Nanas Taiwan Lebih Kuat dari Jet Tempur, 'Perang' Lawan China Memanas

Sabtu, 20 Maret 2021 - 22:57 WIB
loading...
Nanas Taiwan Lebih Kuat...
Ini bisa menjadi perselisihan paling panas di dunia mengenai nanas. Dimana bulan lalu, China melarang impor nanas asal Taiwan, dengan alasan terdapat makhluk berbahaya yang ada di dalam buah sehingga mengancam pertanian China. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Ini bisa menjadi perselisihan paling panas di dunia mengenai nanas . Dimana bulan lalu, China melarang impor nanas asal Taiwan , dengan alasan terdapat "makhluk berbahaya" yang ada di dalam buah sehingga mengancam pertanian China sendiri.

Langkah itu membuat marah para pemimpin Taiwan, yang mengatakan langkah itu tidak ada hubungannya dengan serangga. Sebaliknya Taiwan menuding larangan nanas terkait dengan tekanan politik.

Baca Juga: China: Larangan Buah Nanas dari Taiwan Tak Terkait Politik

Sebagai tanggapan, para pemimpin Taiwan mencari konsumen baru di luar negeri, dan meminta penduduk setempat untuk makan apa yang tidak bisa dinikmati konsumen China.

"Nanas Taiwan lebih kuat dari jet tempur. Tekanan geopolitik tidak dapat memeras kelezatan mereka," kata Wakil Presiden Taiwan, Lai Ching-te, dalam sebuah tweetnya.

Menurut Dewan Pertanian Taiwan, tercatat telah memproduksi 420.000 ton nanas setiap tahun, dan mengekspor sedikitnya lebih dari 10% tahun lalu, dengan hampir semuanya menuju China. Tanpa penjualan ke China, petani Taiwan menghadapi kemungkinan banjir pasokan nanas yang berpotensi membuat harganya jatuh.

Kebebasan Nanas

Presiden Tsai Ing-wen meluncurkan "tantangan nanas" di media sosial, yang bertujuan agar konsumen Taiwan membeli lebih banyak buah. Dalam sebuat kicaunnya di Twitter, Ia mengatakan, setelah anggur Australia, praktik perdagangan China yang tidak adil sekarang menargetkan Nanas Taiwan.

"Tapi itu tidak akan menghentikan kita. Apakah dalam smoothie, kue, atau potongan di piring, nanas kami selalu mendapatkan tempat. Dukung petani kami dan nikmati buah Taiwan yang lezat!," tulisnya.

Sementara Menteri Luar Negeri Taiwan Joseph Wu menggunakan akun Twitter Kementeriannya untuk "mendesak teman-teman yang berpikiran sama di seluruh dunia untuk berdiri bersama #Taiwan & melakukan protes di belakang gerakan #FreedomPineapple".

Kedutaan besar de fakto AS dan Kanada di Taiwan dengan senang hati mendukung. American Institute di Taiwan memposting sejumlah gambar ke halaman Facebook-nya, termasuk salah satu direkturnya Brent Christensen dengan tiga nanas di mejanya.

Kantor Perdagangan Kanada di Taipei memposting foto staf mereka yang berpose di dekat pizza nanas, dengan nada sopan mengingatkan bahwa itu adalah ide Kanada daripada Hawaii. "Kami di Kantor Kanada menyukai pizza nanas, terutama nanas dari Taiwan!" demikian dalam sebuah postingan tersebut.

Konsumen Jepang mungkin telah membuat perbedaan terbesar, dengan melakukan pesanan sebesar 5.000 ton yang datang dari Jepang, kata Ms Tsai. "Saya tersentuh oleh semua dukungan terhadap nanas kami dan petani, baik dari Taiwan sendiri maupun teman-teman kita di seluruh dunia," bunyi Tweet Tsai Ing-wen

Banyak pengguna Twitter Jepang juga menyatakan dukungan mereka. "Saya pasti akan membeli beberapa. Saya mencobanya tahun lalu dan menyadari bahwa bahkan intinya dapat dimakan. Sekarang saya suka rasanya yang manis serta berair," tulis salah satu pengguna.

Hanya dalam beberapa hari kampanye pemerintah Taiwan menyebabkan pesanan yang cukup besar untuk menutupi permintaan nanas yang selama ini diekspor ke China. Sementara 90% petani nanas menjual di dalam negeri, sehingga mereka berharap bahwa konsumen tidak bosan dengan rasanya.

Baca Juga: Buah Terlarang: Rakyat Taiwan Diminta Makan Lebih Banyak Nanas

Yang Yufan, seorang petani nanas organik terkenal dari Taiwan Selatan, yang telah dikenal sebagai "pangeran nanas". Dia mengatakan kepada BBC China, bahwa dalam beberapa tahun terakhir petani Taiwan lebih tertarik ke pasar China, karena inspeksi lebih mudah dan lebih cepat daripada di pasar lain seperti Jepang.

Tetapi dia mengatakan, sektor pertanian Taiwan perlu melakukan diversifikasi karena terlalu banyak ekspornya pergi ke China daratan. "Nanas yang kami harapkan untuk panen tahun depan telah ditaburkan tahun lalu, sehingga masalah yang akan kami hadapi tahun depan mungkin akan lebih besar lagi," katanya.

Hama dan Penyakit Asing

China bersikeras nanas Taiwan diblokir karena otoritas bea cukainya telah berulang kali mendeteksi hama pada buah yang berasal dari Taiwan. Ma Xiaoguang, juru bicara Kantor Urusan Bea Cukai Taiwan, menggambarkannya tindakan pencegahan biosafety sebagai hal yang normal.

Namun selama 12 bulan terakhir, China dituduh menggunakan kebijakan perdagangan yang ambigu dan buram untuk menghukum saingannya. Produsen pertanian Australia khususnya khawatir bahwa produk mereka telah dikenai larangan tidak resmi atau standar baru yang tidak masuk akal, sebagai balasan atas kebijakan pemerintah Australia.

Ms Tsai dengan datar menolak klaim China, menunjukkan bahwa 99,97% batch nanas impor lulus inspeksi. Biosecurity adalah area yang luar biasa rumit, karena spesies yang diperkenalkan dapat menyebabkan kerusakan ekonomi sangat nyata, tetapi ada sejarah panjang menggunakannya sebagai senjata dalam sengketa perdagangan.

"Beberapa kekhawatiran ini benar-benar didorong oleh kekhawatiran yang sah atas kemungkinan adanya hama dan penyakit asing yang sebagian besar spesies asli mungkin tidak memiliki pertahanan sama sekali," kata Deborah Elms dari Asian Trade Centre.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, China dan Saudi Aramco Gelar Pertemuan Darurat
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Rekomendasi
Akui Program Pemerintah...
Akui Program Pemerintah Banyak Kekurangan, Wapres Gibran: Kita Perbaiki Bersama
BAIC Pasang Strategi...
BAIC Pasang Strategi Agresif di Indonesia, DP 10%, Potongan Rp50 Juta
Pesawat Pengebom Strategis...
Pesawat Pengebom Strategis Tu-22M3 Rusia Jatuh saat Latihan Penerbangan, Apakah Ada Sabotase?
Berita Terkini
Kebut Program Motor...
Kebut Program Motor dan Kompor Listrik Tahun Depan, Bahlil Anggarkan Rp1,45 Triliun
Hasil Seleksi Pelatihan...
Hasil Seleksi Pelatihan Vokasi Batch 2 Diumumkan 18 Juni 2026, Begini Cara Aksesnya
Harga Tiket Whoosh Pakai...
Harga Tiket Whoosh Pakai Skema Dinamis Sambut Libur Sekolah Plus Long Weekend, Termurah Rp250 Ribu
Bahlil Antisipasi Ledakan...
Bahlil Antisipasi Ledakan Subsidi Energi Tahun Depan, Segini Hitungannya dalam RAPBN 2027
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Jaring Talenta Pelaut Muda Perkuat Distribusi Energi Nasional
Bahlil Jamin Harga BBM...
Bahlil Jamin Harga BBM Pertalite dan LPG 3 Kg Tidak Naik
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved