BRICS Terpecah Soal Buang Dolar AS, Takut Aksi Pembalasan?
Senin, 28 Oktober 2024 - 10:05 WIB
loading...
Saat KTT BRICS memperlihatkan persatuan antara negara-negara berkembang arus utama di dunia, Analis mengatakan, para pemimpin BRICS masih belum satu suara soal meninggalkan dolar AS. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Saat KTT BRICS di kota Kazan Rusia pekan ini memperlihatkan persatuan antara negara-negara berkembang arus utama di dunia, Analis mengatakan, para pemimpin BRICS masih belum satu suara soal meninggalkan dolar AS . BRICS disebut terpecah mengenai dedolarisasi, karena perbedaan geopolitik seiring perluasan blok ekonomi penantang Barat tersebut.
Pada saat KTT berakhir pada hari Kamis, kemarin anggota awal blok BRICS yakni Brasil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan menyambut Iran, Mesir, Ethiopia, dan Uni Emirat Arab (UEA) sebagai anggota penuh.
Selain itu ada 13 negara lainnya yang telah diundang untuk bergabung sebagai "negara mitra", yang semakin memperluas jejak BRICS. Baca Juga:BRICS Tinggalkan Dolar, 3 Sektor AS Ini Paling Terpukul
Para negara-negara ini tampaknya menemukan kesamaan di bidang-bidang seperti kerja sama lingkungan, reformasi keuangan, dan upaya menyelesaikan konflik global. Hal ini ditekankan saat pertemuan antara Presiden China, Xi Jinping dan mitranya dari Rusia, Vladimir Putin.
Direktur Program Global South di Quincy Institute for Responsible Statecraft, Sarang Shidore mengatakan, negara-negara BRICS tampaknya bersatu dalam isu-isu seperti proteksionisme hijau dan perbaikan perdagangan dunia.
Shidore mengatakan, hal itu adalah "kritik yang jelas terhadap Amerika Serikat" dan mencerminkan fragmentasi dunia tidak hanya dalam geopolitik, tetapi juga berdasarkan iklim dan transisi energi.
"Kecenderungan fragmentasi ini dicatat dan semakin dikritik di forum seperti BRICS," kata Shidore seperti dilansir South China Morning Post.
Tetapi persatuan itu dijelaskan tidak terbawa untuk proposal Rusia yang berniat melepaskan diri dari dolar AS.
Negara-negara lain mungkin tidak menyukai dominasi dolar AS dalam perdagangan internasional, kata Shidore, tetapi "ketika mereka melihat analisis biaya-manfaat untuk maju dengan kecepatan penuh dan menciptakan alternatif, ada semua jenis hambatan, internal, geopolitik, teknis, dan tentu saja ketakutan akan pembalasan AS".
Pada saat KTT berakhir pada hari Kamis, kemarin anggota awal blok BRICS yakni Brasil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan menyambut Iran, Mesir, Ethiopia, dan Uni Emirat Arab (UEA) sebagai anggota penuh.
Selain itu ada 13 negara lainnya yang telah diundang untuk bergabung sebagai "negara mitra", yang semakin memperluas jejak BRICS. Baca Juga:BRICS Tinggalkan Dolar, 3 Sektor AS Ini Paling Terpukul
Para negara-negara ini tampaknya menemukan kesamaan di bidang-bidang seperti kerja sama lingkungan, reformasi keuangan, dan upaya menyelesaikan konflik global. Hal ini ditekankan saat pertemuan antara Presiden China, Xi Jinping dan mitranya dari Rusia, Vladimir Putin.
Direktur Program Global South di Quincy Institute for Responsible Statecraft, Sarang Shidore mengatakan, negara-negara BRICS tampaknya bersatu dalam isu-isu seperti proteksionisme hijau dan perbaikan perdagangan dunia.
Shidore mengatakan, hal itu adalah "kritik yang jelas terhadap Amerika Serikat" dan mencerminkan fragmentasi dunia tidak hanya dalam geopolitik, tetapi juga berdasarkan iklim dan transisi energi.
"Kecenderungan fragmentasi ini dicatat dan semakin dikritik di forum seperti BRICS," kata Shidore seperti dilansir South China Morning Post.
Tetapi persatuan itu dijelaskan tidak terbawa untuk proposal Rusia yang berniat melepaskan diri dari dolar AS.
Negara-negara lain mungkin tidak menyukai dominasi dolar AS dalam perdagangan internasional, kata Shidore, tetapi "ketika mereka melihat analisis biaya-manfaat untuk maju dengan kecepatan penuh dan menciptakan alternatif, ada semua jenis hambatan, internal, geopolitik, teknis, dan tentu saja ketakutan akan pembalasan AS".
Lihat Juga :