alexametrics

Defisit APBN 2019 Membengkak di Awal Tahun Jadi Rp45,8 Triliun

loading...
Defisit APBN 2019 Membengkak di Awal Tahun Jadi Rp45,8 Triliun
Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) membengkak di awal tahun, dimana tercatat telah mencapai Rp45,8 triliun untuk periode Januari 2019. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) membengkak di awal tahun, dimana tercatat telah mencapai Rp45,8 triliun untuk periode Januari 2019. Realisasi defisit APBN tersebut lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu mencapai Rp37,7 triliun.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menerangkan, kenaikan defisit APBN seiring meningkatnya defisit pada keseimbangan primer atau di luar pembayaran bunga utang dari Rp14,2 triliun pada Januari 2018 menjadi Rp22,8 triliun. "Defisit bulan Januari mencapai 45,8 Triliun dimana ini lebih besar dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp37,7 Triliun atau persentase PDB 0,28%," jelasnya di Jakarta, Rabu (20/2/2019).

Lebih lanjut dalam konferensi pers APBN Kita, Sri Mulyani memaparkan menjelaskan penerimaan negara pada Januari 2018 mencapai Rp108,1 triliun. Sementara belanja negara tercatat lebih tinggi mencapai Rp153,8 triliun atau 6,3% dari target sepanjang tahun.



Adapun belanja negara, menurut dia, terutama didorong oleh belanja transfer ke daerah yang mencapai Rp77,4 triliun atau 10,2 persen terhadap APBN 2019. Guna menutup defisit APBN, Ia telah merealisasikan pembiayaan anggaran sebesar Rp122,5 triliun. Angka ini jauh melesat dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai Rp27,6 triliun.

"Pembiayaan anggaran karena adanya frontloading (memperbesar penerbitan utang di awal tahun) yang dilakukan dalam rangka antisipasi kondisi pasar dan kesempatan yang cukup baik. Ini untuk mengantisipasi juga ketidakpastian," papar dia

Untuk itu, mantan Direktur Bank Dunia ini menekankan pihaknya akan mewaspadai risiko yang terus memggerus defisit APBN agar tidak melebar. Hal ini dilakukan agar menjaga APBN tetap sehat. "Karena adanya front loading dalam mengantispasi kondisi pasar, jadi akan terus kita cermati," tandas dia.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak