Waduh! Peristiwa Lehman Brothers Berpotensi Terulang, OJK Siapkan Kuda-kuda

Selasa, 04 Oktober 2022 - 17:59 WIB
loading...
Waduh! Peristiwa Lehman...
Credit Suisse terancam bangkrut. Foto/Bloomberg/GettyImages
A A A
JAKARTA - Credit Suisse Group AG, salah satu gergasi keuangan dunia, dikabarkan mengalami permasalahan modal dan likuiditas sehingga membuat cemas banyak investor. Bisa jadi kasus yang menimpa Credit Suisse bakal menjadi Lehman Brothers berikutnya.

Baca juga: Ekonomi Belum Pulih dari Pandemi, OJK Bakal Perpanjang Restrukturisasi Kredit

Kondisi pasar global yang memburuk memberikan indikasi bahwa Credit Suisse berpotensi kesulitan mencari duit lewat penerbitan saham baru guna membayar restrukturisasi yang direncanakan dengan biaya pendanaan (cost of funding).

Menyikapi situasi Credit Suisse, Otoritas Jasa Keuangan ( OJK ) menilai kondisi perekonomian dan sektor jasa keuangan domestik masih terjaga. Namun, transmisi kondisi global akan tetap terjadi sehingga perlu diwaspadai serta window yang tersedia perlu dimanfaatkan untuk menyiapkan kebijakan dan langkah mitigasi yang diperlukan.

Direktur Humas OJK Darmansyah mengatakan, transmisi diperkirakan melalui penurunan kinerja eksternal akibat penurunan harga komoditas dan turunnya permintaan barang ekspor Indonesia, serta melalui peningkatan tekanan di pasar keuangan akibat penurunan likuiditas global maupun potensi dampak apabila terjadi krisis keuangan atau krisis nilai tukar di negara kawasan. Untuk itu, OJK mengambil langkah-langkah proaktif untuk memastikan terjaganya stabilitas sektor jasa keuangan.

"OJK senantiasa memantau dan memastikan ketersediaan likuiditas, baik untuk mengantisipasi potensi risiko maupun dalam kaitannya dengan pelaksanaan fungsi intermediasi lembaga jasa keuangan (LJK). Di sisi lain, OJK juga mencermati perkembangan kenaikan biaya dana LJK sehubungan dengan respons atas peningkatan suku bunga," jelas Darmansyah, dikutip Selasa (4/10/2022).

Selain itu, OJK meminta LJK untuk terus mencermati risiko pasar, termasuk eksposur dalam surat-surat berharga dan valuta asing di tengah tren penguatan dolar serta peningkatan volatilitas di pasar keuangan global.

"Dalam kaitan ini, OJK meminta LJK secara intensif melakukan scenario analysis dalam rangka memitigasi risiko yang mungkin timbul," katanya.

Selanjutnya, OJK meminta LJK untuk mencermati perkembangan risiko kredit di sektor-sektor ekonomi yang memiliki konsumsi energi yang tinggi di tengah kenaikan harga energi dan yang kinerjanya berhubungan erat dengan siklus harga komoditas. Sementara, bank diminta untuk melakukan scenario analysis untuk memitigasi risiko dimaksud.

"OJK akan mempertahankan beberapa kebijakan yang telah dikeluarkan untuk mengelola volatilitas dan menghadapi tantangan yang terjadi di pasar modal domestik dalam beberapa waktu ke depan, antara lain asymmetric auto-rejection, pelarangan transaksi short selling, dan pelaksanaan trading halt untuk penurunan IHSG sebesar 5%, seiring masih tingginya volatilitas pasar dan potensi meningkatnya tekanan ke depan," pungkas Darmansyah.

Meskipun dengan kondisi yang tidak pasti, beberapa analis masih yakin Credit Suisse tidak akan bangkrut. Mereka menyebut kondisi yang terjadi pada Credit Suisse tak bisa disamakan dengan Lehman Brothers pada 2008.

Sementara itu, Financial Times melaporkan para eksekutif Credit Suisse menghabiskan akhir pekannya untuk berjibaku meyakinkan klien-klien besar, counterpart bisnis, dan investor tentang likuiditas dan posisi modal sebagai respons atas kekhawatiran mengenai kesehatan finansial bank papan atas tersebut.

Baca juga: Elon Musk Usulkan Rencana Perdamaian Ukraina, Apa Saja Isinya?

Dilaporkan, mereka menelepon satu persatu klien setelah tersebar kabar mengenai kenaikan tajam credit default swaps Credit Suisse, atau premi asuransi proteksi gagal bayar, yang pada hari Jumat pekan lalu naik tajam, mengindikasikan kekhawatiran investor akan kesehatan bank tersebut.

(uka)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
MNC Sekuritas dan BRI...
MNC Sekuritas dan BRI Manajemen Investasi Ajak Investor Raih Reward Reksa Dana Total Rp2,5 Juta
Menakar Efek di Balik...
Menakar Efek di Balik Isu Pergantian Menkeu, Awas! Ganggu Kepercayaan Publik dan Investor
PT IIM Buktikan Konsistensi...
PT IIM Buktikan Konsistensi Kinerja Historis dan Dampak Sosial di Tengah Volatilitas Pasar
Buka BRImo, Langsung...
Buka BRImo, Langsung Jadi Investor Syariah bareng Syailendra Capital!
IMF Peringatkan AI Bisa...
IMF Peringatkan AI Bisa Bobol Sistem Perbankan Dunia dalam Hitungan Detik!
Qavah Group Fasilitasi...
Qavah Group Fasilitasi Ekspansi Investor China ke Pasar Indonesia
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Mitigasi Krisis
Mitigasi Krisis
Fenomena Rupiah Melemah...
Fenomena Rupiah Melemah dan Dilema Impossible Trinity: Membaca Kepanikan Investor di Tengah Ketidakpastian Global
Rekomendasi
Memahami Urgensi Koperasi...
Memahami Urgensi Koperasi Desa Merah Putih
Ledakan Dahsyat Guncang...
Ledakan Dahsyat Guncang Situs LNG Qatar, 54 Orang Terluka, 18 Hilang
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
Berita Terkini
2 Pembangkit Besar Jadi...
2 Pembangkit Besar Jadi Penyebab Pemadaman Listrik di Jawa, Dirut PLN: Satu Berhasil Pulih
MNC Sekuritas dan BRI...
MNC Sekuritas dan BRI Manajemen Investasi Ajak Investor Raih Reward Reksa Dana Total Rp2,5 Juta
Kinerja Apik 2025, INALUM...
Kinerja Apik 2025, INALUM Cetak Rekor Kinerja dan Operasional Tertinggi
3,88 Juta Lowongan Kerja...
3,88 Juta Lowongan Kerja Ramah Lingkungan Bakal Terbuka di 2026, Catat Sektor Industrinya
Lindungi Generasi Muda,...
Lindungi Generasi Muda, Sejumlah Elemen Dukung Standardisasi Kemasan Rokok
Mendag Busan Pastikan...
Mendag Busan Pastikan Harga MinyaKita Tak Jadi Naik
Infografis
Kaleidoskop 2025: 7...
Kaleidoskop 2025: 7 Peristiwa Hukum yang Menyita Perhatian Publik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved