Dipicu Ekonomi China, Harga Minyak Dunia Menghangat
Senin, 27 Februari 2023 - 10:10 WIB
loading...
China merupakan negara importir minyak terbesar dunia. Foto/Arabnews
A
A
A
JAKARTA - Harga minyak mentah naik di awal pekan, Senin (27/2/2023), menantikan isyarat permintaan dari ekonomi China yang akan dirilis pekan ini. Hingga pukul 09:35 WIB minyak Brent untuk Mei 2023 di Intercontinental Exchange (ICE) naik 0,17% di level USD82,996 per barel, sedangkan West Texas Intermediate AS untuk pengiriman April 2023 di New York Mercantile Exchange (NYMEX) menanjak 0,22% di USD76,48 per barel.
Baca juga: Harga Minyak Naik Tipis, Brent dan WTI Bangkit Usai Tertekan 6 Hari Beruntun
Indeks manufaktur atau Purchasing Managers 'Index (PMI) China untuk bulan Februari akan dirilis pada hari Rabu pekan ini. Data bulan Januari menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi Beijing pasca-covid mendorong permintaan, sehingga membantu meningkatkan harga di tingkat global, mengingat China adalah salah satu importir minyak terbesar dunia.
Namun, pasar memproyeksikan ada sedikit kontraksi di sektor manufaktur karena Negeri Tirai Bambu itu masih terpukul oleh dampak lockdown selama tiga tahun ditambah adanya perlambatan permintaan ekspor.
Melansir Reuters, Senin (27/2), sentimen pemberat harga juga datang dari kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga dan pertumbuhan ekonomi yang melambat. Lebih jauh, harga juga terbebani berkat performa dolar yang kuat, ditambah sikap hawkish Federal Reserve Amerika Serikat dalam mengatasi inflasi.
Baca juga: Harga Minyak Naik Tipis, Brent dan WTI Bangkit Usai Tertekan 6 Hari Beruntun
Indeks manufaktur atau Purchasing Managers 'Index (PMI) China untuk bulan Februari akan dirilis pada hari Rabu pekan ini. Data bulan Januari menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi Beijing pasca-covid mendorong permintaan, sehingga membantu meningkatkan harga di tingkat global, mengingat China adalah salah satu importir minyak terbesar dunia.
Namun, pasar memproyeksikan ada sedikit kontraksi di sektor manufaktur karena Negeri Tirai Bambu itu masih terpukul oleh dampak lockdown selama tiga tahun ditambah adanya perlambatan permintaan ekspor.
Melansir Reuters, Senin (27/2), sentimen pemberat harga juga datang dari kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga dan pertumbuhan ekonomi yang melambat. Lebih jauh, harga juga terbebani berkat performa dolar yang kuat, ditambah sikap hawkish Federal Reserve Amerika Serikat dalam mengatasi inflasi.
Lihat Juga :