Respon Pejabat Keuangan Asia terhadap Keputusan The Fed
Jum'at, 18 September 2015 - 13:00 WIB
Respon Pejabat Keuangan Asia terhadap Keputusan The Fed
A
A
A
Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga pada level rendah dalam hampir satu dekade terakhir pada Kamis waktu setempat. Hal itu justru menimbulkan kekecewaan.
Banyak negara di Asia mengharapkan volatilitas pasar meningkat karena naiknya suku bunga Amerika Serikat (AS). Dari Seoul hingga Canberra, berikut adalah cara pejabat keuangan bereaksi terhadap keputusan The Fed tersebut, seperti dilansir dari CNBC:
Jepang
Keputusan untuk tetap menahan suku bunga AS kemungkinan karena pendapat yang disuarakan pada pertemuan G20 baru-baru ini, di mana Menteri Keuangan Jepang Taro Aso berkomentar setelah pertemuan kabinet.
Pada puncak pertemuan G20 di Turki pada awal bulan ini, dia melihat beberapa negara, termasuk Brazil, Rusia, India dan China khawatir terhadap kenaikan suku bunga AS bisa menyebabkan kemerosotan ekonomi global.
"Suku bunga AS yang rendah tidak diragukan telah mendukung pertumbuhan di negara berkembang. Tapi menjaga suku bunga di bawah 1% untuk jangka waktu yang panjang adalah tidak normal," ujarnya.
Kendati demikian, dia tidak berpikir bahwa keputusan untuk menunda kenaikan suku bunga akan memiliki dampak negatif pada ekonomi Jepang.
Korea Selatan
"Sebuah perubahan besar untuk dicatat saat ini adalah bahwa Fed mempertimbangkan lingkungan global dan China," kata Gubernur Bank of Korea Lee Ju-yeol pada pertemuan dengan para eksekutif bank lokal.
Menurut dia, hal ini telah menciptakan kerumitan bagi pelaku pasar dan ketidakpastian tetap parah.
Pada pertemuan terpisah, Wakil Menteri Keuangan Korea Selatan Joo Hyung-hwan mengatakan, ada kemungkinan ketidakstabilan pasar karena ketidakpastian atas kebijakan Fed. Karena itu, dia akan meminta lembaga keuangan lokal untuk mengelola likuiditas valuta asing secara konservatif.
Australia
"Ada ketidakpastian tereduksi di sini dan karenanya kemungkinan volatilitas pasar keuangan akan berlanjut di beberapa titik," kata Gubernur Reserve Bank of Australia Glenn Stevens, memperingatkan.
Menurut dia, kinerja ekonomi AS terus membaik tapi belum diimbangi dengan kebijakan moneter yang akomodatif. "Pada titik ini, kita masih akan berpikir bahwa suku bunga The Fed mungkin akan terjadi sebelum Natal," imbuh dia.
Hong Kong
Kepala Eksekutif Otoritas Moneter Hong Kong Norman Chan mengaku tidak percaya bahwa AS memilih untuk mempertahankan suku bungannya selama hampir satu dekade pada hari Kamis.
"Saya melihat arus modal keluar dari pasar ke Eropa dan Amerika Serikat muncul (di tengah tanda-tanda normalisasi), namun kecepatan arus keluar dari Hong Kong akan tetap lambat," ujarnya.
Filipina
Dalam pesan teks kepada wartawan, Gubernur Bank Sentral Filipina Amando Tetangco mengatakan, dia akan melihat bagaimana pasar mencerna langkah Fed.
"Kami akan memeriksa dampak arus portofolio terhadap likuiditas domestik dan mengevaluasi proyeksi inflasi untuk melihat apakah ada kebutuhan untuk memperbaiki kebijakan," tutur dia.
Thailand
Bank of Thailand (MWA) menyakini bahwa Fed akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini dan sebagai hasilnya, tidak mengantisipasi kembalinya aliran modal yang kuat dalam waktu dekat.
Tapi Asisten Gubernur Bank of Thailand Mathee Supaongse mencatat bahwa keputusan hari Kamis bisa memperlambat aliran dana dari Thailand. Dia juga menambahkan bahwa suku bunga AS yang lebih tinggi di masa depan kemungkinan tidak berdampak signifikan pada pasar keuangan Thailand.
Baca:
The Fed Diperkirakan Naikkan Suku Bunga pada Desember
The Fed Kembali Tunda Naikkan Suku Bunga
Banyak negara di Asia mengharapkan volatilitas pasar meningkat karena naiknya suku bunga Amerika Serikat (AS). Dari Seoul hingga Canberra, berikut adalah cara pejabat keuangan bereaksi terhadap keputusan The Fed tersebut, seperti dilansir dari CNBC:
Jepang
Keputusan untuk tetap menahan suku bunga AS kemungkinan karena pendapat yang disuarakan pada pertemuan G20 baru-baru ini, di mana Menteri Keuangan Jepang Taro Aso berkomentar setelah pertemuan kabinet.
Pada puncak pertemuan G20 di Turki pada awal bulan ini, dia melihat beberapa negara, termasuk Brazil, Rusia, India dan China khawatir terhadap kenaikan suku bunga AS bisa menyebabkan kemerosotan ekonomi global.
"Suku bunga AS yang rendah tidak diragukan telah mendukung pertumbuhan di negara berkembang. Tapi menjaga suku bunga di bawah 1% untuk jangka waktu yang panjang adalah tidak normal," ujarnya.
Kendati demikian, dia tidak berpikir bahwa keputusan untuk menunda kenaikan suku bunga akan memiliki dampak negatif pada ekonomi Jepang.
Korea Selatan
"Sebuah perubahan besar untuk dicatat saat ini adalah bahwa Fed mempertimbangkan lingkungan global dan China," kata Gubernur Bank of Korea Lee Ju-yeol pada pertemuan dengan para eksekutif bank lokal.
Menurut dia, hal ini telah menciptakan kerumitan bagi pelaku pasar dan ketidakpastian tetap parah.
Pada pertemuan terpisah, Wakil Menteri Keuangan Korea Selatan Joo Hyung-hwan mengatakan, ada kemungkinan ketidakstabilan pasar karena ketidakpastian atas kebijakan Fed. Karena itu, dia akan meminta lembaga keuangan lokal untuk mengelola likuiditas valuta asing secara konservatif.
Australia
"Ada ketidakpastian tereduksi di sini dan karenanya kemungkinan volatilitas pasar keuangan akan berlanjut di beberapa titik," kata Gubernur Reserve Bank of Australia Glenn Stevens, memperingatkan.
Menurut dia, kinerja ekonomi AS terus membaik tapi belum diimbangi dengan kebijakan moneter yang akomodatif. "Pada titik ini, kita masih akan berpikir bahwa suku bunga The Fed mungkin akan terjadi sebelum Natal," imbuh dia.
Hong Kong
Kepala Eksekutif Otoritas Moneter Hong Kong Norman Chan mengaku tidak percaya bahwa AS memilih untuk mempertahankan suku bungannya selama hampir satu dekade pada hari Kamis.
"Saya melihat arus modal keluar dari pasar ke Eropa dan Amerika Serikat muncul (di tengah tanda-tanda normalisasi), namun kecepatan arus keluar dari Hong Kong akan tetap lambat," ujarnya.
Filipina
Dalam pesan teks kepada wartawan, Gubernur Bank Sentral Filipina Amando Tetangco mengatakan, dia akan melihat bagaimana pasar mencerna langkah Fed.
"Kami akan memeriksa dampak arus portofolio terhadap likuiditas domestik dan mengevaluasi proyeksi inflasi untuk melihat apakah ada kebutuhan untuk memperbaiki kebijakan," tutur dia.
Thailand
Bank of Thailand (MWA) menyakini bahwa Fed akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini dan sebagai hasilnya, tidak mengantisipasi kembalinya aliran modal yang kuat dalam waktu dekat.
Tapi Asisten Gubernur Bank of Thailand Mathee Supaongse mencatat bahwa keputusan hari Kamis bisa memperlambat aliran dana dari Thailand. Dia juga menambahkan bahwa suku bunga AS yang lebih tinggi di masa depan kemungkinan tidak berdampak signifikan pada pasar keuangan Thailand.
Baca:
The Fed Diperkirakan Naikkan Suku Bunga pada Desember
The Fed Kembali Tunda Naikkan Suku Bunga
(rna)
Lihat Juga :