Harga Minyak Babak Belur Dihajar Kasus Baru Covid di China

Kamis, 10 November 2022 - 10:46 WIB
loading...
Harga Minyak Babak Belur Dihajar Kasus Baru Covid di China
Harga minyak dunia terpukul kasus Covid-19 di China. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Harga minyak mentah terkapar pada Kamis pagi (10/11/2022) di tengah kekhawatiran pasar atas jatuhnya permintaan dari China menyusul kebijakan baru pembatasan Covid-19. China merupakan negara konsumen minyak terbesar.

Baca juga: Dibebani Sejumlah Sentimen, Harga Minyak Dunia Turun Tipis

Data perdagangan hingga pukul 09:23 WIB menunjukkan minyak Brent di Intercontinental Exchange (ICE) untuk kontrak Januari 2023 terkoreksi 0,19% di USD92,47 per barel. Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange (NYMEX) untuk pengiriman Januari merosot 0,25% sebesar USD84,79 per barel.

Dalam perhitungan mingguan, harga Brent telah jatuh lebih dari 6% sejauh ini, sedangkan WTI sudah ambles lebih dari 7%.

China kembali melaporkan kasus baru Covid-19. Kota Guangzhou sebagai pusat manufaktur berpenduduk 19 juta orang baru-baru ini melaporkan lebih dari 2.000 kasus baru per Rabu (9/11/2022) yang merupakan level terburuk di kota itu sejauh ini.

Jutaan penduduk diperintahkan untuk melakukan tes Covid-19 pada hari itu, sementara pemerintahan setempat telah memberlakukan lockdown untuk sebuah distrik di wilayah tersebut menyusul lonjakan kasus lokal yang mencapai level tertingginya sejak 30 April.

Kebijakan pembatasan di China kembali memperkuat kekhawatiran pasar atas potensi permintaan yang lemah. Ketika mobilitas penduduk dibatasi, maka pemakaian bahan bakar akan berkurang.

Di tengah ancaman permintaan, Amerika Serikat melaporkan adanya peningkatan stok pada pekan lalu sebesar 3,9 juta barel. Sejumlah analis memandang akan ada hambatan bagi kenaikan harga minyak di masa depan.

"Sayangnya untuk kenaikan harga minyak itu hanya puncak gunung es, karena serangkaian berita utama ekonomi menempatkan China dalam sorotan, yang membuat pasar masih bearish (bearish)," kata Analis SPI Asset Management, Stephen Innes, dilansir Reuters, Kamis (10/11).

Analis yang berbeda justru menilai persediaan minyak global akan kembali ketat menyusul pemberlakuan embargo dari Uni Eropa terhadap produk Rusia yang akan mulai berlaku pada 5 Desember mendatang.

Baca juga: Doa-doa Memohon Kematian Husnul Khatimah, Yuk Amalkan!

"Brent berpotensi akan berada di rata-rata USD95 per barel pada kuartal keempat," kata Analis Commonwealth Bank, Vivek Dhar.

(uka)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1595 seconds (10.101#12.26)