Singapura: Negeri Sempit tanpa Harta Karun, tapi Sangat Kaya Raya

Kamis, 01 September 2022 - 22:17 WIB
loading...
Singapura: Negeri Sempit...
Singapura merupakan salah satu negara yang memiliki pendapatan per kapita terbesar di dunia. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Singapura adalah negeri sedaun kelor. Pasalnya, luas negara ini hanya sekitar 722,5 km2, cuma lebih luas 62 km2 dibanding Jakarta. Meski punya lahan lebih luas, namun jumlah penduduknya kalah telak dibanding Jakarta.

Baca juga: Manuver Bersama 16 Negara, Tetangga Indonesia Ini Pelajari Banyak Jet Siluman F-35

Jumlah penduduk Singapura hanya 5,6 juta jiwa, sedangkan DKI lebih dari 10 juta jiwa. Malahan kalau siang hari, "jumlah penduduk" DKI bisa lebih banyak lagi, dengan masuknya para pekerja urban.

Sudah sempit, sebagian besar wilayah Singapura adalah dataran pantai dan rendah dengan bagian tengah terdapat perbukitan, seperti Bukit Mandai, Bukit Lanjang, Bukit Timah dan Bukit Kalang. Lantaran bentang alam seperti di atas menyebabkan harta karun atau jenis tambang dari Singapura hanya sedikit. Cadangan timah dan bijih besi yang dikandung di Singapura, jika ditambang, hasilnya tak akan mampu memenuhi kebutuhan.

Lagi pula, dengan luas yang kecil, tak memungkinan Pemerintah Singapura mengizinkan perusahaan mengeduk harta karun itu. Sudah merusak lingkungan, cakupan wilayah untuk penduduknya juga akan berkurang. Apalagi, Singapura sangat memerhatikan kelestarian lingkungannya.

Beda dengan Indonesia, luas, banyak harta karun, dan rada tak peduli dengan lingkungan. Sepanjang bisa mendatangkan uang triliunan, pengedukan harta karun di Indonesia sah-sah saja dilakukan.

Meski sempit dan penduduknya sedikit, tanpa harta karun pula, namun Singapura adalah "raja" di kawasan ASEAN. Mengutip data ceicdata.com, pendapatan per kapita Singapura adalah USD72.766 (2021) atau sekitar Rp1,05 miliar. Bandingkan dengan Indonesia yang pendapatan per kapitanya cuma Rp62,2 juta. Pendapatan per kapita adalah pendapatan rata-rata semua penduduk di suatu negara.

Cadangan Devisa Singapura dilaporkan sebesar USD278.8 miliar per Juli 2022. Sementara cadangan devisa Indonesia "cuman" USD132,2 miliar, tak sampai separuh Singapura. Lantas dari mana semua "kekayaan" Singapura itu berasal.

Tak lain dan tak bukan adalah letaknya yang strategis. Berada di lalu lintas perdagangan dunia, Singapura merupakan salah satu negara yang menjadi tempat singgah kapal-kapal perdagangan. Makanya, salah satu pelabuhan di negara itu menjadi yang terpadat di dunia.

Dari sini Singapura kemudian mengembangkan negaranya menjadi "pasar" antara pembeli dan penjual dari berbagai belahan dunia. Singapura juga kemudian mengembangkan ekonominya dengan menjadi eksportir produk-produk yang dibeli dari negara lain.

Untuk bisa menarik sejumlah perusahaan dunia mendirikan kantor di negaranya, Singapura memberikan sejumlah insentif, salah satunya insetif pajak. Singapura termasuk negara suaka pajak dunia karena menawarkan beberapa keringanan pajak, seperti tarif pajak perusahaan dan pajak pribadi golongan teratas yang relatif lebih rendah.

Singapura juga tidak memungut pajak atas keuntungan modal. Makanya negara ini pun dijuluki suaka pajak (tax haven). Singapura juga dijuluki sebagai negara yang ramah dengan kegiatan usaha. Tujuannya menarik sebanyak-banyaknya perusahaan berkantor di Singapura, sehingga tercipta banyak lapangan kerja buat warga negaranya.

Singapura juga mampu "menginvansi" Indonesia dengan investasi. Sejak 2017, investasi negeri Singa itu selalu jadi yang terbesar di Indonesia. Tahun lalu investasi asal Singapura di Indonesia mencapai USD9,39 miliar.

Baca juga: Tiga Angka Nol Rupiah Versi Baru Hilang, Sinyal Redenominasi Dimulai?

Singapura juga mengembangkan sektor pariwisatanya. Sebelum pandemi, sektor pariwisata mampu menyumbang rata-rata USD4 miliar atau sekitar Rp56 triliun (kurs Rp14.000). Singapura memang ingin menjadi salah satu negara tujuan pariwisata dunia.

(uka)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prabowo: 66,4 Juta Warga...
Prabowo: 66,4 Juta Warga RI Dapat LPG Subsidi, Lebih Banyak dari Penduduk Singapura
Produksi CPO RI Capai...
Produksi CPO RI Capai 53 Juta Ton, Hilirisasi Sawit Perlu Dipercepat
Chakra Jawara Perkuat...
Chakra Jawara Perkuat Komitmen sebagai Mitra Strategis Industri Pertambangan Nasional
Antisipasi Risiko Sosial...
Antisipasi Risiko Sosial Tambang, Perusahaan Didorong Terapkan Standar Keberlanjutan Global
5 Negara Pengirim Modal...
5 Negara Pengirim Modal Terbesar ke Indonesia, Ini Rajanya dalam 10 Tahun Terakhir
Singapura Mulai Proyek...
Singapura Mulai Proyek Raksasa Lawan Kenaikan Permukaan Laut
BNPP Dorong Percepatan...
BNPP Dorong Percepatan PLBN Seimanggaris, Perkuat Gerbang Negara yang Terhubung ke Koridor Ekonomi BIMP-EAGA
Riau Bhayangkara Run...
Riau Bhayangkara Run 2026 Ciptakan Efek Ekonomi Rp58,9 Miliar
Kemenhut Bongkar Jalur...
Kemenhut Bongkar Jalur Distribusi Tambang Ilegal di NTB, 8 Orang Ditangkap
Rekomendasi
Penjelasan Menteri PU...
Penjelasan Menteri PU Dody Hanggodo tentang Isu Tak Mau Salaman dengan Bawahan dan Pakai Private Jet
Siapa Khalil al-Hayya?...
Siapa Khalil al-Hayya? Pemimpin Baru Hamas yang Dikenal sebagai Tangan Kanan Iran di Gaza
Kapal Basarnas Terbakar...
Kapal Basarnas Terbakar di Muara Baru, 14 Unit dan 70 Personel Damkar Dikerahkan
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
Infografis
Kuwait, Kota Terpanas...
Kuwait, Kota Terpanas di Dunia, tapi Penduduknya Kaya Raya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved