Mengenal Elvira Nabiullina, Wanita Tangguh Perisai Ekonomi Rusia

Sabtu, 30 Desember 2023 - 11:29 WIB
loading...
Mengenal Elvira Nabiullina,...
Kepala Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina. Foto/RT
A A A
JAKARTA - Kinerja perekonomian Rusia berhasil melampaui perkiraan banyak pihak di tahun 2023 yang openuh gejolak. Tak hanya mengatasi hujan sanksiBaratakibat serangannya ke Ukraina, Rusia diprediksi mencatatkan pertumbuhan ekonomi 3,5% tahun ini, mengungguli negara-negara G7 dan Uni Eropa (UE).

Orang di balik ketangguhan Rusia mengatasi tantangan ekonomi di 2023 tersebut adalah Kepala Bank Sentral Rusia, Elvira Nabiullina. Sukses menggagalkan rencana Barat merusak ekonomi Rusia, dirinya sampai-sampai dijuluki "disruptor tahun ini" oleh majalah Politico. Dikenal tidak banyak bicara, berpengaruh, sekaligus figur yang penuh teka-teki bagi pasar, Nabiullina memegang kunci kebijakan moneter Rusia.

Berasal dari etnis Tatar, kelompok minoritas terbesar di Rusia, Elvira Nabiullina tidak hanya dikenal di lingkar kekuasaan sebagai seorang yang gemar mengutip puisi-puisi Prancis, tapi juga tak ragu bertindak keras di tengah krisis, dan juga merupakan perempuan pertama yang memimpin Bank Sentral Rusia.

Baca Juga: 10 Alasan Ekonomi Rusia Tumbuh Tinggi Atasi Sanksi Barat

Ekonom brilian ini lahir pada 29 Oktober 1963 di Ufa, Bashkir, Rusia. Ayahnya, Sakhipzada Saitzadayevich, adalah seorang sopir, sedangkan ibunya, Zuleikha Khamatnurovna, adalah seorang manajer pabrik. Nabiullina lulus dari sekolah No. 31 di Ufa, disusul Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Moskow pada tahun 1986.

Dia juga dikenal dekat dengan Putin sejak mantan perwira dinas rahasia KGB itu memimpin Rusia pada 2000. Saat itu Putin menunjuk Nabiullina sebagai menteri pembangunan ekonomi dan belakangan menariknya ke Kremlin sebagai anggota penasihat presiden.

Lompatan besar dalam karier Nabiullina terjadi pada 2013 ketika dia ditunjuk sebagai Kepala Bank Sentral Rusia, salah satu lembaga terpenting di negara itu. Selama bertahun-tahun, Nabiulina telah menghadapi krisis-krisis besar.

Selama bertahun-tahun memimpin Bank Sentral Rusia, perempuan pecinta opera itu mendapat pengakuan atas kemampuan manajemennya oleh organisasi-organisasi internasional, seperti Dana Moneter Internasional (IMF), pengusaha, investor Wall Street, bankir dan para ahli strategi pemerintah. Mereka melihatnya sebagai seorang profesional yang paham benar atas kondisi di lapangan.

Salah satu pujian terhadapnya adalah selama 2013 hingga 2017, ketika dia mencabut lebih dari 300 lisensi perbankan dari entitas yang dianggap sangat lemah atau dijalankan dengan tidak layak. Nabiullina juga sukses menangani inflasi yang memungkinkannya menetapkan suku bunga pada titik terendah dalam sejarah Rusia, sebesar hampir 2% pada 2018.

Pada 2015, majalah Euromoney menobatkan ekonom berusia 60 tahun itu sebagai pejabat bank sentral terbaik di dunia. The Banker bahkan menyebutnya sebagai bankir Eropa terbaik pada 2017. Di bawah arahannya, Bank Sentral Rusia berhasil mengumpulkan salah satu cadangan devisa terbesar dalam sejarah Rusia, yang memungkinkan negara itu menghadapi berbagai gejolak.

Kiprahnya saat menjaga perekonomian Rusia ketika negara itu berseteru dengan Ukraina pun tak kalah tangguh dengan para jenderal militer yang berperang di lapangan. Ketika Barat menghujani Rusia dengan sanksi, Nabiullina dengan sigap memperkuat rubel dengan menerapkan pengendalian harga dan serangkaian tindakan lain yang tidak biasanya dilakukan.

Baca Juga: Rusia Ancam Putuskan Hubungan Diplomatik dengan AS Jika Asetnya Dirampas

Sanksi Barat terhadap Rusia mencakup pembekuan hampir setengah dari USD640.000 juta emas dan cadangan mata uang yang dikendalikan oleh Bank Sentral Rusia, bersama dengan serangkaian sanksi yang mendorong ekonomi negara itu menuju kemungkinan gagal bayar atau tidak bisa membayar utang. Nabiullina juga harus menghadapi isolasi ekonomi oleh Barat.

Terkait kesuksesan Rusia dalam menahan sanksi Barat, dalam wawancaranya dengan Russia Today, Nabiullina mengatakan bahwa negara itu telah hidup di bawah sanksi sejak tahun 2014. Karena itu, tegas dia, dirinya selalu mempertimbangkan risiko peningkatan sanksi.

"Kami melakukan banyak upaya dalam hal ini dan melakukan stress test dengan banyak lembaga keuangan. Oleh karena itu, ketika bank-bank besar terkena sanksi, mereka sebagian besar sudah siap menghadapinya. Pemutusan koneksi dari SWIFT telah menjadi ancaman sejak tahun 2014, jadi kami menciptakan sistem pembayaran nasional kami sendiri. Kami mendiversifikasi cadangan kami dan meningkatkan porsi cadangan yuan dan emas," paparnya.

Dia mengakuji bahwa pembayaran internasional menjadi masalah terbesar, dan Rusia masih berupaya mengatasinya. Tak hanya itu, aset individu yang diblokir dan dibekukan Barat pun merupakan masalah yang menyakitkan karena jutaan orang yang tidak terkena sanksi berakhir dengan aset yang dibekukan.

Nabiullina sendiri tak luput dari sanksi Barat. Pada 19 April, Nabiullina masuk dalam daftar sanksi oleh Kanada bersama dengan 13 individu lain yang dianggap dekat dengan rezim Rusia terkait dengan perang di Ukraina. Amerika Serikat (AS) juga menjatuhkan sanksi kepadanya dan salah satu rekan terdekatnya, wakil presiden pertama Bank Sentral Rusia Ksenia Yudaeva.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Daftar Negara Pengguna...
Daftar Negara Pengguna Energi Nuklir Terbesar di Dunia, Siapa Juaranya?
Rubel Jadi Mata Uang...
Rubel Jadi Mata Uang Terkuat di Dunia, Sanksi Barat ke Rusia Tak Mempan
10 Negara dengan Ketergantungan...
10 Negara dengan Ketergantungan Sumber Daya Alam Tertinggi di Dunia, Ada Indonesia?
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Rekomendasi
Tingkatkan Kualitas...
Tingkatkan Kualitas Layanan, ShopeeFood Fokus Dorong Pengembangan Kompetensi Mitra Pengemudi
Cak Imin: PKB Punya...
Cak Imin: PKB Punya Tanggung Jawab Moral Memikirkan Masa Depan NU
T1, Inikah Mobil Listrik...
T1, Inikah Mobil Listrik Pertama BAIC di Indonesia?
Berita Terkini
MSIN Putuskan Tak Bagi...
MSIN Putuskan Tak Bagi Dividen, Fokus Perkuat Platform Digital
UATAS dan AFPI Ajak...
UATAS dan AFPI Ajak Mahasiswa Bijak Kelola Keuangan
Kinerja Solid, Laba...
Kinerja Solid, Laba Bersih MSIN Melonjak 140% Jadi Rp985 Miliar di 2025
PLN EPI Dorong Zero...
PLN EPI Dorong Zero Waste lewat Pengelolaan Sampah Terpilah dan Daur Ulang
Purbaya Bakal Tempatkan...
Purbaya Bakal Tempatkan Dana Rp400 Triliun Lagi di Himbara
Dataran Tinggi Tak Lagi...
Dataran Tinggi Tak Lagi Area Pinggiran, UPLAND Jadikannya Pilar Kedaulatan Pangan
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved