Pengembangan Ekonomi Warga lewat Budi Daya Lebah Hutan

Kamis, 29 September 2022 - 17:25 WIB
loading...
Pengembangan Ekonomi Warga lewat Budi Daya Lebah Hutan
Peningkatan ekonomi warga lewat budi daya lebah madu di hutan tanaman industri. Foto/Ist
A A A
JAKARTA - Pengembangan ekonomi masyarakat yang dilakukan PT Wirakarya Sakti (WKS), perusahaan hutan tanaman industri (HTI) salah satu unit usaha APP Sinar Mas, menyasar segala bidang, salah satunya budi daya lebah madu. Budi daya itu telah memberikan keuntungan dan menopang perekonomian sejumlah pembudi daya lebah madu binaan perusahaan.

Baca juga: Beban Masyarakat Semakin Berat, DPR: Kenaikan Cukai Rokok Harus Seimbang

Kelompok Usaha Mandiri di Desa Sungai Rambai, Kecamatan Senyerang, Kabupaten Tanjungjabung Barat, Jambi, misalnya, telah memulai budi daya lebah sejak 2020. Kini kelompok yang memiliki 11 anggota ini telah mengelola 2.000 kotak lebah jenis Apis Mellifera.

Kelompok Usaha Mandiri ini bermitra dengan PT WKS melalui program Desa Makmur Peduli Api (DMPA)--program andalan APP Sinar Mas--untuk mengelola hasil hutan bukan kayu (HHBK). Kelompok tersebut diberikan fasilitas berupa alokasi tempat penangkaran lebah di dalam area konsesi hutan akasia.

“Kami juga diberikan fasilitas berupa peningkatan kapasitas dan sumber daya. Rencananya tanggal 3 Oktober 2022 mendatang, kami akan berpartisipasi dalam pameran di Jakarta yang difasilitasi oleh Kadin,” kata Wanudin, Ketua Kelompok Tani Lebah Usaha Mandiri, dikutip Kamis (29/9/2022).

Sejak bermitra dengan perusahaan PT WKS, Wanudin mengaku telah memberikan banyak perubahan ekonomi kelompoknya. Dari semula kelompok ini hanya fokus pada bagi hasil kemitraan, kini memiliki pendapatan lain dari budi daya lebah sehingga membantu menopang pendapatannya.

Selain itu, produk madu dari penangkaran yang mereka kelola itu terus meningkat. Dalam sebulan kelompoknya bisa memproduksi sebanyak 7 ton madu murni. Namun peningkatan produksi madu ini kata Wanudin, masih memiliki kendala dan belum mampu diserap sepenuhnya.

“Rata-rata sebulan yang terjual 1,5 ton, sehingga sisanya masuk stok di gudang,” ujar Wanudin seraya menambahkan rata-rata dalam sebulan kelompok ini membukukan omzet puluhan juta dengan harga rata-rata Rp40-70 ribu per kilogram.

Sejak sebulan lalu kelompok mereka telah membuka cabang pemasaran di Batam Kepulauan Riau. Melalui kantor pemasaran di luar daerah ini diharapkan dapat meningkatkan penjualan dan harga juga yang lebih tinggi.

Sama halnya dengan Wanudin, Febri, pemuda Desa Kelagian, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjungjabung Barat, Jambi, merasakan betul cuan dari budi daya lebah madu. Dari semula ia mengembangkan 68 kotak, kini kota-kotak yang dihuni lebah itu terus berkembang.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1457 seconds (10.55#12.26)