Saat Benteng Rusia Runtuh, Ekonomi Global Menghadapi Tatanan Dunia Baru

Minggu, 24 April 2022 - 04:57 WIB
Di bawah rencana Benteng Rusia milik Putin untuk melindunginya dari sanksi, Moskow telah membangun cadangan devisa perang senilai USD640 miliar. Beberapa orang khawatir sanksi keuangan dan dolar AS ini memiliki konsekuensi jangka panjang, mungkin memikat negara-negara ke kubu yang dipimpin oleh China.

Bank Rusia beralih ke alternatif Swift yang berbasis di Belgia untuk memperlancar pembayaran lintas batas. Bank sentralnya memiliki sistem sendiri yang telah ditawarkan India untuk pembayaran rubel, sementara China juga memiliki alternatif yang dapat menyaingi Swift.

Pemberi pinjaman di Moskow telah beralih ke raksasa pembayaran China UnionPay untuk membantu mereka mengeluarkan kartu debit dan kredit setelah Visa dan Mastercard bergabung dengan eksodus massal merek-merek Barat dari Rusia.

Baca Juga: Kirain Rusia, Justru Amerika Serikat yang di Ambang Resesi Ekonomi

Dua raksasa transaksi pembayaran Amerika menyumbang 70% dari pasar kartu debit Rusia, tetapi Kremlin menciptakan sistemnya sendiri, Mir, setelah aneksasi Krimea. Setelah kepergian Visa dan Mastercard, bank-bank Rusia dan Mir berharap dapat bekerja sama dengan UnionPay, yang telah berkembang pesat di luar China dalam beberapa tahun terakhir, untuk menerbitkan kartu.

Namun, laporan menunjukkan pekan lalu bahwa UnionPay mulai bersikap dingin, karena khawatir akan terseret ke dalam sanksi Barat. Kekhawatiran perpecahan juga telah menghidupkan kembali perdebatan lama tentang apakah dolar AS berisiko kehilangan statusnya sebagai mata uang cadangan dunia.

"Setelah perang ini berakhir, 'uang' tidak akan pernah sama lagi," kata Zoltan Pozsar dari Credit Suisse saat ia mendeklarasikan "tatanan (moneter) dunia baru" setelah pembekuan cadangan bank sentral Rusia.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!