Pembangunan Pembangkit Lambat, Pendapatan Per Kapita Sulit Melesat

Rabu, 27 November 2019 - 21:56 WIB
Pembangunan Pembangkit...
Pembangunan Pembangkit Lambat, Pendapatan Per Kapita Sulit Melesat
A A A
JAKARTA - Pertumbuhan konsumsi listrik ternyata sangat berpengaruh pada pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) suatu negara. Pertumbuhan konsumsi listrik yang mendatar (flat) umumnya juga terefleksi pada relatif rendahnya pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Hal itu diungkapkan Kepala Perwakilan ThorCon International, Pte., Ltd., Bob S Effendi pada acara "Indonesia Power Generation Convention & Exhibition 2019" yang diselenggarakan di Balai Kartini, Jakarta, hari ini.

Dalam paparannya, Bob mencontohkan Indonesia yang tingkat konsumsi listriknya mendatar mengakibatkan pertumbuhan ekonomi negara ini juga tidak naik secara signifikan. Sementara, China dan Malaysia yang konsumsi listriknya naik tinggi menunjukkan pertumbuhan PDB yang juga naik dan tumbuh signifikan. Bahkan, PDB Korea Selatan sejak pertumbuhan konsumsi listriknya naik secara signifikan sekitar tahun 1985, meroket naik jauh meninggalkan negara lainnya.

"Banyak yang tidak menyadari bahwa Indonesia telah tertinggal jauh dari negara-negara lain yang pada tahun 1960-an memiliki pendapatan per kapita di bawah kita, seperti Korea Selatan, China dan Malaysia," ungkapnya dalam siaran pers, Rabu (27/11/2019).

Dia menjelaskan, salah satu faktor penting mengapa pertumbuhan konsumsi listrik Korea Selatan meroket naik adalah karena tingkat konsumsi listrik di Negeri Ginseng itu tidak mengandalkan konsumsi listrik rumah tangga sebagai yang utama, tetapi mengandalkan konsumsi listrik dari sektor industri yang membutukan kapasitas besar.

Hal tersebut, kata dia, berbanding terbalik dengan keadaan di Indonesia yang masih mengandalkan konsumsi listrik rumah tangga, bukan dari sektor industri. Hal itu berkaitan pula dengan pertumbuhan industri Indonesia yang cenderung terus turun.

Konsumsi listrik per kapita Indonesia, kata Bob, selama sembilan tahun terakhir hanya meningkat 1,8 kali dan baru mencapai sekitar 1.064 kWh per tahun. Dengan angka tersebut, Indonesia pada tahun 2018 menduduki peringkat 116 dari 189 negara (UNDP) dengan nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 0,694 atau masih jauh di bawah IPM level negara maju yang sekitar 0,9.

"Semua ketertinggalan tersebut mengakibatkan Indonesia berada dalam middle income trap bersama negara-negara terbelakang lainnya," cetusnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, jika Indonesia menginginkan level kesejahteraan seperti negara tetangga Malaysia, maka Indonesia harus merencanakan pembangunan pembangkit listrik berkapasitas besar dalam kurun waktu yang singkat. Kondisi saat ini, kata dia, menunjukkan kapasitas terpasang mencapai 62,5 Gigawatt (GW) dengan konsumsi listrik 1.064 kWh per tahun per kapita yang masih jauh dari angka level kesejahteraan yang dinyatakan oleh UNDP di angka 4.000 kWh per kapita.

Bob menambahkan, agar level kesejahteraan Indonesia mencapai 4.000 KWh per kapita, maka dibutuhkan sekitar empat kali dari konsumsi listrik terpasang saat ini. Untuk itu, kata dia, tambahan kapasitas terpasang yang dibutuhkan mencapai sekitar 190 GW. Untuk mengejar pertumbuhan Malaysia, lanjut dia, Indonesia perlu membangun kapasitas terpasang sebesar 10 GW per tahun. Sedangkan, untuk mengejar Korea Selatan, Indonesia perlu membangun 15-18 GW per tahun.

"Padahal, saat ini untuk membangun 35 GW saja sulit tercapai, apalagi 190 GW. Bila keadaan ini terus berlanjut, maka Indonesia akan sulit untuk mengejar level kesejahteraan," ujarnya.

Kekurangan-kekurangan tersebut, sambung dia, harus dipenuhi dalam kurun berapa tahun. Hal itu, imbuh dia, tergantung dari seberapa besar niat pemerintah untuk mengejar ketertinggalan tersebut agar Indonesia dapat mencapai level sejahtera dan terhindar dari middle income trap.

"Dan untuk mencapai target tersebut diperlukan pembangkit listrik skala besar yang handal, terjangkau dan bersih yang hanya dapat diberikan oleh PLTN," jelasnya.

ThorCon, sambung dia, dapat memenuhi kebutuhan tersebut melalui investasi dengan skema Independent Power Producer (IPP) senilai Rp17 triliun dengan target harga jual listrik yang bahkan kompetitif terhadap harga jual listrik pembangkit berbahan bakar batu bara, sehingga dapat memenuhi kebutuhan sektor industri.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Canggih, di Babel Bakal...
Canggih, di Babel Bakal Dibangun Prototipe PLTN Berbasis Thorium
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Tak Capai 7 Persen, Listrik Oversupply
PLN Optimistis Penjualan...
PLN Optimistis Penjualan Listrik Tumbuh Positif di 2021
Ekonomi Bangkit, PLN...
Ekonomi Bangkit, PLN Proyeksikan Penjualan Listrik Tumbuh 4,71% di 2021
Pemerintah Tolong Pancing...
Pemerintah Tolong Pancing Orang Kaya Belanja Produk Mahal
Sri Mulyani Ramalkan...
Sri Mulyani Ramalkan Skenario Terburuk, Konsumsi Rumah Tangga 0% di Kuartal II
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
52 menit yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
1 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
2 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
4 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
4 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
4 jam yang lalu
Infografis
Rp708 Juta per Jam,...
Rp708 Juta per Jam, Biaya Operasional F-35 Israel Sekali Terbang
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved