Masih Belum Bersaing, Akselerasi EBT Butuh Insentif
Senin, 12 April 2021 - 17:49 WIB
loading...
A
A
A
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ego Syahrial yang mewakili Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam diskusi tersebut menegaskan, pemerintah terus mendorong pengembangan EBT. Pemerintah, kata dia, telah dan akan mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk mendorong pengembangan EBT. "Saat ini pemerintah sedang menyiapkan rancangan perpres pembelian tenaga listrik EBT," ujarnya.
Sementara itu, Menteri ESDM Periode 2000-2009 Purnomo Yusgiantoro menyatakan bahwa transisi energi terkait erat dengan dua faktor, yaitu teknologi dan keekonomian. Purnomo mengindikasikan, biaya pembangkitan EBT saat ini masih kalah bersaing dibanding biaya pembangkitan berbasis batu bara, khususnya di wilayah Jawa. Karena itu, menurut Purnomo, transisi energi membutuhkan bahan bakar antara (bridging fuel) semisal gas dan batu bara yang menggunakan teknologi ramah lingkungan. Baca Juga: Presiden Dewan Eropa Michel Sulit Tidur setelah Insiden Sofa di Turki
Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Martiono Hadianto mengatakan, untuk mendorong pengembangan EBT dibutuhkan kolaborasi antarsektor mulai dari sumber daya, pendidikan, perindustrian, hingga perdagangan. "Pendidikan menjadi akar dari penguasaan teknologi dan inovasi," katanya.
Sementara, sejumlah pelaku industri berbasis batu bara menegaskan sudah mulai menjajaki potensi EBT. Contohnya PT Indika Energy Tbk yang mempunyai visi mencatatkan 50% pendapatan dari non-batubara pada 2025.
Indika Energy membangun proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di wilayah anak usahanya, PT Kideco Jaya Agung (Kideco), di Paser, Kalimantan Timur. "Aspek keekonomian EBT dan teknologi baterai semakin murah setiap tahun, hal ini dapat mengakselerasi pengembangan EBT,” kata Direktur Utama Indika Arsjad Rasjid.
Sementara itu, Menteri ESDM Periode 2000-2009 Purnomo Yusgiantoro menyatakan bahwa transisi energi terkait erat dengan dua faktor, yaitu teknologi dan keekonomian. Purnomo mengindikasikan, biaya pembangkitan EBT saat ini masih kalah bersaing dibanding biaya pembangkitan berbasis batu bara, khususnya di wilayah Jawa. Karena itu, menurut Purnomo, transisi energi membutuhkan bahan bakar antara (bridging fuel) semisal gas dan batu bara yang menggunakan teknologi ramah lingkungan. Baca Juga: Presiden Dewan Eropa Michel Sulit Tidur setelah Insiden Sofa di Turki
Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Martiono Hadianto mengatakan, untuk mendorong pengembangan EBT dibutuhkan kolaborasi antarsektor mulai dari sumber daya, pendidikan, perindustrian, hingga perdagangan. "Pendidikan menjadi akar dari penguasaan teknologi dan inovasi," katanya.
Sementara, sejumlah pelaku industri berbasis batu bara menegaskan sudah mulai menjajaki potensi EBT. Contohnya PT Indika Energy Tbk yang mempunyai visi mencatatkan 50% pendapatan dari non-batubara pada 2025.
Indika Energy membangun proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di wilayah anak usahanya, PT Kideco Jaya Agung (Kideco), di Paser, Kalimantan Timur. "Aspek keekonomian EBT dan teknologi baterai semakin murah setiap tahun, hal ini dapat mengakselerasi pengembangan EBT,” kata Direktur Utama Indika Arsjad Rasjid.
(fai)
Lihat Juga :