Indonesia Akan Tenggelam Jika Tak Serius Kurang Emisi Karbon, Nuklir Jawabannya
Selasa, 20 Oktober 2020 - 14:56 WIB
loading...
Apabila Indonesia tidak serius dalam mengurangi emisi karbon, maka sebagian besar wilayah Indonesia akan tenggelam dalam kurun waktu beberapa dekade. Maka nuklir adalah jawaban paling tepat dan realistis. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Staf Ahli Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Dewan Ketahanan Nasional, Hendri Firman Windarto menilai pentingnya peran Energi Baru Terbarukan (EBT) khususnya nuklir dalam mitigasi perubahan iklim. Apabila Indonesia tidak serius dalam mengurangi emisi karbon , maka sebagian besar wilayah Indonesia akan tenggelam dalam kurun waktu beberapa dekade.
(Baca Juga: RUU Energi Baru Dianggap Kena 'Radiasi', Banyak Pasal Soal Nuklir Tumpang Tindih )
Menurut Hendri, salah satu target penting adalah bagaimana menggantikan ba tubara secara bertahap yang menjadi andalan utama energi primer. Dimana target pencapaian energi primer yang dibutuhkan akan terus meningkat seiring dengan target pencapaian pertumbuhan ekonomi dalam rangka ketahanan nasional.
"Inilah yang sesungguhnya merupakan target dari transisi energi. Tentu energi primer tersebut harus memiliki kemampuan dan keekonomian yang sama dengan batubara, artinya dapat berfungsi sebagai baseload dan memiliki biaya pembangkitan murah. Hanya ada dua opsi, hydro skala besar dan PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) khususnya generasi ke IV," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (20/10/2020).
Hendri melanjutkan, peran penting nuklir sebagai komponen transisi energi telah dipertegas dalam naskah akademis Rancangan Undang-Undang (RUU) EBT yang mengatakan bahwa nuklir sejalan dengan perspektif transisi energi yang tertulis dalam halaman 46.
(Baca Juga: RUU Energi Baru Dianggap Kena 'Radiasi', Banyak Pasal Soal Nuklir Tumpang Tindih )
Menurut Hendri, salah satu target penting adalah bagaimana menggantikan ba tubara secara bertahap yang menjadi andalan utama energi primer. Dimana target pencapaian energi primer yang dibutuhkan akan terus meningkat seiring dengan target pencapaian pertumbuhan ekonomi dalam rangka ketahanan nasional.
"Inilah yang sesungguhnya merupakan target dari transisi energi. Tentu energi primer tersebut harus memiliki kemampuan dan keekonomian yang sama dengan batubara, artinya dapat berfungsi sebagai baseload dan memiliki biaya pembangkitan murah. Hanya ada dua opsi, hydro skala besar dan PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) khususnya generasi ke IV," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (20/10/2020).
Hendri melanjutkan, peran penting nuklir sebagai komponen transisi energi telah dipertegas dalam naskah akademis Rancangan Undang-Undang (RUU) EBT yang mengatakan bahwa nuklir sejalan dengan perspektif transisi energi yang tertulis dalam halaman 46.
Lihat Juga :