Kondisi Perbankan di 2020, Mesin Pencetak Laba Tidak Berfungsi Maksimal
Selasa, 02 Februari 2021 - 16:30 WIB
loading...
Dalam situasi pandemi Covid-19, kemampuan perbankan untuk mencetak laba tergerus. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan kondisi idnsurti bank sepanjang tahun 2020, kemarin. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Dalam situasi pandemi Covid-19, kemampuan perbankan untuk mencetak laba tergerus. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan dampak pandemi Covid-19 menekan sisi profitabilitas perbankan. Tren penurunan suku bunga dan demand kredit menyebabkan margin bunga bersih alias net interest margin (NIM) perbankan turun.
Hal itu bukan tanpa sebab, permintaan kredit yang melambat dibarengi dengan risiko yang tinggi membuat mesin pencetak laba perbankan tak berfungsi maksimal. Di sisi lain, beban bunga terus bergulir. Alhasil, tidak mengagetkan kalau NIM perbankan menciut.
"Dampaknya pada pertumbuhan Laba Bersih bank tahun 2020 terkontraksi -33,08% dari periode sama tahun lalu. Sehingga dengan demikian, tingkat ROA juga turun," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso di Jakarta, Selasa (2/2/2021).
Baca Juga: Pertumbuhan Kredit Terkontraksi, Tapi Tenang Stabilitas Jasa Keuangan Terjaga
Dia juga menjelaskan, dari sisi kontraksi bank yang paling dalam terlihat pada bank kategori BUMN yang terkontraksi hingga -50,07%. Kondisi ini sejalan dengan proporsi restrukturisasi covid tertinggi yaitu Bank BUMN mendominasi sebesar 30,63%. "Sementara dari kategori BUKU, pertumbuhan laba bersih BUKU 1 dan BUKU 4 terkontraksi paling dalam masing-masing -56,5% dan -37,14%," katanya.
Hal itu bukan tanpa sebab, permintaan kredit yang melambat dibarengi dengan risiko yang tinggi membuat mesin pencetak laba perbankan tak berfungsi maksimal. Di sisi lain, beban bunga terus bergulir. Alhasil, tidak mengagetkan kalau NIM perbankan menciut.
"Dampaknya pada pertumbuhan Laba Bersih bank tahun 2020 terkontraksi -33,08% dari periode sama tahun lalu. Sehingga dengan demikian, tingkat ROA juga turun," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso di Jakarta, Selasa (2/2/2021).
Baca Juga: Pertumbuhan Kredit Terkontraksi, Tapi Tenang Stabilitas Jasa Keuangan Terjaga
Dia juga menjelaskan, dari sisi kontraksi bank yang paling dalam terlihat pada bank kategori BUMN yang terkontraksi hingga -50,07%. Kondisi ini sejalan dengan proporsi restrukturisasi covid tertinggi yaitu Bank BUMN mendominasi sebesar 30,63%. "Sementara dari kategori BUKU, pertumbuhan laba bersih BUKU 1 dan BUKU 4 terkontraksi paling dalam masing-masing -56,5% dan -37,14%," katanya.
Lihat Juga :