Indeks Manufaktur RI Mulai Membaik, Ekonom: Jangan Lengah!

loading...
Indeks Manufaktur RI Mulai Membaik, Ekonom: Jangan Lengah!
Ilustrasi. FOTO/SINDOnews
JAKARTA - Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia April 2021 tercatat sebesar 54,6 atau naik dari posisi 53,2 pada Maret 2021. Bahkan, rilis IHS Markit menunjukkan bahwa ada perbaikan permintaan tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga ekspor.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus menilai, kenaikan PMI manufaktur Indonesia sebagai kebangkitan atau titik balik manufaktur di Indonesia. Hal ini juga didorong dengan adanya berbagai insentif dari pemerintah yang dinilai sudah cukup banyak hingga saat ini.

"Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) kendaraan bermotor khususnya mobil ini kan juga disambut baik dan terlihat penjualannya pun meningkat. Nah ini kan salah satu upaya bagaimana untuk meningkatkan pertumbuhan manufaktur," katanya dalam acara Market Review IDX Channel, Rabu (5/5/2021).

Baca Juga: Ekonomi RI Minus 0,74%, Begini Tanggapan Istana

Ahmad menjelaskan, artinya optimisme dari dunia usaha dan dari sisi konsumsi harus dijawab dengan benar oleh semua pihak agar keberhasilan melawan pandemi Covid-19 benar-benar bisa dilakukan. Oleh sebab itu, pengendalian laju penyebaran Covid-19 harus tetap terkendali.



"Pengendalian laju penyebaran Covid-19 tetap harus terjaga terkendali, kemudian program vaksinasi juga terus harus membaik ke depannya, lalu implementasi dari aturan yang ada di UU Cipta Kerja juga harus benar-benar memberikan rasa keyakinan dan optimisme khususnya dari sisi dunia usaha," ujar dia.

Baca Juga: BPS: Ekonomi Pulau Jawa & Sumatera Masih Kontraksi

Lanjutnya, dengan adanya kebangkitan atau titik balik ini diharapkan pada periode-periode ke depan akan semakin meningkat. Ahmad mengimbau, jangan sampai Indonesia menjadi lengah.

"Kita melihat ini sudah cukup baik tau-tau kita lengah, padahal kan kita belum selesai melewati pandemi. Sehingga dikhawatirkan kalau lengah nanti kita bisa menghadapi kekhawatiran gelombang kedua yang bisa menyebabkan penurunan lagi pada berbagai kinerja manufaktur di Indonesia," pungkas Ahmad.
(nng)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top