Mengenal Lebih Dekat Silicon Valley Bank, Spesialis Pendukung Para Startup

Senin, 13 Maret 2023 - 16:43 WIB
loading...
Mengenal Lebih Dekat...
Silicon Valley Bank (SVB) yang dinyatakan bangkrut dan diambil alih oleh regulator pada akhir pekan kemarin, merupakan bank yang punya spesialisasi pembiayaan bagi perusahaan rintisan teknologi atau startup. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Silicon Valley Bank (SVB) yang dinyatakan bangkrut dan diambil alih oleh regulator Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan kemarin, merupakan bank yang punya spesialisasi pembiayaan bagi perusahaan rintisan teknologi atau startup . Namanya mungkin tidak terlalu dikenal, namun SVB termasuk dalam 20 bank komersil teratas di AS.

Baca Juga: Silicon Valley Bank Bangkrut, Regulator Tangani Kegagalan Terbesar Bank AS Sejak 2008

Berdiri pada 1983, mereka menyediakan pembiayaan untuk hampir setengah dari perusahaan teknologi. Silicon Valley Bank didirikan oleh mantan manajer Bank of America, Bill Biggerstaff, Robert Medearis dan Roger Smith.

Diluncurkan pada 17 Oktober 1983, sebagai anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Silicon Valley Bancshares (sekarang SVB Financial Group) dengan 100 investor awal. Kantor pertamanya terletak di North First Street di San Jose.

Baca Juga: 5 Fakta di Balik Bangkrutnya Silicon Valley Bank Asal Amerika Serikat

Pada tahun 1986, SVB dan National InterCity Bancorp bergabung dan membuka kantor di Santa Clara. Mereka juga membuka kantor pertamanya di pantai timur pada tahun 1990, dekat Boston untuk melayani koridor teknologi Massachusetts Route 128.

Bank melakukan bisnis pinjaman real estat yang substansial pada tahun-tahun awalnya, menghasilkan 50% dari portofolionya di awal 1990-an. Kemerosotan di pasar real estat California mengakibatkan kerugian USD2,2 juta bagi bank pada tahun 1992, dan pada tahun 1995 persentase portofolio turun menjadi 10%.

Pada tahun 1993, John C. Dean diangkat sebagai CEO, dengan CEO pendiri Roger V. Smith menjadi Wakil Ketua. Bank kemudian menambahkan bisnis pinjaman kilang anggur pada tahun 1994.

Lalu memasuki tahun 2000, mereka mencari cara untuk melayani perusahaan rintisan di bidang teknologi, yang pada saat itu tidak memiliki akses ke pembiayaan utang dan layanan perbankan. Mereka terkenal karena kesediaannya untuk memberikan pinjaman kepada perusahaan startup yang belum menguntungkan.

Di antara sekitar 2.000 kliennya pada tahun 1995 merupakan inovator jaringan Cisco Systems dan Bay Networks. Ekspansi di AS terus dilakukan dengan membuka 15 kantor baru sejak 1996. Hingga kini, SVB tercatat mempunyai 29 kantor internasional yang tersebar di Amerika Serikat, India, Inggris, Israel, Kanada, Cina, Jerman, Hong Kong, Irlandia, Denmark, dan Swedia.

Ken Wilcox menjadi CEO pada tahun 2000 dan memilih untuk melanjutkan fokus ceruk perusahaan pada perusahaan teknologi daripada melakukan diversifikasi ke bank komersial yang lebih luas.

Selanjutnya SVB dipimpin oleh Greg Becker sejak 2011. Asetnya tercatat mencapai USD212 miliar yang dirupiahkan mencapai Rp3.257 triliun pada kuartal IV 2022. Sementara itu, jumlah deposito di SVB mencapai sekitar USD175,4 miliar atau setara Rp2.712 triliun.

Akan tetapi, dalam satu dekade terakhir ini SVB mengalami kolaps yang membuat para deposan yang sebagian besarnya merupakan pekerja teknologi dan perusahaan yang didukung oleh modal ventura bergegas menarik uang mereka karena adanya kekhawatiran terhadap situasi bank yang tidak stabil.

Kini, Pemerintah Amerika Serikat (AS) memutuskan melakukan bail out Silicon Valley Bank yang bangkrut. Kondisi Silicon Valley Bank mendapatkan perhatian serius, mulai dari Menteri Keuangan AS Janet Yellen hingga Presiden AS Joe Biden.

Janet Yellen menginstruksikan Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) untuk menjamin semua uang nasabah SVB agar bisa diakses mulai hari ini. Bahkan, AS menjamin uang nasabah yang tidak diasuransikan dalam kejadian bank gagal.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
BI Rate Naik, LPS Tetap...
BI Rate Naik, LPS Tetap Tahan Tingkat Bunga Penjaminan 3,5%
Joy Air Bangkrut, Ribuan...
Joy Air Bangkrut, Ribuan Penumpang di China Telantar
Peluang Investasi Startup...
Peluang Investasi Startup di Era Tech Winter
Rupiah Terus Tergerus,...
Rupiah Terus Tergerus, OJK Sebut Industri Perbankan RI Masih Memadai Hadapi Ancaman
BSSN-Asbanda Kolaborasi...
BSSN-Asbanda Kolaborasi Perkuat Keamanan Siber Perbankan Daerah
IMF Peringatkan AI Bisa...
IMF Peringatkan AI Bisa Bobol Sistem Perbankan Dunia dalam Hitungan Detik!
Promosikan Startup ke...
Promosikan Startup ke Dunia, Indonesia Gabung London Tech Week
Mahasiswa MNC University...
Mahasiswa MNC University Pelajari Praktik Layanan Pelanggan Industri Perbankan melalui Company Visit ke Halo BCA
Spirit Airlines Tutup...
Spirit Airlines Tutup karena Jadi Korban Perang Iran, Ini Respons Pemerintah Trump
Rekomendasi
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
Jerman Bantai Curacao...
Jerman Bantai Curacao 7-1, Der Panzer Meledak di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Warga China dan Rusia...
Warga China dan Rusia Berlomba Melahirkan Bayi di AS demi Status Kewarganegaraan
Berita Terkini
Sensus Ekonomi 2026...
Sensus Ekonomi 2026 Resmi Dimulai Besok 15 Juni 2026, Usaha Nasional Didata Tanpa Terkecuali
Prabowo Perintahkan...
Prabowo Perintahkan Rosan Jelaskan Kondisi Investasi RI di Istana Merdeka Besok
Mengapa Harga Pertamax...
Mengapa Harga Pertamax Naik? Kemkomdigi: Karena Indonesia Tak Hidup Sendirian
Siap-siap! Harga Rumah...
Siap-siap! Harga Rumah Subsidi Bakal Naik, Ini Penyebabnya
Dorong Penguatan Pendidikan...
Dorong Penguatan Pendidikan Vokasi Ganda, Endress+Hauser Gelar Education Forum 2026
IHSG Besok Berpeluang...
IHSG Besok Berpeluang Lanjut Reli ke Level 6.100, Intip Faktor Pendongkraknya
Infografis
Anggoro Eko Cahyo, Dirut...
Anggoro Eko Cahyo, Dirut Baru Bank Syariah Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved