Harga Minyak Turun Usai NATO Sebut Rudal di Polandia Bukan Serangan dari Rusia

Kamis, 17 November 2022 - 10:40 WIB
loading...
Harga Minyak Turun Usai NATO Sebut Rudal di Polandia Bukan Serangan dari Rusia
Harga minyak mentah dunia hari ini turun. Ilustrasi Foto/pexels-pixabay
A A A
JAKARTA - Harga minyak mentah atau crude oil pagi hari ini terpantau melandai menyusul meredanya ketegangan geopolitik di Eropa Timur yang menjadi sumber kekhawatiran pasar. Di sisi lain, kenaikan kasus Covid-19 di China masih menjadi perhatian.

Data perdagangan Intercontinental Exchange (ICE) hingga pukul 09:25 WIB, mencatat harga minyak kontrak Januari 2023 menurun 0,92% di USD92,01 per barel.

Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange (NYMEX) untuk pengiriman Januari turun 1,14% sebesar USD84,03 per barel.

Di tengah kecemasan pasar atas eskalasi militer akhir-akhir ini, otoritas Polandia dan NATO mengeluarkan pernyataan pada Rabu (17/11) bahwa rudal yang jatuh di pinggiran area Polandia dimungkinkan berasal dari pertahanan udara Ukraina, bukan serangan dari Rusia.

Baca juga: Polandia-NATO Sepakat Ukraina Tak Sengaja Tembakkan Rudal ke Lahan Pertanian

Pengumuman itu memberi kejelasan terkait dugaan sebelumnya bahwa Rusia berniat untuk menyerang sarana infrastruktur di sejumlah wilayah Ukraina.

"Minyak mentah turun setelah NATO memberi keterangan atas serangan rudal di Polandia, sementara kekhawatiran pasar masih terkait Covid di China," ungkap analis CMC Markets Tina Teng, dilansir Reuters, Kamis (17/11/2022).

Baca juga: Kalahkan Indonesia, Ini yang Membuat Singapura Jadi Negara Eksportir Minyak

Analis menilai peningkatan kasus varian baru Covid di China dapat terus mendongkrak harga di pasar, mengingat Negeri Tirai Bambu merupakan salah satu konsumen minyak terbesar dunia.

Saat Covid-19 merebak, pemerintah setempat dikhawatirkan akan melanjutkan kebijakan pembatasan, yang akan memangkas permintaan.

Dari sisi pasokan, kabar terbaru menunjukkan ada penurunan stok minyak di Amerika Serikat (AS) sebesar 5,4 juta barel per 11 November.

Menurut Badan Informasi dan Administrasi Energi AS, saat ini Negeri Paman Sam memiliki persediaan tersisa sebanyak 435,4 juta barel.
(ind)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1418 seconds (10.177#12.26)