Komisaris BRI Dikukuhkan sebagai Guru Besar UI, Tegaskan Pentingnya Kolaborasi untuk Majukan UMKM
Sabtu, 13 Maret 2021 - 15:45 WIB
loading...
Komisaris PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Rofikoh Rokhim, dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI). Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Komisaris PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Rofikoh Rokhim, dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Sabtu (13/3/2021). Dia menekankan pentingnya kolaborasi lembaga keuangan untuk memperluas akses pelaku UMKM dan ultra mikro dalam mendapatkan pembiayaan.
Dalam pidato berjudul Perbankan dan Keuangan Sosial: Aspek Berkelanjutan untuk Kesejahteraan, dia menyoroti pentingnya penerapan nilai keberlanjutan (sustainability) dilakukan lembaga keuangan khususnya bank dengan menyalurkan pembiayaan untuk UMKM. Pemberian kredit bagi pelaku UMKM akan berdampak pada naiknya tingkat inklusi keuangan masyarakat Indonesia.
Hingga 2019, tingkat inklusi keuangan masyarakat di Indonesia baru mencapai 76,19%. Angka ini dirasa masih kurang, dan perlu ditingkatkan dengan salah satunya melalui jalur pembiayaan secara luas kepada pelaku UMKM dan ultra mikro. (Baca juga; Bos BSI: Tidak Ada PHK Karyawan Bank BRI, Mandiri & BNI Syariah )
“Angka ini menunjukkan bahwa belum semua penduduk Indonesia dapat menikmati akses jasa keuangan, dan sebagian di antaranya bisa jadi merupakan pelaku UMKM. Padahal salah satu penentu keberlangsungan suatu usaha adalah kemampuannya memperoleh akses permodalan yang terjangkau. Data menunjukkan, bahwa UMKM mendapatkan pembiayaan dari perbankan sebesar Rp1.091 triliun pada Desember 2020, yaitu masih sekitar 25% dari total kredit yang disalurkan oleh perbankan,” kata Rofikoh.
Dia menyebut ada empat penyebab sulitnya UMKM mendapat akses pembiayaan formal selama ini. Pertama, adanya information opacity (kekurangan informasi) karena UMKM biasanya tidak masuk audit lembaga perbankan, minim menggunakan teknologi, dan asetnya tidak dijamin.
Dalam pidato berjudul Perbankan dan Keuangan Sosial: Aspek Berkelanjutan untuk Kesejahteraan, dia menyoroti pentingnya penerapan nilai keberlanjutan (sustainability) dilakukan lembaga keuangan khususnya bank dengan menyalurkan pembiayaan untuk UMKM. Pemberian kredit bagi pelaku UMKM akan berdampak pada naiknya tingkat inklusi keuangan masyarakat Indonesia.
Hingga 2019, tingkat inklusi keuangan masyarakat di Indonesia baru mencapai 76,19%. Angka ini dirasa masih kurang, dan perlu ditingkatkan dengan salah satunya melalui jalur pembiayaan secara luas kepada pelaku UMKM dan ultra mikro. (Baca juga; Bos BSI: Tidak Ada PHK Karyawan Bank BRI, Mandiri & BNI Syariah )
“Angka ini menunjukkan bahwa belum semua penduduk Indonesia dapat menikmati akses jasa keuangan, dan sebagian di antaranya bisa jadi merupakan pelaku UMKM. Padahal salah satu penentu keberlangsungan suatu usaha adalah kemampuannya memperoleh akses permodalan yang terjangkau. Data menunjukkan, bahwa UMKM mendapatkan pembiayaan dari perbankan sebesar Rp1.091 triliun pada Desember 2020, yaitu masih sekitar 25% dari total kredit yang disalurkan oleh perbankan,” kata Rofikoh.
Dia menyebut ada empat penyebab sulitnya UMKM mendapat akses pembiayaan formal selama ini. Pertama, adanya information opacity (kekurangan informasi) karena UMKM biasanya tidak masuk audit lembaga perbankan, minim menggunakan teknologi, dan asetnya tidak dijamin.
Lihat Juga :