alexametrics

Lifting Migas Kuartal I Meleset, Kepala SKK Migas: Tak Terlalu Besar

loading...
Lifting Migas Kuartal I Meleset, Kepala SKK Migas: Tak Terlalu Besar
Lifting minyak dan gas bumi (Migas) pada kuartal I-2019 yang meleset dari target menurut Kepala SKK Migas tidak terlalu besar. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Lifting minyak dan gas bumi (Migas) pada kuartal I-2019 meleset dari target yang ada di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 yang sebesar 2.025 Barel setara minyak (Barel Equivalent per Day/BOEP). Pasalnya pada kuartal I-2019, tercatat lifitng migas hanya sebesar 1,814 juta BOEP atau sekitar 94,6%.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Sutjipto mengatakan, penurunan lifitng minyak ini tidak terlalu besar. Sebab menurutnya, tren lifting memang sedang mengalami penurunan.

“Semua diketahui bahwa kami itu dalam kaitannya dengan minyak dalam tren yang menurun. Kalau kami engga ada effort, maka penurunan itu akan berada di angka 12%,” ujar Dwi di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (4/4/2019).



Sambung dia menambahkan, berdasarkan analisis dari Dewan Energi Nasional (DEN) bahkan seharusnya lifitng migas itu berada di bawah angka tersebut yakni sekitar 630.000 barel per hari. Akan tetapi, analisa tersebut berhasil dibantahkan dengan capaian di kuartal I-2019 ini.

“Kalau dari analisa DEN 2017, tahun ini produksi cuman 630 barel. Tapi kalau lifting kita sekarang bisa sampai 745, maka kita sudah di atas perkiraan DEN waktu itu,” jelasnya.

Meskipun begitu, Mantan Direktur Utama PT Pertamina ini mengaku akan berusaha untuk meningkatkan angka lifting migas. Menurutnya, ada beberapa langkah agar lifting bisa meningkat salah satunya adalah mencari sumur-sumur baru lewat kegiatan eksplorasi. “Sebelum dapat discovery yang besar, upayanya adalah menahan penurunan itu,” ucapnya.

Selain itu cara lainnya juga bisa lewat penggunaan teknologi Enhance Oil Recovery (EOR). Saat ini penggunaan teknologi EOR sendiri masih dalam tahap persiapan dan ujicoba. "EOR baru uji coba. Peningkatan Work Over itu juga dalam persiapan. Semoga ini bisa memberi pengaruh. Tapi itulah situasinya,” paparnya.

Menurut Dwi, penggunaan teknologi ini memang membutuhkan waktu yang agak sedikit lama. Bahkan dirinya menyebut penggunaan atau penerapan teknologi ini diperlukan waktu kurang lebih empat tahun.

“Misalnya IDD onstream 2023 maka 2024 baru bisa memberikan pengaruh. Masela lalu misalnya, itu sekian lama baru 2026 onstream. Jadi ya seperti itu, jadi enggak ada certa lain selain mengundang nivestor dan existing untuk melakukan pengeboran,” jelasnya.

Sebagai informasi, hasil lifting minyak dan gas bumi (Migas) pada Kuartal I 2019 sebesar 1,814 juta barel setara minyak (Barrel Equivalen per Day /BOEP), atau hanya 94,6%. Hasil ini meleset dari target APBN sebesar 2.025 BOEP.

Adapun lifting sebesar 1,814 juta barel setara minyak (Barrel Equivalen per Day /BOEP) terdiri dari, lifting minyak dan Kondensat sebesar 745 ribu bph (barel per hari) atau 96,1% dari target APBN 2019 sebesar 775 ribu bph dan gas sebesar 1,069 ribu BOEPD atau 93,8% dari target APBN 2019 sebesar 1,250 ribu BOEPD.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak