan terhadap perempuan, serta membantu para korban,” ujar Melanie.

Demi membantu 1,5 miliar konsumen membuat pilihan lebih berkelanjutan, perusahaan ini juga telah mengembangkan mekanisme Label Produk Lingkungan dan Dampak Sosial. Praktiknya akan menggunakan nilai A sampai E. “A digunakan untuk produk yang dinilai terbaik berdasakan dampak lingkungan dan sosial. Metode tersebut disetujui ahli sains dan seluruh data telah diverifikasi auditor independen, Bureau Veritas Certification,” ujar Melanie.

Label dan nilai akan tersedia pada halaman produk. Menurut Melanie, merek pertama yang akan menerapkan metode tersebut tahun ini adalah Garnier untuk produk perawatan rambut. Label ini akan diterapkan secara progresif ke seluruh negara dan kategori. (Dwi Nur Ratnaningsih)
(ysw)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top