Pemerintah Didesak Cabut Subsidi BBM

Minggu, 25 Mei 2014 - 13:07 WIB
Pemerintah Didesak Cabut...
Pemerintah Didesak Cabut Subsidi BBM
A A A
BANDUNG - Subsidi bahan bakar minyak (BBM) hingga kini masih menjadi salah satu masalah dalam anggaran pemerintah. Asumsi yang dibuat setiap tahun untuk subsidi selalu meleset karena pergerakan nilai tukar dan harga minyak dunia.

Ekonom Anton Hermanto Gunawan mengatakan, sudah selayaknya pemerintah mencabut subsidi BBM. Selain memberatkan anggaran, subsidi BBM juga menyebabkan diskriminasi harga yang menyebabkan kebocoran.

Komisaris Bank Mandiri ini menilai, murahnya harga BBM subsidi, seperti premium dan solar di Indonesia berpotensi kembali dijual ke luar negeri dengan harga yang lebih mahal.

"Kejelekan utama dari penerapan subsidi BBM itu membuat diskriminasi harga. Kalau kita tidak bisa memisahkan pasarnya maka akan ada kebocoran. Kalaupun kita bisa memisahkan pasar akhirnya orang beli yang murah, kemudian dijual keluar negeri ataupun orang yang tadi seharusnya beli yang mahal," jelas Anton dalam acara pelatihan wartawan Bank Indonesia (BI) di Holiday Inn Bandung, Jawa Barat, Minggu (25/5/2014).

Namun demikian, Anton mengaku tidak punya data pasti berapa besar BBM subsidi yang kembali dijual keluar negeri. Namun, dia tidak membantah kejadian ini pasti terjadi di Indonesia yang dilakoni oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

"Saya tidak tahu persis datanya. Kalau dari omongan itu ada (jual keluar negeri). Anda coba lihat produksi berapa, konsumsi berapa, pasti ada selisih," ungkap Anton.

Sebab itu, dia menyarankan pemerintah mencabut subsidi BBM secara bertahap. Anggaran subsidi bisa diberikan langsung kepada orang yang berhak sehingga tepat sasaran.

"Subsidi kasih saja langsung bantuan ke orang miskin. Bisa naik secara bertahap mengurangi, tapi dijelaskan ada fasilitas untuk orang miskin dan hampir miskin. Peralihan itu yang harus dipahami. Memang ada inflasi tapi cuma 2-3 bulan saja," tambahnya.

Selain itu, pemerintah juga diminta fokus pada energi alternatif seperti gas. Penggunaan gas jauh lebih murah dibandingkan menggunakan BBM. "Penggunaan BBM dialihkan ke tempat kita lebih bagus, yaitu gas," pungkasnya.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Tak Tepat Sasaran, Hanya...
Tak Tepat Sasaran, Hanya 40 Persen Masyarakat Tak Mampu Penerima Subsidi BBM
Menilik Urgensi Reformasi...
Menilik Urgensi Reformasi Subsidi BBM, Jangan Lupakan 2 Hal Ini
Subsidi BBM Jadi Beban...
Subsidi BBM Jadi Beban APBN, Legislator: Harus Cari Cara Tepat Sasaran
Pengamat: Subsidi Langsung...
Pengamat: Subsidi Langsung Jadi Solusi Masalah Penyaluran BBM
Kuota BBM Subsidi Tahun...
Kuota BBM Subsidi Tahun Depan Disepakati, Ini Rinciannya
DPR Usul Sistem Pemberian...
DPR Usul Sistem Pemberian Subsidi BBM Diubah
Berita Terkini
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
13 menit yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
30 menit yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
1 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
1 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
2 jam yang lalu
Pjs Dirut BEI Sebut...
Pjs Dirut BEI Sebut Fundamental Pasar Saham RI Masih Bagus, Ini Buktinya
2 jam yang lalu
Infografis
Pemprov DKI Jakarta...
Pemprov DKI Jakarta Potong Pajak Pembelian BBM 5%
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved