alexametrics

Rupiah Melemah, Sri Mulyani Bantu BI Jaga Stabilitas Pasar Mata Uang

loading...
Rupiah Melemah, Sri Mulyani Bantu BI Jaga Stabilitas Pasar Mata Uang
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menjelaskan fluktuasi nilai tukar rupiah saat ini tidak hanya dilihat dari sisi fiskal dan moneter, tetapi juga banyak faktor lainnya akibat Covid-19. Foto/Dok
A+ A-
JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyiapkan sejumlah strategi untuk ikut berperan menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di tengah besarnya arus keluar modal asing (capital outflow). Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menjelaskan fluktuasi nilai tukar rupiah saat ini tidak hanya dilihat dari sisi fiskal dan moneter, tetapi juga banyak faktor lainnya akibat Covid-19.

Salah satunya ialah mendadaknya capital outflow dalam jumlah besar. “Secara fundamental bisa dilihat di BOP dan disituasi Covid-19 ini bisa terjadioutflow mendadak. Tingkat kepanikan Covid ini lebih tinggi dari taper tantrum dan krisis 2008,” kata Menkeu Sri Mulyani di Jakarta, Rabu (6/5/2020).

Lebih lanjut Ia menerangkan, bakal bekerja sama dengan BI untuk menjaga stabilisasi pasar mata uang. “Dari sisi Kemenkeu, kami menjaga defisit untuk bisa dibiayai tanpa terlalu bergantung terhadap SBN. Pendanaan SBN menggunakan SAL (Saldo Anggaran Lebih), dana abadi, BLU (Bantuan Layanan Umum), kita lakukan dan kami maksimalkan, kita terus koordinasikan dengan OJK dan Bank Indonesia," jelasnya.



Sebagai informasi, rupiah melihat data Bloomberg, pada perdagangan spot exchange memperlihatkan tren negatif, usai menyusut menjadi Rp15.112/USD dibandingkan kemarin Rp15.080/USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp15.060-Rp15.124/USD.

Berdasarkan data SINDOnews bersumber dari Limas menunjukkan rupiah pada sesi perdagangan siang terpuruk untuk belum memberikan perlawanan. Dimana terlihat kurs rupiah bertengger di Rp15.128/USD atau tidak lebih baik dari sesi pagi tadi.
(akr)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top