Ancaman Trump dan Fakta-fakta Soal Upaya BRICS Melengserkan Dolar AS

Kamis, 05 Desember 2024 - 16:04 WIB
Sementara Brasil mengumumkan pada 31 Maret bahwa yuan China telah menggantikan euro sebagai mata uang terbesar kedua dalam cadangan devisanya, hingga memicu kekhawatiran bahwa status cadangan dolar dapat terancam.

Namun terlepas dari dorongan dedolarisasi China, yuan masih hanya menyumbang 2,7% dari semua cadangan devisa, menurut IMF. Hal ini membuat analis menyakini tidak mungkin mata uang saingan akan menggeser dolar AS dalam waktu dekat.

Goldman Sachs mengatakan, dalam sebuah catatan penelitian tahun lalu bahwa yuan akan selalu berjuang untuk melalui "rintangan tinggi untuk mencapai status teratas sebagai mata uang dalam transaksi global."

"Ada banyak ketidakpastian dalam status mata uang cadangan," kata tim ahli strategi yang dipimpin oleh Kamakshya Trivedi.

"Sejauh ini, dan kemungkinan untuk waktu yang lama, upaya dedolarisasi tetap terkendali dan dibatasi."

Baca Juga: 8 Konsekuensi Negara-negara BRICS jika Nekat Meninggalkan Dolar AS

Sementara itu ancaman terbaru Trump menunjukkan dia khawatir tentang kekuatan dolar, dan tren dedolarisasi tidak banyak memengaruhi status greenback sebagai mata uang cadangan utama bank sentral atau dominasinya dalam perdagangan global.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!