alexametrics

Masih Wacana di Indonesia, The Fed Sudah Cetak Uang untuk Atasi Krisis Covid-19

loading...
Masih Wacana di Indonesia, The Fed Sudah Cetak Uang untuk Atasi Krisis Covid-19
The Fed diperkirakan telah membeli USD3,5 triliun surat berharga pemerintah dengan dolar yang baru dibuat ini untuk membantu menopang perekonomian melemah selama pandemi Covid-19. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Pandemi Covid-19 telah memorakporandakan perekonomian di banyak negara di deluruh dunia. Tak terkecuali di Indonesia, dampak Covid-19 terhadap perekonomian tampak dari merosotnya pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama tahun ini menjadi hanya 2,97%, terendah sejak kuartal I/2001.

Pemerintah menyatakan telah mengalokasikan dana hingga Rp405,1 triliun dalam upaya menangani dampak penyebaran virus corona di Indonesia. Namun, sebagian kalangan menilai dana tersebut masih jauh dari cukup. Beberapa pihak pun muncul dengan ide agar bank sentral mencetak uang Rp600-4.000 triliun untuk mengatasi krisis akibat Covid-19.

Sejauh ini, wacana tersebut mencapat penolakan dari Bank Indonesia (BI). Bank sentral Indonesia tersebut beralasan, mencetak uang tunai secara berlebih dapat mengganggu operasi moneter dan inflasi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun angkat suara dan menyatakan bahwa wacana mencetak uang Rp600 triliun untuk menangani pandemi Corona itu terlalu dini dan belum diperlukan.



Namun, bagaimana dengan langkah negara lain dalam rangka memulihkan diri dari situasi krisis akibat pandemi Covid-19? Untuk diketahui, Amerika Serikat (AS) baru-baru ini juga melakukan "pencetakan" uang dolar besar-besaran. Dilansir dari USA Today, uang ini tidak dicetak secara fisik, tetapi pemerintah AS mencetak uang ini secara virtual dan menginjeksinya ke dalam sistem perbankan komersil.

(Baca Juga: Cetak Uang Demi Atasi Krisis, Ini Untung-Ruginya Kata Ekonom)

Oxford Economics memproyeksikan pada akhir tahun, The Fed telah membeli USD3,5 triliun surat berharga pemerintah dengan dolar yang baru dibuat ini, salah satu dari banyak alat yang digunakan untuk membantu menopang perekonomian melemah selama pandemi Covid-19.

"Seperti kita semua memiliki rekening di bank, begitulah dengan semua bank lain memiliki rekening di The Fed," kata Ekonom Bard College Pavlina Tcherneva di New York, Kamis (14/5/2020).

Pada saat krisis, The Fed justru melakukan pembelian aset besar di pasar terbuka dengan menambahkan dolar elektronik yang baru dibuat ke cadangan bank seperti Wells Fargo, Goldman Sachs, dan Morgan Stanley. Sebagai gantinya, The Fed menerima sejumlah besar obligasi - surat berharga dari Departemen Keuangan AS dan surat berharga agensi yang didukung oleh rangkaian kredit kepemilikan rumah.

Alhasil, pasar yang tadinya terhambat, mulai mengalir lagi dengan lancar. Bank mendapatkan lebih banyak dolar sebagai cadangan dan cenderung untuk meminjamkan uang tanpa rasa khawatir akan menghabiskan dana mereka akibat menjalankan bank dalam situasi panik. Pembelian sekuritas secara besar-besaran oleh The Fed juga secara efektif meningkatkan jumlah uang beredar dan menurunkan suku bunga. Ini membuat biaya pinjaman tetap murah bagi mereka yang membutuhkannya.

"Jika The Fed tidak mengambil langkah-langkah darurat ini dan lainnya, sistem pastinya sudah meledak, dan pasar akan jatuh hingga 10 kali lipat," ujar Ekonom University of Oregon Tim Duy.

Menurut Oxford Economics, sejak pertengahan Maret, The Fed telah membeli sebanyak USD1,4 triliun dalam kas negaranya, yang merupakan sebagian besar dari USD1,6 triliun total kas yang dikeluarkan selama periode itu, untuk mencairkan pasar yang telah membeku karena krisis saat ini. Meski demikian, The Fed tidak membeli sekuritas langsung dari Departemen Keuangan AS. Sebaliknya, pihak The Fed membeli surat berharga yang diterbitkan sebelumnya melalui bank umum.

Selanjutnya, The Fed mencetak dolar untuk membeli utang pemerintah dalam bentuk sekuritas yang sebelumnya diterbitkan oleh Departemen Keuangan AS. Departemen Keuangan kemudian membayar The Fed dengan utang bunga dari sekuritas tersebut. Ketika gilirannya tiba, The Fed diwajibkan secara hukum untuk mengembalikannya ke Depkeu AS dengan keuntungan yang dihasilkan dari Depkeu AS atas sekuritas ini.

Mantan Vice Chairman The Fed Alan Blinder mengatakan bahwa AS tidak mengkhawatirkan terjadinya inflasi yang tinggi akibat keputusan ini. AS dihadapkan situasi dimana angka inflasi rendah, yang justru lebih mengarah ke deflasi.

"Dengan kondisi ekonomi yang begitu turun, dan inflasi yang sangat rendah, kekhawatiran bahwa operasi semacam ini akan menyebabkan inflasi yang tinggi di AS tampaknya sangat tidak masuk akal," kata Blinder.

(Baca Juga: Ini Tanggapan Bos OJK Terkait Cetak Uang Rp600 Triliun)

Namun, Tchnerva menekankan bahwa tidak semua negara bisa menerapkan solusi ini seperti yang dilakukan oleh The Fed. "Tidak setiap negara dapat melakukan ini, hanya bagi mereka yang mengeluarkan mata uang mereka sendiri. Dan tidak ada negara lain yang dapat meminjam uang seperti AS, yang surat berharga dari Treasury-nya diminati di seluruh dunia. Semua tetap ada batasannya," pungkasnya.
(fai)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top