Kinerja Industri Jasa Keuangan di Sulsel Tumbuh Positif

Jum'at, 09 Oktober 2020 - 20:53 WIB
loading...
Kinerja Industri Jasa...
Kepala OJK 6 Sulampua, Nurdin Subandi (tengah) memberikan keterangan termasuk peluncuran program kredit melawan rantenir pada ajang Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2020 di Aston Hotel Makassar. Foto: SINDOnews/Muchtamir Zaide
A A A
MAKASSAR - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulampua) mencatat, meski di tengah pandemi COVID-19 , kinerja sektor jasa keuangan khususnya di Sulawesi Selatan (Sulsel) tumbuh positif.

Kepala OJK Kantor Regional VI Sulampua, Nurdin Subandi menjelaskan, industri jasa keuanga n di Sulsel posisi Agustus 2020 di masa pandemi tetap tumbuh positif, ditopang fungsi intermediasi yang tinggi dan disertai tingkat risiko yang tetap aman.

"Industri perbankan masih tumbuh positif dengan kinerja intermediasi perbankan yang tetap tinggi. Di mana, total aset perbankan di Sulsel posisi Agustus 2020 tumbuh 0,64% yoy dengan nominal mencapai Rp151,30 triliun, terdiri dari aset bank umum Rp148,49 triliun dan aset BPR Rp2,81 triliun,” ujarnya, dalam sesi jurnalis update, di Aston Hotel Makassar, Jumat (9/10/2020).

Baca juga: Pasca-Pandemi, OJK Akan Perkuat Edukasi Digital

Dia menguraikan, jika berdasarkan kegiatan bank, aset perbankan konvensional Rp142,40 triliun dan aset perbankan syariah Rp8,89 triliun.

Begitupun pada kinerja intermediasi perbankan Sulsel terjaga pada level yang tinggi dengan loan to deposit ratio (LDR) 114,08% dan tingkat risiko kredit bermasalah berada di level aman 2,76%.

“Industri perbankan syariah terus menunjukkan pertumbuhan aset perbankan syariah mencatatkan pertumbuhan tinggi 8,18% yoy dengan nominal Rp8,89 triliun, lebih tinggi dibanding pertumbuhan aset perbankan konvensional 0,21% yoy dengan nominal Rp142,40 triliun. DPK perbankan syariah mencatat pertumbuhan double digit 14,47% yoy dengan nominal Rp6,26 triliun, lebih tinggi dibanding pertumbuhan DPK perbankan konvensional 7,12% yoy dengan nominal Rp99,15 triliun,” terangnya.

Sementara, untuk industri BPR mengalami perlambatan akibat pandemi -3,90% yoy menjadi Rp2,81 triliun, dengan DPK yang juga melambat -3,51% yoy menjadi Rp1,80 triliun.

Begitu pula dengan penyaluran kredit yang juga mengalami perlambatan sebesar -3,49% yoy menjadi Rp2,40 triliun. Penghimpunan DPK tumbuh lebih tinggi dibandingkan penyaluran kredit perbankan terkoreksi -2,36% yoy menjadi Rp121,22 triliun sebagai dampak peningkatan mitigasi risiko bank dalam menghadapi COVID-19, sehingga bank lebih selektif dalam menyalurkan kredit. Terdiri dari kredit modal kerja Rp46,20 triliun (-0,58% yoy), kredit investasi Rp17,59 triliun (-17,89 yoy), dan kredit konsumsi Rp57,42 triliun (2,08% yoy).

Berdasarkan sektor lapangan usaha, pertumbuhan kredit tertinggi tercatat pada sektor pertanian (18,30% yoy), sektor perikanan (17,80% yoy), dan sektor jasa kemasyarakatan (4,02% yoy).

Adapun pada sektor bukan lapangan usaha, kredit pemilikan flat/apartemen dan kredit untuk kepemilikan rumah tinggal tumbuh masing-masing 14,15% yoy dan 3,75% yoy.

Baca juga: OJK Tekankan Pentingnya Keamanan Digital dalam Inovasi Fintech

Adapun penghimpunan DPK tumbuh positif 7,53% di tengah pandemi COVID-19, dengan nominal Rp105,41 triliun, terdiri dari giro Rp15,67 triliun, tabungan Rp58,02 triliun, dan deposito Rp31,71 triliun. Pertumbuhan positif tersebut mencerminkan kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap kelembagaan bank sekaligus merupakan salah satu indikator positif atas terjaganya arus likuiditas bank.

“NPL perbankan berada di level aman NPL perbankan Sulsel tetap terjaga di level aman 2,76%. Secara rinci, NPL bank umum berada di posisi 2,75%, sedangkan NPL BPR berada pada posisi 3,14%. Kredit UMKM terus tumbuh realisasi kredit kepada UMKM di Sulsel tumbuh 1,14% yoy menjadi Rp40,57 triliun,” ujarnya.

Nurdin Subandi memaparkan, pertumbuhan tertinggi terdapat pada kredit kecil 2,06% yoy menjadi Rp14,63 triliun dan kredit usaha mikro 1,52% menjadi Rp14,63 triliun. Adapun kredit usaha menengah mengalami perlambatan -0,26% menjadi Rp12,85 triliun.

Sedangkan, pada industri pasar modal Sulsel tumbuh sangat tinggi jumlah investor pasar modal di Sulsel mencapai 70.399 investor, tumbuh signifikan 71,78% yoy. Pertumbuhan sangat tinggi pada investor reksadana 108,92% dengan investor sebanyak 42.643, disusul investor surat berharga negara (SBN) yang tumbuh 35,88% yoy dengan 5.275 investor, dan investor saham yang tumbuh 34,71% yoy dengan investor mencapai 22.481.

Adapun nilai transaksi saham di Sulsel hingga Agustus 2020 mencapai Rp9,25 triliun. Industri keuangan non bank (IKNB) juga tumbuh tinggi pada industri keuangan non bank (IKNB), total aset dana pensiun tumbuh 6,31% yoy menjadi Rp1,09 triliun. Adapun penyaluran pembiayaan melalui perusahaan pembiayaan mengalami perlambatan -9,31% menjadi Rp12,28 triliun. Pinjaman yang disalurkan perusahaan pergadaian tumbuh tinggi 27,35% menjadi Rp4,94 triliun.

Pada realisasi asuransi agribisnis terus digenjot di sektor asuransi pertanian, asuransi usaha tani padi (AUTP) telah menjangkau 8.367 Ha dengan nilai premi mencapai Rp1,50 miliar. Adapun asuransi usaha ternak sapi/kerbau (AUTSK) telah menjangkau 13.237 ekor sapi dengan nilai premi Rp2,64 miliar.

Nurdin Subandi mengungkapkan, untuk implementasi kebijakan restrukturisasi, OJK secara berkelanjutan memonitoring implementasi pelaksanaan restrukturisasi kredit/pembiayaan sesuai POJK No.11/POJK.03/2020 (perbankan) dan POJK No.14/POJK.05/2020 (IKNB). Sampai dengan 13 Agustus 2020, 37 Bank Umum Konvensional/Syariah (termasuk 3 Unit Usaha Syariah) telah melakukan proses restrukturisasi dan 29 di antaranya telah melakukan restrukturisasi dengan O/S restrukturisasi sebesar Rp 18,87 triliun yang terdiri dari 199.981 debitur restru.

Baca juga: Masya Allah, Tingkat Melek Keuangan Syariah Masih Jauh Tertinggal

Selanjutnya, 76 perusahaan pembiayaan telah melakukan proses restrukturisasi dan 73 di antaranya telah melakukan restrukturisasi dengan O/S restrukturisasi Rp 7,59 triliun bagi 216.181 debitur restru. OJK terus berkoordinasi dengan perbankan serta perusahaan pembiayaan untuk memastikan realisasi penerapan kebijakan restrukturisasi tersebut dapat berjalan dengan baik, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan membantu debitur yang terkena dampak penyebaran COVID-19.

Di sisi lain, Nurdin Subandi menuturkan, dalam rangka mendorong bergeraknya kembali sektor riil menuju masyarakat produktif dan aman COVID-19 serta mendukung langkah pemerintah dalam rangka percepatan PEN, Himpunan Bank-Bank Milik Negara (HIMBARA) Sulawesi Selatan menargetkan akan menyalurkan kredit Rp3,62 triliun ke beberapa sektor ekonomi.

“Realisasi PEN di Sulawesi Selatan sebesar Rp 3,81 triliun kepada 64.366 debitur. Tentunya sampai akhir tahun diharapkan dapat terus meningkat,” harapnya.
(luq)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
OJK Rilis Daftar Direksi...
OJK Rilis Daftar Direksi BEI Baru, Ada 7 Direktur Terpilih
Tips MotionTrade: Kenali...
Tips MotionTrade: Kenali Hak Dasar Investor di Pasar Modal
MNC Sekuritas Borong...
MNC Sekuritas Borong 3 Penghargaan di 15th Infobank-Isentia Digital Brand Appreciation 2026
OJK Blak-blakan soal...
OJK Blak-blakan soal 4 Penyebab IHSG Ambrol Sejak Awal Tahun 2026
Porsi Free Float Dipenuhi...
Porsi Free Float Dipenuhi hingga 40%, OJK Ungkap Emiten Bakal Dapat Insentif Pajak
IHSG Jatuh Terseret...
IHSG Jatuh Terseret Rilis MSCI ke 6.734, OJK: Masih Batas Wajar
Ratusan Mahasiswa Surabaya...
Ratusan Mahasiswa Surabaya Ikuti Edukasi Asuransi yang Digelar BRI Insurance
OJK dan Bareskrim Usut...
OJK dan Bareskrim Usut Dugaan Pidana Pasar Modal, MA Pastikan Dana Nasabah Aman
OJK Sebut Sekuritas...
OJK Sebut Sekuritas Goreng Saham BEBS Raup Untung Rp14,5 Triliun
Rekomendasi
UU Polri Baru Dinilai...
UU Polri Baru Dinilai Perkuat Transformasi Polri dan Dukung Asta Cita
Dewi Perssik Bagikan...
Dewi Perssik Bagikan Kabar Terbaru Tio Pakusadewo usai Dirawat Akibat Gangguan Jantung
Pemprov DKI Jakarta...
Pemprov DKI Jakarta Bersama Ewindo Perkuat Pengembangan Pertanian Perkotaan
Berita Terkini
Rupiah Tergerus Sentimen...
Rupiah Tergerus Sentimen Eksternal, Hari Ini Berakhir Tembus Rp17.843 per USD
Gelontorkan Diskon Tiket...
Gelontorkan Diskon Tiket Transportasi hingga 30%, Pemerintah Siapkan Anggaran Rp1,54 Triliun
Tips MotionTrade: Modus...
Tips MotionTrade: Modus Penipuan Berkedok Customer Service, Investor Wajib Waspada!
IHSG Hari Ini Berakhir...
IHSG Hari Ini Berakhir Ambles ke 6.116, Transaksi Cetak Rp13,4 Triliun
Penerbangan Umrah Dipindah...
Penerbangan Umrah Dipindah Mulai 1 Juli 2026, Terpusat di Terminal 2F Bandara Soetta
Purbaya Pede Harga BBM...
Purbaya Pede Harga BBM Pertamax Bakal Turun Efek Damai AS-Iran
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved