Wall Street Jatuh Terseret Rendahnya Saham Energi

Rabu, 21 Juni 2017 - 09:23 WIB
Wall Street Jatuh Terseret...
Wall Street Jatuh Terseret Rendahnya Saham Energi
A A A
NEW YORK - Pasar saham Amerika Serikat alias Wall Street ditutup lebih rendah pada perdagangan Selasa waktu AS, setelah sebelumnya berada di rekor tertinggi. Jatuhnya Wall Street imbas turunnya harga minyak yang menekan saham-saham energi.

Mengutip dari CNBC, Rabu (21/6/2017) indeks Dow Jones berakhir turun 61,85 poin atau 0,29% menjadi 21.467,14. Dan indeks S & P 500 terperosok 16,43 poin atau 0,67%, berakhir ke level 2.437,03, dimana sembilan saham energi berada di zona negatif. Begitu pula dengan Nasdaq yang mundur 50,98 poin atau 0,82%, ditutup pada posisi 6.188,03.

Harga minyak mentah AS untuk pengiriman Juli turun 2,19% menjadi ke level USD43,23 per barel, meski ditengah tanda-tanda kenaikan produksi. Harga minyak mentah memasuki level bearish, diperdagangkan sekitar 20% di bawah level tertinggi 52 minggu.

“Harga USD44 adalah area yang luas untuk minyak mentah,” kata JJ Kinahan, kepala strategi pasar di TD Ameritrade. “Saat ini berdampak pada saham tapi bisa lebih besar. Support utama berikutnya sekitar USD40.”

Sedangkan John Kilduff, pendiri hedge fund energi Again Capital mengatakan, harga minyak paling ideal sekitar USD40 per barel, dan ada kemungkinan akan turun di bawah USD40 per barel.

Menurut dia hal ini karena produksi minyak AS yang meningkat, sedangkan pembatasan produksi oleh OPEC dinilai tidak efektif. Pasalnya pasokan minyak mentah masih berlebih alias overhang.

Selain tekanan dari saham energi, rendahnya Wall Street pada Selasa waktu AS, karena investor terus memelototi Washington, dimana mereka mencerna pernyataan Ketua DPR AS Paul Ryan mengenai reformasi perpajakan. Ryan berbicara kepada CNBC, bahwa AS tidak dapat mencapai pertumbuhan 3% dengan reformasi pajak.

"Saya pikir Ryan sedang mencoba untuk benar di sini," kata Adrian Day, CEO Adrian Day Asset Management. Prospek reformasi pajak menjadi kunci agar pasar saham yang lebih tinggi, namun pemerintahan Trump dan Kongres belum memberikan rincian konkret mengenai reformasi pajak.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Wall Street Terdongkrak...
Wall Street Terdongkrak Diterpa Optimisme Pengembangan Vaksin Corona
Wall Street Berbalik...
Wall Street Berbalik Jatuh di Tengah Ancaman Trump Tutup Facebook dan Twitter
Wall Street Mixed Saat...
Wall Street Mixed Saat Dow dan S&P 500 Jatuh Dibayangi Kasus Baru Covid-19
Wall Street Turun Tajam...
Wall Street Turun Tajam Dihantam Aksi Jual Saham Teknologi
Microsoft Pikir-pikir...
Microsoft Pikir-pikir Beli TikTok Bikin Nasdaq Cetak Rekor, Wall Street Rebound
Wall Street Lebih Tinggi...
Wall Street Lebih Tinggi di Tengah Ancang-ancang Stimulus USD1 Triliun Gedung Putih
Berita Terkini
Implementasi PP TUNAS...
Implementasi PP TUNAS Harus Bisa Jaga Daya Saing Generasi Muda di Ekonomi Digital
6 jam yang lalu
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
6 jam yang lalu
BKI dan ASDP Perkuat...
BKI dan ASDP Perkuat Sinergi Keselamatan Kerja Melalui Audit SMK3
6 jam yang lalu
Silmy Karim Dicopot...
Silmy Karim Dicopot dari Komisaris Telkom usai Tersangka KPK
6 jam yang lalu
DPR Ingatkan Potensi...
DPR Ingatkan Potensi Moral Hazard Penambahan Layer Rokok Ilegal
7 jam yang lalu
Merger BUMN Karya Mundur...
Merger BUMN Karya Mundur ke Kuartal IV-2026, BP BUMN Ungkap Alasannya
7 jam yang lalu
Infografis
25 Drone Kamikaze yang...
25 Drone Kamikaze yang Dioperasikan India Ditembak Jatuh Pakistan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved