Pengusaha Keberatan Pemda Intervensi Kebijakan Plastik Berbayar

Senin, 03 Oktober 2016 - 16:16 WIB
Pengusaha Keberatan...
Pengusaha Keberatan Pemda Intervensi Kebijakan Plastik Berbayar
A A A
JAKARTA - Pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengaku keberatan atas intervensi yang dilakukan Pemerintah Daerah (Pemda), terhadap kebijakan kantong plastik berbayar. Sebab, interpretasi Pemda terhadap kebijakan tersebut berbeda-beda dan membingungkan peritel.

(Baca: Pengusaha Ritel Kembali Gratiskan Kantong Plastik)

Ketua Umum Aprindo Roy Nicholas Mandey menjelaskan, intervensi yang dilakukan Pemda sejatinya muncul karena pemerintah melimpahkan kewenangan untuk menentukan harga kantong plastik kepada Pemda. Pelimpahan wewenang tersebut tercantum dalam Surat Edaran (SE) Menteri Lingkungan Hidup Nomor 8/PSCB3/PS/PCB./5/2016.

Dalam mejalankan kebijakan kantong plastik berbayar, pemerintah telah mengeluarkan dua kali surat edaran (SE). Surat edaran pertama yaitu Nomor S.1230/PSLB 3 - PS/2016 berlaku selama tiga bulan sejak Februari 2016 hingga Mei 2016, sedangkan Nomor 8/PSCB3/PS/PCB./5/2016 berlaku mulai 30 Mei 2016.

"Nah di SE Nomor 8 itu kita mustinya terima 30 Mei tapi baru terima 6 Juni, dan itu pun tetap kita coba lakukan. Yang disayangkan, SE yang kedua kami tiba-tiba mendapatkannya. Karena dalam SE itu ada beberapa poin yang tidak sesuai harapan kami, yaitu adanya pelimpahan wewenang kepada Pemda terhadap nilai dari plastik itu. Ini yang jadi polemik," katanya di Jakarta, Senin (3/10/2016).

(Baca: Pengusaha Minta Kebijakan Plastik Berbayar Tak Tebang Pilih)

Roy mengungkapkan, masing-masing daerah telah menginterpretasikan masing-masing mengenai kebijakan tersebut. Akibatnya, ada daerah yang menerapkan harga sebesar Rp1.500 sampai Rp5.000 per kantong.

"Bahkan ada yang sama sekali tidak mengizinkan kantong plastik ada di wilayahnya. Ini kan interpretasi yang tidak sesuai harapan dengan smangat awal. Ini yang membuat akhirnya masing-masing anggota kebingungan," imbuh dia.

Menurutnya, akibat interpretasi yang keliru tersebut kebijakan plastik berbayar menjadi berbeda di tiap kota. Padahal, ritel modern selama ini menerapkan harga berdasarkan sistem jejaring, di mana harga telah ditentukan di tingkat pusat.

"Ini yang kami sebut intervensi yang membuat ritel kita gundah. Kita jadi enggak fokus ke dagangan tapi malah bagaimana ngatur barang dagangan ini," akunya.

Intervensi lain, tambah Roy, peritel kerap dipanggil pihak berwajib untuk dimintai keterangan mengenai kebijakan kantong plastik berbayar. Padahal, kebijakan tersebut bukan atas inisiatif dari pengusaha melainkan dari pemerintah.

"Ini kan membuat persoalan baru. Di Palembang, kita dipanggil (kepolisian) yang bukan kaitan dengan dagangan. Dagang kan kita berkontribusi pajak, tenaga kerja, tapi harus memikirkan pesoalan yang bukan di perdagangan. Ini yang membuat anggota tidak bisa menerima dan melihat sebagai satu situasi yang harus kita biarkan," tandas Roy.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Vaksin Datang, Industri...
Vaksin Datang, Industri Ritel Pede Menyambut Tahun Baru 2021
Banjir Stimulus, Bisnis...
Banjir Stimulus, Bisnis Ritel Diyakini Kembali Bergeliat pada 2021
Turun, Aprindo Pasang...
Turun, Aprindo Pasang Target Pertumbuhan Ritel 5 Persen di Kuartal II
Soal Harga Barang, Peritel...
Soal Harga Barang, Peritel Ingin Tampil di Depan
Bangkitkan Bisnis Ritel,...
Bangkitkan Bisnis Ritel, Aprindo Vaksinasi Garda Terdepannya
Aprindo Sebut Oleh-oleh...
Aprindo Sebut Oleh-oleh Gairahkan Bisnis Ritel
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
40 menit yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
1 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
2 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
4 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
4 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
4 jam yang lalu
Infografis
Cilia Flores, Istri...
Cilia Flores, Istri Maduro yang Disebut Otak di Balik Kebijakan Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved