Bisnis Pertukaran Awak Kapal Potensial Datangkan Penerimaan Rp10 Triliun
Rabu, 17 Februari 2021 - 21:36 WIB
loading...
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah Indonesia mengincar potensi penerimaan negara dari layanan pertukaran awak kapal (crew change) yang diperkirakan mencapai sekitar Rp10 triliun. Hal itu disampaikan oleh Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Basilio D. Araujo.
Pihaknya juga menyepakati dibukanya lima pelabuhan titik crew change, yakni di Batam, Merak, Tanjung Priok, Benoa dan Makassar.
"Jadi Indonesia bisa dapat potensi pendapatan negara antara Rp5 triliun-Rp10 triliun kalau kita bisa layani fasilitas turun naiknya pelaut," ujar dia dalam konferensi pers virtual, Rabu (17/2/2021). ( Baca juga:Berpotensi Sumbang Devisa 150 Triliun, Kementeriannya Luhut Beri Perhatian Khusus ke Pelaut )
Dia mencontohkan hitungan estimasi penerimaan negara dari kegiatan crew change di Batam atau Selat Malaka yang setiap tahun dilewati sekitar 90 ribu kapal. Kemudian, kata dia dengan estimasi ada lima hingga 10 awak kapal yang naik turun, dengan pengeluaran satu orang sekitar Rp5 juta, maka negara bisa memperoleh Rp2 triliun hingga Rp5 triliun setiap tahun.
"Itu baru di Selat Malaka, padahal sebenarnya potensi di Selat Malaka bisa lebih dari itu. Dan potensi di Selat Malaka sekarang bisa lakukan penukaran awak kapal antara 200-300 orang," ungkap dia.
Pihaknya juga menyepakati dibukanya lima pelabuhan titik crew change, yakni di Batam, Merak, Tanjung Priok, Benoa dan Makassar.
"Jadi Indonesia bisa dapat potensi pendapatan negara antara Rp5 triliun-Rp10 triliun kalau kita bisa layani fasilitas turun naiknya pelaut," ujar dia dalam konferensi pers virtual, Rabu (17/2/2021). ( Baca juga:Berpotensi Sumbang Devisa 150 Triliun, Kementeriannya Luhut Beri Perhatian Khusus ke Pelaut )
Dia mencontohkan hitungan estimasi penerimaan negara dari kegiatan crew change di Batam atau Selat Malaka yang setiap tahun dilewati sekitar 90 ribu kapal. Kemudian, kata dia dengan estimasi ada lima hingga 10 awak kapal yang naik turun, dengan pengeluaran satu orang sekitar Rp5 juta, maka negara bisa memperoleh Rp2 triliun hingga Rp5 triliun setiap tahun.
"Itu baru di Selat Malaka, padahal sebenarnya potensi di Selat Malaka bisa lebih dari itu. Dan potensi di Selat Malaka sekarang bisa lakukan penukaran awak kapal antara 200-300 orang," ungkap dia.
Lihat Juga :