Evergrande Terlilit Utang Rp4.270 Triliun, Adakah Imbasnya ke Sektor Properti RI?

loading...
Evergrande Terlilit Utang Rp4.270 Triliun, Adakah Imbasnya ke Sektor Properti RI?
Belakangan ini publik pasar modal dihebohkan dengan isu krisis keuangan grup properti terbesar kedua di China, Evergrande yang memiliki total utang Rp4.270 Triliun. Apakah ada efeknya buat industri properti di Tanah Air. Foto/Dok
JAKARTA - Belakangan ini publik pasar modal dihebohkan dengan isu krisis keuangan grup properti terbesar kedua di China , Evergrande yang memiliki total utang mencapai USD300 miliar atau setara Rp4.270 Triliun. Jumlah utang tersebut mencapai setidaknya 2% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pemerintah China yang sedikit-banyak relatif menghasilkan beban keuangan negara.

Sejumlah analis luar membaca ada 4 kemungkinan ke depannya terkait nasib korporasi tersebut yaitu, (1) bangkrut, (2) berhenti sementara, (3) buy-out (pelepasan aset yang dimiliki/pengambilalihan), atau (4) bailout (ditalangi oleh pemerintah).

Baca Juga: Punya Utang Jumbo Capai Rp4.270 Triliun, Akankah Evergrande Mengulang Krisis 2008?

Senior Technical Analyst PT Henan Putihrai Sekuritas, Lisa C. Suryanata membaca, persoalan Evergrande tidak serta-merta berdampak langsung terhadap sektor properti dan permodalan properti di Indonesia. Dirinya mencermati pemerintah China bisa melakukan bailout untuk mengatasi masalah tersebut.



"Meski utangnya itu sendiri mencapai 2 persen dari PDB China, kemungkinan akan menghasilkan beban keuangan China, tapi tampaknya pemerintah China sudah lebih gercep dan gesit untuk menyuntikkan likuiditas di pasar properti dan dampaknya di perusahaan properti di Indonesia tidak ada, karena Evergrande tidak punya properti di Indonesia," kata Lisa..

Lisa memandang justru sektor properti di pasar modal Indonesia telah mengalami kenaikan imbas pelonggaran pembatasan mobilitas. Sementara pelemahan yang terjadi, menurutnya hanya bentuk koreksi wajar yang biasanya hadir akibat aksi jual.

"Sebenarnya tren saham properti di Indonesia sudah menunjukkan kenaikan, dan penurunannya di saham-saham properti kita adalah efek umum saja, karena semua sektor hari ini belakangan sudah mulai menunjukkan pelemahan, dan saham-saham properti kemarin-kemarin sudah mulai naik, jadi ini sangat normal," lanjutnya.

Baca Juga: China Batasi Remaja Bermain TikTok hanya 40 Menit Sehari

Menurutnya, sentimen domestik dapat memacu peningkatan properti di Tanah Air sejalan dengan aturan baru anak di bawah 12 tahun boleh masuk ke dalam pusat perbelanjaan.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top