Wall Street Tersungkur Akibat Meningkatnya Perang Dagang AS-China

Selasa, 14 Mei 2019 - 07:02 WIB
Wall Street Tersungkur...
Wall Street Tersungkur Akibat Meningkatnya Perang Dagang AS-China
A A A
NEW YORK - Bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) tersungkur pada penutupan dagang waktu setempat, setelah China memutuskan siap menaikkan tarif masuk terhadap produk AS. Hal ini membuat perang dagang antara dua negara ekonomi besar dunia semakin meningkat.

Mengutip dari CNBC, Selasa (14/5/2019), indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 617,38 poin atau 2,4% menjadi 25.324,99, merupakan sesi terburuk sejak 3 Januari. Pun dengan S&P 500 yang terpuruk 2,4% ke level 2.811,87. Nasdaq jatuh 3,4% menjadi 7.647,02, kerugian terbesar sepanjang 2019 berjalan.

Kementerian Keuangan China pada Senin waktu setempat, mengumumkan siap menaikkan tarif produk AS senilai USD60 miliar sebagai pembalasan, dan akan berlaku pada 1 Juni mendatang.

Beijing akan menaikkan tarif terhadap lebih dari 5.000 produk AS hingga 25%. Sedangkan produk lainnya akan dikenakan kenaikan tarif hingga 20%. Sebelumnya produk AS yang masuk ke China dikenakan bea masuk 5% hingga 10%.

Langkah ini kata Kementerian Keuangan China mengikuti keputusan Presiden Trump yang menaikkan bea masuk atas produk China senilai USD200 miliar menjadi 25% dari sebelumnya 10%.

Perang tarif antara kedua negara membuat saham-saham perusahaan AS yang memiliki eksposur di luar negeri turun tajam. Saham Caterpillar anjlok 4,6%, Boeing turun 4,9%, dan Apple jatuh hingga 5,8%. Hanya sektor saham real estat yang memiliki kekuatan domestik yang ditutup menguat di indeks S&P 500.

Kepala strategi pasar di TD Ameritrade, J.J. Kinahan, mengatakan volatilitas akan terus terjadi selama perang dagang berlangsung. Hal ini diamini oleh CEO Ladenburg Thalmann Asset Management, Phil Blancato, yang mengatakan akan banyak volatilitas di masa mendatang.

Untuk membendung penurunan, kata dia, AS dan China harus benar-benar kembali ke meja perundingan. "Retorika yang kami baca saat ini mereka berdua tidak ada di tempat perundingan. Dan saham mengalami kepanikan".

Phil mengatakan, jika kepanikan terus terjadi maka orang-orang akan memilih kepada obligasi, yang beberapa minggu terakhir telah mengalami kenaikan. Namun, pada Senin waktu AS, imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun turun menjadi 2,39% dan obligasi bertenor 2 tahun turun menjadi 2,17%.

Hal tersebut menjadikan Indeks Volatilitas Cboe, yang menjadi pengukur ketakutan di pasar saham, naik 4,51 poin menjadi 20,55.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Di Tengah Kekhwatiran...
Di Tengah Kekhwatiran Pandemi dan Perang Dagang, Wall Street Cetak Rekor
Perang Dagang Guncang...
Perang Dagang Guncang Pasar Global, Begini Gerak IHSG dalam Sepekan
Wall Street Terdongkrak...
Wall Street Terdongkrak Diterpa Optimisme Pengembangan Vaksin Corona
Wall Street Berbalik...
Wall Street Berbalik Jatuh di Tengah Ancaman Trump Tutup Facebook dan Twitter
Wall Street Bangkit...
Wall Street Bangkit Ditopang Dua Raksasa Teknologi
Ditopang Saham-saham...
Ditopang Saham-saham Bank, Wall Street Dibuka Naik
Berita Terkini
Menjaga Pertumbuhan,...
Menjaga Pertumbuhan, Ratusan Brand Andalkan Efisiensi Material Kemasan
3 menit yang lalu
Gaduh Pengangkatan Komisaris...
Gaduh Pengangkatan Komisaris BUMN, Qodari: Penting untuk Kawal Agenda Negara
1 jam yang lalu
Vietnam dan Filipina...
Vietnam dan Filipina Bersaing Jadi Raja ASEAN, Mengapa Indonesia Tertinggal?
4 jam yang lalu
Guru Besar IPB: Klaim...
Guru Besar IPB: Klaim Kerugian Rp600 Triliun Akibat Under Invoicing Sawit Harus Diaudit Secara Independen
4 jam yang lalu
Komut Pertamina Salurkan...
Komut Pertamina Salurkan Seragam Sekolah bagi 200 Anak Prasejahtera di Banyuwangi
5 jam yang lalu
Jababeka Infrastruktur...
Jababeka Infrastruktur Raih 6 Penghargaan TJSLP/CSR Awards 2026 dari Pemkab Bekasi
6 jam yang lalu
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved