Awas! Rupiah Bisa Makin Ambruk Usai The Fed Kembali Kerek Suku Bunga
Minggu, 18 Desember 2022 - 11:50 WIB
loading...
The Fed atau bank sentral Amerika Serikat kembali menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin, berikut dampaknya terhadap efeknya ke Indonesia. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Federal Reserve ( The Fed ) atau bank sentral Amerika Serikat telah resmi menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin untuk berada di level 4,25%-4,5% beberapa waktu lalu. Lantas, bagaimana dampaknya terhadap Kterhadap pasar modal di Indonesia.
Baca Juga: Lagi, Bank Sentral AS The Fed Kerek Suku Bunga 50 Basis Poin
Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengatakan, lonjakan suku bunga di Amerika Serikat dapat mendongkrak nilai mata uang dolar (USD). Investor akan beranjak ke aset safe haven seperti dolar sebagai lindung nilai investasi mereka.
Permintaan yang tinggi terhadap dolar, akan menekan kurs lain sehingga membebani perusahaan tercatat yang memiliki basis perdagangan impor.
"Kenaikan itu memicu depresiasi nilai tukar rupiah, juga berdampak pada imported inflation, sehingga emiten yang menggunakan bahan baku impor akan tertekan terhadap selisih kurs," kata Ratih dalam riset yang diterima MNC Portal Indonesia, dikutip Minggu (18/12/2022).
Baca Juga: Sejarah dan Pendiri Federal Reserve, Bank Sentral di Amerika Serikat
Lebih jauh, Ratih juga mencermati perusahaan tercatat yang memiliki surat utang skala internasional / global bond. Menurutnya, kurs dolar yang besar dapat membebani ongkos pembayaran mereka.
Baca Juga: Lagi, Bank Sentral AS The Fed Kerek Suku Bunga 50 Basis Poin
Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengatakan, lonjakan suku bunga di Amerika Serikat dapat mendongkrak nilai mata uang dolar (USD). Investor akan beranjak ke aset safe haven seperti dolar sebagai lindung nilai investasi mereka.
Permintaan yang tinggi terhadap dolar, akan menekan kurs lain sehingga membebani perusahaan tercatat yang memiliki basis perdagangan impor.
"Kenaikan itu memicu depresiasi nilai tukar rupiah, juga berdampak pada imported inflation, sehingga emiten yang menggunakan bahan baku impor akan tertekan terhadap selisih kurs," kata Ratih dalam riset yang diterima MNC Portal Indonesia, dikutip Minggu (18/12/2022).
Baca Juga: Sejarah dan Pendiri Federal Reserve, Bank Sentral di Amerika Serikat
Lebih jauh, Ratih juga mencermati perusahaan tercatat yang memiliki surat utang skala internasional / global bond. Menurutnya, kurs dolar yang besar dapat membebani ongkos pembayaran mereka.
Lihat Juga :