Harga Beras RI Disebut Termahal se-ASEAN, TaniMilenial: Pembenaran untuk Impor

Kamis, 22 Desember 2022 - 14:10 WIB
loading...
Harga Beras RI Disebut...
Beras impor asal Vietnam tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (16/12/2022). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/nym
A A A
JAKARTA - Bank Dunia (World Bank) menyebut harga beras di Indonesia paling mahal di kawasan Asia Tenggara atau ASEAN dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Menanggapi hal tersebut, pengusaha sektor pangan yang juga Founder #TaniMillenial M Hadi Nainggolan menilai, hal itu sengaja dimunculkan kembali oleh pihak-pihak tertentu sebagai justifikasi atau pembenaran terhadap kebijakan impor beras. Ditengarai ada misi sangat sistematis untuk memuluskan impor beras ini.

"Kita sangat menyayangkan ini terjadi. Seharusnya konsen pemerintah saat ini adalah membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan hasil produksi panen padi petani," ujarnya melalui keterangan tertulis kepada MNC Portal Indonesia (MPI), Kamis (22/12/2022).

Menurut dia, jika pemerintah mampu membangun kolaborasi dengan baik maka Indonesia tidak akan impor beras lagi bahkan bisa menjadi kiblat pangan dunia.

Baca juga: Pro-Kontra Impor Beras

Masalahnya, kata Hadi, komoditas beras ini masih memiliki banyak persoalan. Pertama, Harga Pokok Produksi (HPP) beras dalam negeri yang trendnya semakin tinggi.

Ditambah lagi modal petani untuk membeli benih, pupuk, pestisida, fungisida dan perawatan lainnya juga masih tinggi dan terus naik.

"Harusnya ini yang menjadi konsen pemerintah, ada intervensi besar di wilayah ini. Bagaimana negara bisa membuat solusi konkret agar biaya sarana produksi tanaman (saprotan) bisa lebih murah dibandingkan negara lainnya," terang dia.

Baca juga: Beras Indonesia Paling Mahal, Ekonom: Tergantung Kemampuan Masyarakat

Kedua, transformasi teknologi. Menurut Hadi, dalam hal ini Indonesia masih sangat ketinggalan jauh jika dibandingkan negara ASEAN penghasil beras, apalagi level dunia.

Indonesia tidak pernah tuntas melakukan transformasi teknologi pertanian ini. Teorinya sudah terlalu banyak di perguruan tinggi, balai kajian teknologi dan berbagai regulasi pemerintah. Namun, tidak pernah konsisten dalam penerapannya.

"Padahal dengan penerapan teknologi pertanian, Indonesia bisa mereduksi biaya budidaya padi hingga 40% bila dibandingkan kerja manual yang selama ini masih terjadi di berbagai daerah sentra pertanian padi," ungkapnya.

Dia melanjutkan, masalah ketiga adalah terkait penyerapan hasil panen. Hadi bilang, persoalan ini selalu menjadi isu tahunan dan terus berulang.

Jika saat panen raya maka harga gabah padi turun. Ini adalah bentuk ketidaksiapan Indonesia sebagai negara agraris dalam mengelola hasil panen petani.

Dia menilai, seharusnya infrastruktur serapan hasil panen ini menjadi proyek strategis nasional agar menjadi solusi sepanjang tahun. Sehingga, Indonesia memiliki stok beras yang stabil, karena mampu mengelola hasil panen petani dalam negeri dengan baik.

Baca juga: Mentan Sebut Mahalnya Harga Beras Saat Ini Masih Lebih Murah Dibanding Negara Lain

Dia juga kembali mengingatkan agar bangsa yang besar ini jangan sampai salah kaprah dalam mengelola sektor pangan dalam negeri.

“Sudah 77 tahun Indonesia merdeka, tapi kita masih terus terjebak dalam kebijakan impor beras dan komoditi pangan lainnya, tapi abai dan pura-pura tidak tahu apa yang semestinya harus kita benahi bersama,” cetusnya.

Hadi pun mendesak pemerintah untuk segera melakukan evaluasi terkait kebijakan impor beras. “Sebaiknya Pak Presiden Jokowi segera evaluasi kebijakan impor beras ini," pungkasnya.

Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah memberi lampu hijau kepada Perum Bulog untuk mengimpor beras sebanyak 200.000-300.000 ton.

(ind)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Indonesia Buka Peluang...
Indonesia Buka Peluang Ekspor 10.000 Ton Beras ke Singapura
Bahlil: Saya Menteri...
Bahlil: Saya Menteri yang Tak Suka Impor, Karena Disitu Pasti Ada Rente!
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Antisipasi Lonjakan...
Antisipasi Lonjakan Harga Obat, BPOM Permudah Perizinan Bahan Baku Impor
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
BPS: Neraca Dagang RI...
BPS: Neraca Dagang RI Januari-April 2026 Surplus USD5,64 Miliar
Mengapa Harga Beras...
Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?
Kadis Pertanian Merauke:...
Kadis Pertanian Merauke: CSR dan Optimasi Lahan Berhasil Tingkatkan Produksi dan Stabilkan Harga Beras
Tahu-Tempe dan Impor...
Tahu-Tempe dan Impor Kedelai yang Mematikan
Rekomendasi
LPI Minta Program Prioritas...
LPI Minta Program Prioritas Nasional Dievaluasi Agar Sesuai Arahan Presiden
Bantah Militernya Melemah,...
Bantah Militernya Melemah, Iran Klaim Selalu Membuat Terobosan yang Tak Diprediksi Musuh
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Berita Terkini
Purbaya Isyaratkan Marketplace...
Purbaya Isyaratkan Marketplace Pungut Pajak Pedagang Online Mulai 1 Juli 2026
Lippo Hibahkan Lahan...
Lippo Hibahkan Lahan untuk 141 Ribu Rumah di Meikarta, Percepat Program 3 Juta Rumah
Danone Indonesia Dorong...
Danone Indonesia Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Percepat Praktik Bisnis Berkelanjutan
DEPO Tebar Dividen Rp10,2...
DEPO Tebar Dividen Rp10,2 Miliar, Fokus Perluas Ekspansi Bisnis
Dana Pemerintah Rp281...
Dana Pemerintah Rp281 Triliun Dijamin Parkir di Bank BUMN hingga Desember 2026
Sah! Berikut Jajaran...
Sah! Berikut Jajaran Direksi Bursa Efek Indonesia Periode 2026-2030
Infografis
3 Efek Tarif Impor Donald...
3 Efek Tarif Impor Donald Trump Terhadap Harga Emas Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved