Menko Airlangga Tak Masalah AS Hapus RI dari Daftar Negara Berkembang

Senin, 24 Februari 2020 - 18:41 WIB
Menko Airlangga Tak...
Menko Airlangga Tak Masalah AS Hapus RI dari Daftar Negara Berkembang
A A A
JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartaro menilai penghapusan Indonesia dari daftar negara berkembang oleh Amerika Serikat (AS) bukan menjadi masalah. Meski penghapusan tersebut berpotensi menghilangkan beberapa fasilitas seperti keringanan bea masuk bagi Indonesia yang akibatnya memperbesar biaya ekspor.

"Kita optimis. Sekarang kita punya GSP yang hanya 20%. (Nanti) kita bisa berdaya saing, (jadi) tidak masalah," kata Menko Airlangga di Jakarta, Senin (24/2/2020).

(Baca Juga: AS Keluarkan RI dari Daftar Negara Berkembang, Menko Airlangga Tidak Khawatir )

Sebagai catatan, dengan pencabutan status negara berkembang tersebut fasilitas perdagangan yang didapatkan Indonesia dari Amerika Serikat (AS), yaitu Generalized System of Preference (GSP) terancam dicabut. GSP merupakan kebijakan sepihak (unilateral) yang umumnya dimiliki negara maju untuk membantu perekonomian negara berkembang, dalam bentuk manfaat pemotongan bea masuk impor.

(Baca Juga: AS Cabut Status Negara Berkembang, Bukti Indonesia Negara Maju )

Bahkan menurutnya, Indonesia patut bangga mengenai kebijakan AS yang menghapus Indonesia bersama beberapa negara lainnya dari daftar negara berkembang. Airlangga mengatakan pencabutan tersebut membuktikan Indonesia sekarang adalah negara maju.

"Justru kita berbangga. Kita ini masuk negara G20, kita sekarang negara kekuatan ekonomi nomor 15 di dunia. Purchasing power (kemampuan daya beli) kita nomor 7 di dunia. Masak mau dianggap negara berkembang terus. Kita sudah jadi negara maju tapi ada yang enggak mau kita maju," tandasnya.

Sekedar informasi, Kantor Perwakilan Perdagangan AS (USTR) mencoret Indonesia dari daftar negara berkembang dan memasukkan ke negara maju, yang disampaikan pada Senin (10/2) lalu. Selain Indonesia, terdapat sejumlah negara yang juga dihapus AS dari daftar negara-negara berkembang, di antaranya Argentina, Brazil, China, Hong Kong, India, Malaysia, Singapura, Afrika Selatan, Korea Selatan, Thailand, Ukraina, hingga Vietnam.

Sebelumnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump kerap melontarkan kekesalannya, lantaran negaranya banyak dirugikan lantaran banyak negara yang pura-pura jadi negara berkembang sehingga membuat defisit perdagangan. Hal itu dilakukan agar mendapatkan perlakuan istimewa dalam beberapa kesepakatan dagang di WTO.

Tahun lalu, Presiden AS pernah mengungkapkan kekecewannya pada negara-negara yang ekonominya sudah cukup besar, namun engggan melepaskan statusnya sebagai negara berkembang di WTO. "WTO itu rusak ketika negara-negara kaya di dunia mengklaim sebagai negara berkembang untuk menghindari aturan-aturan WTO dan mendapat perlakuan khusus. Tak boleh lagi!" ujar Trump dalam akun Twitternya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pilih Gandeng BRICS,...
Pilih Gandeng BRICS, Negara Maju G7 Bakal Melawan AS?
Bahlil Sebut Negara...
Bahlil Sebut Negara Maju Pakai Standar Ganda dalam Perdagangan Karbon
Ekonomi China Mungkin...
Ekonomi China Mungkin Tidak Akan Pernah Melampaui Ekonomi Amerika
Melebur G7 Bersama BRICS...
Melebur G7 Bersama BRICS untuk Melawan Fragmentasi Dunia
Bingung! RI Masih Jadi...
Bingung! RI Masih Jadi Negara Berkembang Meski Kaya Sumber Daya Alam
Wanti-wanti Dampak Perlambatan...
Wanti-wanti Dampak Perlambatan Global Terhadap Laju Ekspor RI
Berita Terkini
Tokenisasi Saham AI...
Tokenisasi Saham AI Diminati Investor, Bittime Catat Kepemilikan Naik 106%
8 jam yang lalu
Iran-AS Memanas Lagi,...
Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
8 jam yang lalu
Pertamina Manfaatkan...
Pertamina Manfaatkan Jakarta Fair Perkuat Daya Saing UMKM Lokal
9 jam yang lalu
Pasar Saham RI Terancam...
Pasar Saham RI Terancam Turun Kelas, Modal Asing Bisa Kabur Rp3,6 Triliun
9 jam yang lalu
Sertifikasi Influencer...
Sertifikasi Influencer Kripto Dinilai Jadi Langkah Positif Bangun Ekosistem Lebih Sehat
10 jam yang lalu
Rupiah Kian Krasan di...
Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?
10 jam yang lalu
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved