Timur Tengah Membara, S&P: Ekonomi Global Masuki Masa Berbahaya

Rabu, 09 Oktober 2024 - 14:03 WIB
Minggu lalu, patokan minyak dunia mengalami kenaikan mingguan terbesar sejak Maret 2023. Selama perdagangan Asia pada hari Selasa, harga patokan minyak global Brent merosot 1,77% menjadi USD79,50 per barel, sementara West Texas Intermediate AS diperdagangkan 1,83% lebih rendah pada USD75,77 per barel.

Namun, seperti dilansir CNBC, Rabu (9/10/2024), Yergin memperkirakan pembalasan Israel tidak hanya akan menjadi pengulangan serangan pada April lalu, tetapi sesuatu yang "jauh lebih kuat." Bulan April lalu, Iran dan Israel saling serang, meski akhirnya terhindar dari perang skala penuh. Iran menembakkan ratusan rudal balistik dan pesawat nirawak ke Israel sebagai balasan atas serangan terhadap fasilitas diplomatik Iran di Suriah.

Ketika ditanya apakah ekonomi global berada di ambang guncangan pasokan lain yang diakibatkan oleh ketegangan Timur Tengah, Yergin mengatakan ini adalah waktu yang genting bagi pasar. "Saya pikir ini adalah waktu yang sangat berbahaya, yang belum pernah kita lihat," katanya. Selain itu, meskipun Yergin menyatakan bahwa tidak pasti apakah Iran memiliki senjata nuklir yang beroperasi, hal itu masih "tentu saja masih dalam latar belakang," khususnya melalui sudut pandang Israel.

Baca Juga: Iran Tegaskan Sepenuhnya Siap untuk Perang

"Pertaruhannya adalah bahwa Israel tidak akan menyerang, mencoba menyerang, fasilitas nuklir saat ini. Namun beberapa bulan dari sekarang, beberapa minggu dari sekarang, apa pun itu, Iran akan memiliki kapasitas — diperkirakan — untuk mengirimkan senjata nuklir, dan itu meningkatkan taruhannya," katanya, menyamakan momen itu dengan Krisis Rudal Kuba tahun 1962.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!