Wanita Ini Tolak Rp16 Triliun dari Meta, Kok Bisa?

Rabu, 06 Agustus 2025 - 20:12 WIB
Thinking Machines Lab saat ini sedang mengembangkan teknologi AI multimodal yang memungkinkan interaksi manusia dengan mesin melalui suara, teks, dan penglihatan. Meski belum meluncurkan produk, perusahaan tersebut telah mengantongi pendanaan besar dan mencapai valuasi lebih dari USD1 miliar.

Meta, di bawah kepemimpinan Mark Zuckerberg, disebut tengah agresif mengincar talenta AI global untuk memperkuat Superintelligence Lab mereka. Akuisisi Thinking Machines Lab menjadi salah satu target utama, menyusul langkah mereka mengakuisisi 49 persen saham perusahaan AI lain, ScaleAI, senilai Rp240 triliun.

Direktur Komunikasi Meta, Andy Store, mengonfirmasi adanya tawaran kepada sejumlah individu di Thinking Machines Lab. Namun, ia menyebut banyak detail yang beredar tidak akurat dan menyayangkan narasi yang berkembang. "Hanya segelintir orang yang kami dekati, dan informasi yang beredar tidak semuanya benar," katanya.

Latar belakang Murati sebagai salah satu arsitek utama di balik GPT-4 di OpenAI memberi bobot besar pada keputusannya. Selama menjabat sebagai CTO, ia dikenal vokal mendorong standar tinggi dalam keamanan, transparansi, dan etika pengembangan AI.

Murati menilai bahwa visi membangun AI yang menjadi perpanjangan agensi manusia secara bebas dan merata lebih penting daripada sekadar mengejar keuntungan finansial. "Kami ingin menciptakan AI yang tidak terjebak dalam struktur perusahaan besar dan mampu melayani semua orang," tegasnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!