Krisis Laut Merah Bikin Eksportir China Ketar-ketir

Minggu, 21 Januari 2024 - 19:18 WIB
loading...
A A A
Baca Juga: Shell Jadi Korban Baru Konflik Laut Merah, Pengiriman Dihentikan Sementara

Beberapa perusahaan, seperti BDI Furniture yang berbasis di AS, mengatakan, mereka lebih mengandalkan pabrik di Turki dan Vietnam untuk mengurangi dampak gangguan. Langkah tersebut dilakukan juga oleh negara-negara Barat untuk mengurangi ketergantungan pada China di tengah ketegangan geopolitik.

Yang dipertaruhkan bagi China sekarang adalah bahaya bahwa perusahaan lain akan mengikutinya dan menilai kembali strategi de-risking mereka. Memilih untuk mengalihkan produksi lebih dekat ke rumah, sebuah pendekatan yang dikenal sebagai "near-shoring".

"Beberapa (perusahaan) mungkin juga mempertimbangkan untuk memindahkan lebih banyak produksi ke India, yang satu minggu lebih dekat ke Eropa. Perusahaan perlu mengevaluasi kembali semuanya," ungkap Marco Castelli, pendiri IC Trade, yang mengekspor komponen mekanik buatan China ke Eropa.

Gangguan Laut Merah lebih lanjut akan menumpuk tekanan pada ekonomi China yang sedang menghadapi krisis properti, permintaan konsumen yang lemah, populasi yang menyusut dan pertumbuhan global yang lamban.

Efek Bagi Perusahaan China

Dengan perdagangan ke Eropa dan Afrika menyumbang 40% dari keseluruhan bisnis Han, Ia mengaku, telah meminta kepada pemasok dan pelanggan untuk menanggung sebagian biaya tambahan untuk menjaga perusahaannya tetap bertahan. "Waktu pengiriman untuk beberapa pesanan tertunda hingga beberapa minggu," katanya.

Kondisi Laut Merah yang masih memanas, bakal menjadi pukulan yang lebih berat untuk beberapa perusahaan China. Pasalnya krisis ini terjadi menjelang Tahun Baru Imlek pada bulan Februari, yang jadi tantangan untuk menavigasi logistik.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Lebih Ngeri dari Blokade...
Lebih Ngeri dari Blokade Selat Hormuz, Penutupan Laut Merah Ancam Energi Global
Ekonomi China Kuartal...
Ekonomi China Kuartal II Tumbuh 4,3%, Terendah dalam 3 Tahun Terakhir
Teluk Kembali Memanas,...
Teluk Kembali Memanas, China Siaga Jaga Produksi BBM Tetap Tinggi
Industri Plastik Tertekan...
Industri Plastik Tertekan Impor Murah China, Pabrik Mulai Pangkas Jam Kerja
Rahasia Industri Logam...
Rahasia Industri Logam Tanah Jarang China Dibongkar Ilmuwan, AS-Jepang Pegang Kunci Mineral Langka!
Duo Zou Bersaudara Asal...
Duo Zou Bersaudara Asal China Mendadak Jadi Miliarder Gara-gara Robot Humanoid, Begini Kisahnya
Filipina dan China Bentrok,...
Filipina dan China Bentrok, 1 Tentara Terluka
Merasakan Liburan yang...
Merasakan Liburan yang Berkesan dengan Menjelajahi Beijing dan Shanghai
China Sangkal Tudingan...
China Sangkal Tudingan Trump tentang Campur Tangan Pemilu AS
Rekomendasi
DNIKS dan Diplomasi...
DNIKS dan Diplomasi Kesejahteraan Sosial Indonesia
TPPU Dinilai Bisa Jadi...
TPPU Dinilai Bisa Jadi Pintu Masuk Bongkar Kasus Eks Jampidsus
Mantan Agen CIA Ini...
Mantan Agen CIA Ini Minta AS Akui Iran sebagai Kekuatan Regional Utama, Berikut 3 Alasannya
Berita Terkini
Saat Infrastruktur,...
Saat Infrastruktur, Fasilitas, dan Komunitas Tumbuh Bersama dalam Satu Kawasan
Cara PAMA Ikut Meningkatkan...
Cara PAMA Ikut Meningkatkan Kualitas Kesehatan Masyarakat
Prabowo: 66,4 Juta Warga...
Prabowo: 66,4 Juta Warga RI Dapat LPG Subsidi, Lebih Banyak dari Penduduk Singapura
Menanti Peran Besar...
Menanti Peran Besar Pertamina dalam Proyek LNG Kelas Dunia Blok Masela
Purbaya Segera Temui...
Purbaya Segera Temui Kepala BGN, Bahas Pemotongan Anggaran MBG
Soal Investor PFII Bebas...
Soal Investor PFII Bebas Pajak hingga 50 Tahun, Purbaya: Masih Belum Tentu
Infografis
Jet Tempur F/A-18 AS...
Jet Tempur F/A-18 AS Seharga Rp1 Triliun Hilang di Laut Merah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved