Pembangunan kilang solusi kurangi impor BBM

Senin, 30 September 2013 - 15:12 WIB
Pembangunan kilang solusi...
Pembangunan kilang solusi kurangi impor BBM
A A A
Sindonews.com - Kalangan pengamat menilai pembangunan kilang minyak baru di dalam negeri adalah solusi untuk menekan impor bahan bakar minyak (BBM), sehingga Indonesia bisa keluar dari defisit neraca perdagangan yang semakin membesar.

Direktur Eksekutif Reforminer Institute Pri Agung Rakhmanto menilai, pemerintah harus mendukung pembangunan kilang BBM di dalam negeri, kemudian dimasukan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Hal itu jika pemerintah benar-benar memikirkan kebijakan energi secara nasional.

"Selama ini, kebijakan pemerintah hanya basa-basi saja tidak pada pokok permasalahan. Kalau ingin menyelasikan masalah itu harus dilaksanakan," kata dia dalam acara Mini Seminar Koran Sindo dengan tema "Menciptakan Kebijakan Energi Berorientasi Pada Ketahanan Energi Nasional" di Hotel Shangrila, Jakarta, Senin (30/9/2013).

Menurutnya, pembangunan kilang minyak mendesak dilaksanakan. Pasalnya, dengan pertumbuhan kebutuhan BBM sebesar 5 persen per tahun, pada tahun 2018 diperkirakan kebutuhan BBM mencapai 77 juta kiloliter (kl). Sementara saat ini, tanpa pembangunan kilang baru, PT Pertamina hanya dapat menyediakan BBM sebanyak 40 juta kl.

"Pembangunan kilang tidak boleh ditunda-tunda. Saat ini adalah momentum tepat untuk memasukan insentif kilang dalam revisi Undang-Undang Migas sedang di godok di DPR," kata dia.

Dengan begitu, lanjutnya, perlu adanya kemauan politik pemerintah, untuk mengurangi impor BBM dengan memberikan insentif yang menarik kepada investor.

"Bisnis kilang ini penentunya adalah harga crude kemudian dihitung marginnya. Jangan harap investor mau menanam sahamnya di situ tanpa adanya insentif, itu nonsense," tegasnya.

Permintaan insentif pembangunan kilang BBM dari calon investor asing yang berminat membangun kilang di Indonesia dinilai wajar. Investor pasti akan meminta insentif kepada pemerintah terkait rencana pembangunan kilang BBM karena ketatnya daya saing industri kilang di dunia.

"Banyaknya negara yang telah membangun kilang BBM membuat daya saing produk kilang menjadi tinggi, sehingga dibutuhkan dukungan pendanaan besar untuk membangunnya," kata dia.

Sementara itu pengamat energi lainnya Dharmawan Prasodjo menilai, Pertamina sekarang sudah sangat profesional. Maka dari itu, perlu adanya dukungan tata kelola energi yang tepat dari pemerintah agar mempunyai teknologi lebih maju untuk mengembangkan energi nasional.

"Kalau tata kelola energinya labil, maka diperlukan stabilisasi energi," kata dia.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pengamat: Subsidi Langsung...
Pengamat: Subsidi Langsung Jadi Solusi Masalah Penyaluran BBM
Kuota BBM Subsidi Tahun...
Kuota BBM Subsidi Tahun Depan Disepakati, Ini Rinciannya
Kasus Penyalahgunaan...
Kasus Penyalahgunaan BBM Bersubsidi, Bareskrim: Pelaku Tampung dari Sejumlah SPBU
Solar Subsidi di Natuna...
Solar Subsidi di Natuna Dinikmati Masyarakat Menengah ke Atas, Pengawasan Pertamina Dinilai Lemah
Kuota BBM Pertalite...
Kuota BBM Pertalite Menipis, Butuh Tambahan 6 Juta KL hingga Akhir 2022
Kuota BBM Pertalite...
Kuota BBM Pertalite Menipis, Tinggal Tersisa 4 Juta Kiloliter
Berita Terkini
Jatuhkan Denda ke 97...
Jatuhkan Denda ke 97 Pindar, Putusan KPPU Dinilai Tidak Sah
42 menit yang lalu
Hadir di CEO Talks Unand,...
Hadir di CEO Talks Unand, Pegadaian Ajak Generasi Muda Melek Investasi Sejak Dini
1 jam yang lalu
Perkuat Ekonomi Rakyat,...
Perkuat Ekonomi Rakyat, BSI Apresiasi Penempatan SAL untuk Pembiayaan Produktif
1 jam yang lalu
Rekor Terburuk Sejak...
Rekor Terburuk Sejak 1986! Yen Jepang Hancur Lebur ke Titik Terendah
1 jam yang lalu
Merger Enam BPR Dapat...
Merger Enam BPR Dapat Restu OJK, Lintas 5 Provinsi di Sumatera
2 jam yang lalu
Penuhi Target 100 GW...
Penuhi Target 100 GW PLTS, Kesiapan SDM Lokal Jadi Syarat Mutlak
2 jam yang lalu
Infografis
Ini 3 Negara Musuh AS...
Ini 3 Negara Musuh AS yang Tidak Terkena Tarif Impor Trump
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved