Industri Sawit Membaik, BWPT Optimis Pendapatan Naik Dua Digit
Kamis, 12 Agustus 2021 - 17:45 WIB
loading...
PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) menggelar Rapat Umum Pemagang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Kamis (12/8/2021). Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Emiten perkebunan PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) optimistis sepanjang tahun ini dapat membukukan pendapatan yang tumbuh hingga double digit (dua digit). Hal tersebut seiring dengan kinerja industri sawit yang kian membaik.
Direktur Eagle High Plantations Henderi Djunaidi mengatakan perseroan berhasil mencatat arus kas operasi positif Rp171 miliar pada 2020, berbalik dari tahun sebelumnya yang negatif Rp759 miliar. Dengan adanya pandemi Covid-19, tahun 2020 adalah tahun yang penuh tantangan. Namun perseroan membuktikan ketahanan dan keberlangsungan usaha yang kuat dimana hal ini akan menjadi modal berharga dalam memanfaatkan momentum titik balik kebangkitan kinerja Perseroan.
Baca Juga : AIIB Kasih Pinjaman Rp2,1 Triliun ke Indonesia Buat Bangun Satelit Multifungsi
“Perseroan berupaya secara konsisten melakukan efisiensi. Hal ini dapat terlihat dari turunnya biaya umum dan administrasi sebesar 23% dibandingkan tahun lalu sehingga perseroan membukukan rugi bersih sebesar Rp1,1 triliun atau lebih baik 5,1% dibandingkan rugi bersih tahun lalu,” kata Henderi Djunaidi pada paparan publik di Jakarta, Kamis (12/8/2021).
Dampak dari langkah strategis perseroan mengatur arus kas operasi positif ditambahkan upaya efisiensi yang konsisten, maka utang bank perusahaan akan berkurang dan laba usaha akan bertambah baik. Langkah strategis ini diharapkan dapat menunjang operational excellence, mencakup capex yang dibutuhkan untuk proses peremajaan mesin, kendaraan angkut dan alat-alat berat demi menunjang produktivitas. Selain itu, pengelolaan operasional kebun dengan praktik agronomi terbaik dikombinasikan dengan penerapan sistem inovasi teknologi akan terus menghasilkan efektivitas serta penghematan biaya.
Henderi menambahkan, perseroan tetap optimis kinerja industri sawit akan membaik, mengingat tingginya kebutuhan pasar ekspor ditambah permintaan minyak sawit untuk konsumsi energi. Peningkatan kebutuhan minyak sawit juga turut didorong penerapan kebijakan pemerintah dengan program B30. Optimisme ini juga ditunjang dengan nilai aset tanaman yang memasuki usia prima dengan rata-rata berusia 11 tahun.
Direktur Eagle High Plantations Henderi Djunaidi mengatakan perseroan berhasil mencatat arus kas operasi positif Rp171 miliar pada 2020, berbalik dari tahun sebelumnya yang negatif Rp759 miliar. Dengan adanya pandemi Covid-19, tahun 2020 adalah tahun yang penuh tantangan. Namun perseroan membuktikan ketahanan dan keberlangsungan usaha yang kuat dimana hal ini akan menjadi modal berharga dalam memanfaatkan momentum titik balik kebangkitan kinerja Perseroan.
Baca Juga : AIIB Kasih Pinjaman Rp2,1 Triliun ke Indonesia Buat Bangun Satelit Multifungsi
“Perseroan berupaya secara konsisten melakukan efisiensi. Hal ini dapat terlihat dari turunnya biaya umum dan administrasi sebesar 23% dibandingkan tahun lalu sehingga perseroan membukukan rugi bersih sebesar Rp1,1 triliun atau lebih baik 5,1% dibandingkan rugi bersih tahun lalu,” kata Henderi Djunaidi pada paparan publik di Jakarta, Kamis (12/8/2021).
Dampak dari langkah strategis perseroan mengatur arus kas operasi positif ditambahkan upaya efisiensi yang konsisten, maka utang bank perusahaan akan berkurang dan laba usaha akan bertambah baik. Langkah strategis ini diharapkan dapat menunjang operational excellence, mencakup capex yang dibutuhkan untuk proses peremajaan mesin, kendaraan angkut dan alat-alat berat demi menunjang produktivitas. Selain itu, pengelolaan operasional kebun dengan praktik agronomi terbaik dikombinasikan dengan penerapan sistem inovasi teknologi akan terus menghasilkan efektivitas serta penghematan biaya.
Henderi menambahkan, perseroan tetap optimis kinerja industri sawit akan membaik, mengingat tingginya kebutuhan pasar ekspor ditambah permintaan minyak sawit untuk konsumsi energi. Peningkatan kebutuhan minyak sawit juga turut didorong penerapan kebijakan pemerintah dengan program B30. Optimisme ini juga ditunjang dengan nilai aset tanaman yang memasuki usia prima dengan rata-rata berusia 11 tahun.
Lihat Juga :