Siasat Rusia Meningkatkan Nilai Tukar Rubel Terhadap USD, Sulit Ditiru Indonesia

Selasa, 11 Oktober 2022 - 16:41 WIB
loading...
Siasat Rusia Meningkatkan...
Rusia telah membuktikan dirinya sebagai negara pemilik ketahanan ekonomi yang kuat. Foto DOK ist
A A A
JAKARTA - Rusia telah membuktikan dirinya sebagai negara pemilik ketahanan ekonomi yang kuat di tengah sanksi yang diberikan oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat .

Pada Juni kemarin, rubel mencapai 52,3 terhadap dolar yang merupakan level terkuatnya sejak Mei 2015. Hal itu jauh dari penurunan angka rubel yang sempat menjadi 139 terhadap dolar pada awal Maret.

Baca juga : Serang Ukraina, Ekonomi Rusia Bakal Masuk Jurang Resesi

Pada akhir Februari, menyusul kejatuhan awal rubel dan empat hari setelah invasi ke Ukraina dimulai pada 24 Februari, Rusia menggandakan suku bunga utama negara itu menjadi 20% dari sebelumnya 9,5%. Sejak itu, nilai mata uang telah meningkat ke titik yang menurunkan suku bunga tiga kali hingga mencapai 11% pada akhir Mei .

Dilansir dari bloomberg.com, peningkatan kekuatan rubel ini tampaknya didorong oleh perusahaan-perusahaan Eropa yang memenuhi permintaan Presiden Vladimir Putin agar mereka beralih membayar dalam mata uang Rusia untuk gas alam.

Menguatnya nilai tukar rubel ini membuat bank sentral Rusia mencoba untuk melemahkannya, karena dikhawatirkan akan membuat ekspor negara tersebut kurang kompetitif.

Tentunya terdapat beberapa faktor meningkatnya mata uang ini. Salah satunya adalah Rusia menjadi pengekspor gas dan minyak terbesar kedua di dunia.

Dalam 100 hari pertama perang Rusia-Ukraina, Federasi Rusia meraup pendapatan USD98 miliar dari ekspor bahan bakar fosil. Sementara itu beberapa negara Uni Eropa juga masih ketergantungan akan sumber daya mereka.

Untuk mengurangi ketergantungan ini saja diperkirakan membutuhkan waktu bertahun tahun. Bahkan pada tahun 2020 blok tersebut mengandalkan Rusia untuk 41% dari impor gasnya dan 36% dari impor minyaknya.

Selain itu Rusia juga memberlakukan kontrol modal yang ketat atau pembatasan mata uang asing. Sanksi ini juga membuat Moskow tak dapat mengimpor lebih banyak sehingga hanya menghabiskan sedikit uangnya.

Kemudian karena Rusia sekarang telah terputus dari sistem perbankan internasional SWIFT dan diblokir dari perdagangan internasional dalam dolar dan euro, pada dasarnya mereka dibiarkan berdagang dengan dirinya sendiri.

Namun apakah kebijakan ini dapat diberlakukan di Indonesia? Pada dasarnya kebijakan ini sangatlah sulit untuk diterapkan di tanah air.

Menganut kebijakan ini justru dapat memperburuk kondisi ekonomi di Indonesia. Kenaikan suku bunga ini mungkin dapat membuat nilai tukar mata uang menguat namun ada harga yang musti dibayar setelahnya.

Baca juga : Ekonomi Rusia Mulai Retak, Begini Proyeksi Para Ekonom

Pertumbuhan ekonomi nantinya akan terhambat, dampak terburuknya adalah resesi. Karena saat suku bunga naik, suku bunga pinjaman juga ikut naik. Inilah yang akan menghambat ekspansi dunia usaha.

Begitu juga terkait konsumsi masyarakat yang telah menjadi penopang perekonomian. Sehingga menerapkan kebijakan ini justru akan menyulitkan Indonesia sendiri.

Mengingat masih banyaknya masyarakat yang lebih menyukai produk luar. Bahkan produk luar di Indonesia telah menjadi komoditas utama.

Selain itu mengenai kekuatan rubel dapat dipertahankan? Tentunya hal ini sangat tidak pasti dan tergantung pada bagaimana geopolitik berkembang dan kebijakan yang menyesuaikan.
(bim)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Pasokan Teluk Pulih,...
Pasokan Teluk Pulih, Harga Minyak Mentah Brent Turun ke Level Terendah dalam Empat Bulan
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Transformasi Ekonomi...
Transformasi Ekonomi Progresif, Kepala BPS Canangkan Sensus Ekonomi di Maluku Utara
Aden Indonesia Sinergi...
Aden Indonesia Sinergi Perkuat Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Routa
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
Rekomendasi
Halte Transjakarta Tebet...
Halte Transjakarta Tebet Eco Park Tetap Beroperasi usai Ditabrak Truk
Iran Murka, Mehdi Taremi...
Iran Murka, Mehdi Taremi dan Asisten Pelatih Ditahan AS
Daftar 10 Tim Lolos...
Daftar 10 Tim Lolos ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Purbaya dan Kepala BGN...
Purbaya dan Kepala BGN Dijadwalkan Bertemu Hari Ini, Bedah Anggaran?
Bahlil: Saya Menteri...
Bahlil: Saya Menteri yang Tak Suka Impor, Karena Disitu Pasti Ada Rente!
Lebih dari 20.000 ATM...
Lebih dari 20.000 ATM Terhubung, Layanan Tarik Tunai Gratis Dorong Inklusi Keuangan Masyarakat
IHSG Sesi Siang Berbalik...
IHSG Sesi Siang Berbalik Meroket 2,69% Tembus Level 6.041
Tren Industri Olahraga...
Tren Industri Olahraga Jadi Peluang Bisnis Asuransi
Harga Emas Antam Stagnan...
Harga Emas Antam Stagnan di Posisi Rp2.655.000 per Gram, Saatnya Beli?
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved