Jangan Komoditas, Produk Bernilai Tambah Mestinya Jadi Andalan Ekspor
Rabu, 12 Agustus 2020 - 16:14 WIB
loading...
Peneliti Indef menilai sudah saatnya ekspor Indonesia didominasi produk bernilai tambah yang rantai pasoknya lebih panjang. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Indonesia dinilai sudah saatnya mendorong perdagangan internasional berbasis nilai tambah. Pasalnya, tren perdagangan ekonomi di dunia itu memiliki rantai nilai tambah yang panjang.
" Ekspor Indonesia itu sebagian besarnya mengandalkan berbasis komoditi, yang tidak mempunyai nilai tambah seperti batu bara," kata Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Dzulfian Syafrian dalam diskusi secara virtual, Rabu (12/8/2020).
(Baca Juga: Jika Mentok di CPO Saja, Masa Depan Industri Sawit Tak Berkembang)
Ia mencontohkan, salah satu produk yang mempunyai rantai nilai tambah yang panjang adalah kelapa sawit . Selama ini, kata Dzulfian, Indonesia kurang memanfaatkan nilai tambah yang dimiliki oleh kelapa sawit.
"Perkebunan kelapa sawit untuk diambil bijinya dan kemudian diolah menjadi minyak mentah sawit, yang artinya hanya ada satu nilai tambah di sana," terangnya.
" Ekspor Indonesia itu sebagian besarnya mengandalkan berbasis komoditi, yang tidak mempunyai nilai tambah seperti batu bara," kata Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Dzulfian Syafrian dalam diskusi secara virtual, Rabu (12/8/2020).
(Baca Juga: Jika Mentok di CPO Saja, Masa Depan Industri Sawit Tak Berkembang)
Ia mencontohkan, salah satu produk yang mempunyai rantai nilai tambah yang panjang adalah kelapa sawit . Selama ini, kata Dzulfian, Indonesia kurang memanfaatkan nilai tambah yang dimiliki oleh kelapa sawit.
"Perkebunan kelapa sawit untuk diambil bijinya dan kemudian diolah menjadi minyak mentah sawit, yang artinya hanya ada satu nilai tambah di sana," terangnya.
Lihat Juga :